"Ini sebuah langkah mundur, kami (epidemiolog) melihat ini sebuah kebijakan yang kontraproduktif. Justru usia di bawah 45 tahun adalah usia yang berisiko tertular. Biasanya pada usia ini ditemukan tanpa gejala sehingga menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala) dan bisa menularkan pada orang lain," ujar Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Hermawan Saputra saat dihubungi CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan bakal memberi izin pada kelompok usia di bawah 45 tahun untuk tetap bekerja di tengah pandemi virus corona.
"Kelompok muda usia di bawah 45 tahun mereka secara fisik sehat, punya mobilitas tinggi dan rata-rata kalau toh terpapar belum tentu sakit," ujar Doni dalam jumpa pers melalui siaran langsung akun Instagram Sekretariat Kabinet, Senin (11/5).
Ditambah lagi, angka kematian akibat corona dari kelompok usia dibawah 45 tahun ini hanya 15 persen. Angka kematian tertingi sebesar 45 persen berasal dari kelompok usia 60 tahun ke atas.
Sementara bagi warga yang berusia 46 tahun ke atas tetap diminta untuk menjaga diri dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan mengikuti protokol kesehatan.
Sementara itu, Peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Iqbal Elyazar meminta pemerintah bisa mengoptimalkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah dilakukan. Optimalisasi ini, kata dia, perlu dilakukan hingga vaksin untuk mengobati virus tersebut ditemukan.
"Saya melihat PSBB itu pilihan kita, optimalisasi PSBB yang harus dipertahankan," kata Iqbal dalam konferensi pers Koalisi Warga untuk Covid-19 yang disiarakan melalui aplikasi teleconference, Senin.
Iqbal mengatakan penerapan PSBB jika dilakukan dengan benar sebetulnya bisa menekan penyebaran virus corona. Apalagi, kata Iqbal, dari catatannya ada sekitar 50 persen pengurangan aktivitas di luar rumah yang di lakukan masyarakat di beberapa wilayah Pulau Jawa.
"Di daerah lain optimsalisi PSBB itu yang belum berjalan optimal, kita butuh sampai 80 persen, kita belum melihat itu. Jadi, masih ada ruang perbaikan PSBB," kata dia.
Hal sama juga diungkapkan pakar epidemiologi Universitas Padjadjaran Panji Fortuna Hadisoemarto. Dia mengatakan physical distancing memang menjadi satu-satunya metode yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia saat ini untuk mengurangi penularan Covid-19 sebelum vaksin ditemukan
Walaupun begitu, Panji mengatakan dalam penerapatan kebijakan ini tetap harus memerhatikan aspek lain yakni kebutuhan masyarakat dalam hal perekonomian, sosial, politik, hingga keamanan.
"Idealnya adalah kondisi yang diperlukan harus disiapkan. Bansos harus jalan, keberlangsungan hidup jalan, penghidupan juga harus terjamin," kata Panji.