Doni mengungkapkan Jakarta saat ini hanya menyumbang 39 persen dari kasus virus corona secara nasional. Sebelum pelaksanaan PSBB, pada 5 April lalu, kasus terkonfirmasi positif DKI adalah 50 persen dari nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari jumlah tersebut, sebanyak 973 dinyatakan sembuh, kemudian 3.857 lainnya masih dirawat, dan 360 meninggal dunia.
"Yang meninggal 82 persen, yang sembuh 59 persen," ungkapnya.
Oleh karena itu, gugus tugas mengharapkan inisiatif pemerintah daerah yang mengalami peningkatan kasus positif untuk mengusulkan PSBB ke Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga diharapkan berinisiatif mempersiapkan diri sebelum meminta izin pemberlakuan PSBB dan melakukan koordinasi dengan lebih baik.
"Hal ini kita upayakan agar tidak terjadi tumpang antar daerah, di mana ada yang menurun, sudah sangat berkurang, lantas akan bisa kembali lagi apabila ada perubahan mobilisasi dari masyarakat," kata Doni.
Terpisah, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, kurva penyebaran virus corona (covid-19) melandai didasarkan pada tren penurunan jumlah kasus tiap minggu.
Dia bilang berdasarkan data April lalu, tren kasus corona dari 10 provinsi terbanyak di Indonesia cenderung menurun.
"Jadi sebenarnya yang dimaksud kurva melandai adalah tren yang dilihatnya tak bisa harian namun mingguan," ujar Wiku dalam jumpa pers melalui siaran langsung akun Instagram Sekretariat Kabinet.
Kecenderungan kurva corona melandai ini pun sempat disinggung Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy pada Jumat (8/5) lalu.
Muhadjir mengungkapkan kecenderungan penurunan kasus corona dan kenaikan tingkat kesembuhan. Kurva tertinggi kasus corona per hari disebut tak pernah lebih dari 500 kasus.
Wiku menuturkan jumlah kasus corona pada April lalu memang sempat meningkat dengan jumlah terbanyak dari DKI Jakarta. Namun setelah itu jumlah kasus kemudian sedikit melandai. Ia menduga jumlah kasus di Jakarta sempat meningkat lantaran jumlah pengujian spesimen juga semakin banyak.
"Apabila tren mingguan makin lama makin turun, tidak harus banyak tapi menurun terus itu yang disebut melandai. Kalau konteks laju penambahan turun, otomatis jumlah kumulatif stagnan dan landai," katanya.
Sementara di Jawa Barat, lanjut Wiku, jumlah kasus sempat turun namun kemudian kembali naik sepekan terakhir. Menurutnya, pergerakan data ini semestinya bisa menjadi navigasi untuk menunjukkan kecenderungan tren corona di Indonesia.
Secara kumulatif, jumlah kasus positif terinfeksi virus corona di Indonesia hingga Minggu (10/5) mencapai 14.032 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.361 masih dirawat, 2.698 dinyatakan telah sembuh, dan sebanyak 973 lainnya meninggal dunia. (wis)