Menurut dia, hal itu menyebabkan penyaluran bansos kepada masyarakat terdampak menjadi tidak efektif.
"Jadi bansos-bansos ini menjadi panggung politik antara pihak-pihak dari pemerintah pusat dan pemprov," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (7/5)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, kata dia, masa pandemi corona di Indonesia tidak diketahui kapan akan berakhir.
Selain ego sektoral, kata dia, penyaluran bansos tidak berjalan baik juga disebabkan karena persoalan data yang belum di-update hingga birokrasi yang berbelit. Akibatnya, masyarakat di lapagan menjadi bingung.
"Soal pendataan itu perlu diupdate lagi. Birokrasi juga awalnya (masyarakat) KTP DKI yang bisa menerima, kemudian ditambah lagi non DKI. Akhirnya bantuan harus nunjukkan KTP, birokrasi ini membuat penerima bingung," ucap dia.
"Iya tidak ada hal yang sempurna. Yang selalu saya evaluasi, mana yang kurang saya minta untuk segera diperbaiki. Tetapi sekali lagi Pemerintah Pusat, Kementerian, tidak bisa bekerja sendirian, harus melibatkan Pemerintah Daerah, Provinsi, Kabupaten/Kota, dan seluruh masyarakat harus terlibat semuanya," kata Jokowi kala itu.
Sebelumnya diberitakan, tiga menteri dalam Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden Joko Widodo memaparkan sejumlah keganjilan mengenai penyaluran bantuan sosial (bansos) oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta meminta pemerintah pusat menanggung semua bansos untuk diberikan kepada warga DKI Jakarta terdampak pandemi virus corona (Covid-19).
Menteri Sosial Juliari Batubara juga menyatakan penyaluran bansos oleh Pemprov DKI Jakarta tak sesuai dengan kesepakatan awal antara pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta.
Sementara Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengaku sempat menegur Gubernur Anies Baswedan terkait data penerima program bansos.