Hal itu, kata dia, sempat membuat harga bahan pangan di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia Barat dan Tengah.
"Saya katakan agak sedikit ke (bagian) Timur ada harga yang agak sedikit berbeda dengan wilayah Barat dan Tengah. (Harga) Ada sedikit lebih tinggi," kata Daniel dalam siaran langsung dengan CNNIndonesia TV, Rabu (13/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, kata dia, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana untuk memudahkan pendistribusian bahan pokok menuju daerah-daerah di bagian Timur, seperti Tol Laut.
Semestinya, sambung dia, fasilitas itu dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para pelaku usaha sehingga dapat mendistribusikan kebutuhan pokok secara lebih merata.
"Tapi so far so good sekarang sudah mulai merata, harga sudah mencapai dari apa yang diharapkan masyarakat gitu," kata dia.
"Ya kalaupun ada perbedaan, perbedaan dalam batas wajar," tambah dia lagi.
Dalam hal ini, Daniel menjelaskan bahwa pihak kepolisian bertugas dalam melakukan pengawasan terhadap peredaran harga bahan makanan pokok di masyarakat sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang. Polisi, kata dia, dapat menindak oknum-oknum yang memanfaatkan situasi pandemi covid-19 untuk mengerek harga secara ugal-ugalan.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan sejumlah daerah di Indonesia mengalami defisit pasokan bahan pokok. Hal itu dia ungkapkan dalam Rapat Terbatas tentang Lanjutan Pembahasan Antisipasi Kebutuhan Bahan Pokok di Istana Bogor, Selasa (28/4).
Jokowi menyebut defisit sudah terjadi pada pasokan beras, jagung, cabai, bawang merah, telor ayam, gula pasir dan bawang putih. Untuk beras, defisit pasokan sudah terjadi di 7 provinsi.
Untuk jagung, defisit terjadi di 11 provinsi, cabai besar 23 provinsi, bawang merah 1 provinsi, telor ayam di 22 provinsi, gula pasir 30 provinsi dan bawang putih di 31 provinsi.