Ada Dugaan Perdagangan Orang di Kasus WNI ABK Kapal China

CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 18:57 WIB
Barang bukti kasus perdagangan manusia jaringan internasional yang diamankan dalam rilis di Gedung Sementara Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis. 10 Agustus 2017. Satgasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Bareskrim Polri mengungkap jaringan internasional kejahatan perdagangan manusia dengan korban yang akan kirim ke Abu Dhabi dan Suriah. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono. Ilustrasi. Polisi menemukan sedikitnya tiga bukti pendukung yang mengarahkan insiden ekploitasi WNI ABK di Kapal China ke kasus perdagangan orang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polri menemukan tiga bukti yang mengarah pada dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dalam insiden eksploitasi terhadap anak buah kapal (ABK) Indonesia di kapal pencari ikan China, Longxing 629.

"Iya (sudah menemukan tiga bukti), keterangan saksi, surat, dan petunjuk. Ada peristiwa tindak pidana perdagangan orang," ujar Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo saat dihubungi wartawan, Rabu (13/5).

Kendati demikian, dia tidak menjelaskan secara rinci bukti-bukti tersebut yang telah ditemukan oleh penyidik dalam kasus ini.


Sejumlah bukti itu didapatkan usai penyidik pada Satuan Tugas TPPO melakukan gelar perkara dan melewati masa penyelidikan. Status kasus tersebut dapat ditingkatkan menjadi penyidikan.
Selanjutnya, kata dia,kepolisian pun akan mengirim Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada Jaksa Penuntut Umum.

"Kami juga akan membuat laporan polisi model A karena ada temuan peristiwa pidana," kata Ferdy.

Polisi memastikan akan mulai melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang diduga terkait untuk dimasukkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Termasuk juga meminta keterangan dari 14 ABK WNI yang diduga menjadi korban dari peristiwa eksploitasi tersebut.

"Besok baru BAP, Hubla (Ditjen Perhubungan Laut), Imigrasi Pemalang dan Tanjung Priok, Syahbandar," lanjut dia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pernah mengungkapkan bahwa tindakan eksploitasi yang dialami oleh ABK di kapal pencari ikan China itu berupa gaji yang tidak sesuai kontrak dan waktu bekerja lebih dari 18 jam.

Retno mengatakan berdasarkan informasi awal dari ABK, beberapa dari mereka ada yang belum menerima gaji sama sekali. Sebagian lainnya menerima gaji yang tidak sesuai kontrak.

"Ada permasalahan gaji. Sebagian dari mereka belum menerima gaji sama sekali, sebagian lainnya menerima gaji namun tidak sesuai dengan angka yang disebutkan di dalam kontrak yang mereka tandatangani," kata Retno dalam konferensi pers virtual, Minggu (10/5).

Saat ini 14 awak kapal dari Indonesia yang diduga mengalami eksploitasi ketika bekerja di kapal ikan China sudah tiba di Tanah Air. Mereka sedang menjalani karantina di asrama milik Kementerian Sosial.

Belasan ABK WNI itu termasuk dari total 46 WNI yang bekerja di empat kapal ikan China yakni Long Xing 629, Long Xing 605, Tian Yu 8, dan Long Xing 600.

Keempat kapal tersebut diduga mengeksploitasi para ABK WNI mulai dari menerapkan jam kerja berlebih, upah kecil di luar kontrak, hingga pelanggaran hak asasi manusia. (mjo/ain)

[Gambas:Video CNN]