Kawasan Candi Muarajambi sendiri telah ditutup sejak dua bulan lalu akibat pandemi virus corona.
"Ada imbauan tidak boleh mengumpulkan massa," kata Pamong Budaya Muda pada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi Andreas Novi Hariputranto
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdul Haviz, pemuda pelestari cagar budaya mengaku keputusan peniadaan Waisak di Candi Muarajambi adalah langkah tepat. Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 harus dilakukan oleh semua umat beragama.
"Tahun ketiga yang bertepatan dengan Ramadan tidak digelar perayaan Waisak. Biasanya sehari menjelang Waisak sudah ramai persiapan," jelas pria yang akrab disapa Ahok ini.
Diakuinya, keputusan peniadaan peribadatan di kompleks percandian terluas di Asia Tenggara itu dilakukan untuk mencegah pandemi Covid-19 yang belum mereda.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Umat Buddha Jambi Rudy Zhang mengatakan, meski perayaan Waisak tidak bisa dilakukan secara bersama-sama di kompleks percandian Muarajambi, namun tidak mengurangi khidmat beribadah.
"Semoga masalah pandemi ini secepatnya berlalu, sehingga kita semua bisa aktivitas normal kembali, dan yang sakit segera disembuhkan," ujar Rudy Zhang.
Selama musim pagebluk Covid-19 itu, komplek percandian Muarajambi sudah dua bulan lebih ditutup, baik untuk peribadatan maupun kunjungan wisata. Meski ditutup, pemeliharaan bangunan cagar budaya peninggalan sejarah tetap dilakukan. (epu/bmw)