Dalam catatan Ombudsman, hingga 12 Mei 2020 sebesar 72 persen aduan yang masuk terkait bantuan sosial merupakan persoalan tidak tepat sasaran.
Rifai menjelaskan pengaduan terkait bansos berasal dari warga yang tidak mendapat bansos padahal terdaftar di RT atau RW setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, dalam rangka pemulihan ekonomi, Ombudsman menilai bansos baik berupa sembako atau bantuan langsung tunai (BLT) dapat meringankan beban ekonomi warga. Ditambah lagi, selama work from home warga lebih banyak menggunakan listrik dan kuota.
![]() |
Sejak awal pendistribusian bansos untuk warga yang terdampak Covid-19 terkendala data. Menteri Sosial Juliari Batubara mengatakan perbedaan data penerima bansos dimungkinkan terjadi akibat dinamika politik.
Juliari menilai, dinamika politik di daerah menjadi salah satu penyebab desa tidak terdata dalam program bantuan sosial.
Sementara itu, penolakan bansos sempat terjadi oleh Kepala Desa di Sukabumi, Jawa Barat. Mereka meminta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menunda penyaluran bansos karena dinilai masih ada data yang keliru.
"Intinya kami minta menunda pelaksanaan pembagian bansos sampai ada data yang valid," ujar Sekretaris Dewan Pengurus Cabang (DPC) Asosiasi Pemerintah Desa (Apdesi) Sukabumi, Tutang Setiawan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (29/4). (mln/gil)
