Menteri Agama Fachrul Razi dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI bersama Kemenag, Senin (11/5), mengaku sedang mempertimbangkan untuk membuka pembatasan di masjid dan rumah ibadah lain. Dia membandingkannya dengan relaksasi yang sudah dibuat pada bidang transportasi.
"Misalnya relaksasi di sarana perhubungan, relaksasi di mal, nanti kami coba tawarkan juga ada relaksasi rumah ibadah, tapi belum kami ajukan, tapi kami sudah punya ide itu," kata Fachrul dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI bersama Kemenag, Senin (11/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Betul, boleh tidak salat, karena hukumnya sunnah. Tapi Menag menyarankan untuk tetap salat di rumah, karena hukumnya sunnah muakkadah, sangat dianjurkan," ucap Fachrul menjawab pertanyaan CNNINdonesia.com lewat pesan singkat, Rabu (13/5).
Menteri Agama Fachrul Razi sempat mengaku mempertimbangkan untuk membolehkan kegiatan ibadah di masjid (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra) |
Namun yang terjadi dalam kasus Salat Idul Fitri ini, pemerintah cenderung melepas tanggung jawab. Sebab tidak ada rencana jelas yang dibuat untuk menekan kemungkinan terburuk.
"Ketika pemerintah memberikan pilihan, ada sebagian tanggung jawab yang dilempar kembali ke publik. Cuma kan problemnya apakah pilihan itu fatal? Kita bisa lihat kan, kalau sifatnya fatal begitu kan sebenarnya nyerah saja pemerintah," kata Kunto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/5).
Misalnya ada aturan jarak antarsaf, minimal pintu keluar masuk, dan aturan pakai masker. Kemudian ada pihak yang ditugaskan untuk mengawasi setiap lokasi Salat Id.
"Kalau pilihannya rasional, protokolnya oke, itu berarti pemerintah sudah hati-hati, prudent. Kalau sudah begitu, pemerintah sudah bisa bilang tingkat kedisiplinan masyarakat yang menentukan sukses atau tidaknya," tutur Kunto.
Dihubungi terpisah, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin melihat kebijakan soal Salat Id ini ambigu karena pemerintah tidak profesional dalam mengelola komunikasi publik.
"Ini artinya pemerintah tidak mengelola komunikasi secara profesional. Banyak pejabat yang masing-masing bicara, lalu juga bertabrakan," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/5).
Senada dengan Kunto, Ujang menilai ada kesan pemerintah memberi pilihan-pilihan berbahaya terhadap rakyat. Menurut dia, seharusnya pemerintah tegas dalam membuat kebijakan di saat pandemi.
"Misalnya dengan jarak sekian, protokol sekian, ada rambu-rambu. Itu sebenarnya guna ada pemerintah, gunanya ada negara," ucap Ujang.
Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta salat Idul Fitri dilakukan di rumah, tak seperti pernyataan Menag Fachrul Razi yang tengah mempertimbangkan kegiatan ibadah di masjid dibolehkan kembali (CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan) |
Luka Lama Kelompok Islam
Kunto menilai kegamangan kebijakan Salat Id terjadi karena prioritas pemerintah terbelah. Di satu sisi, pemerintah hendak membuka sektor perekonomian guna meredam dampak corona.
"Pemerintah Jokowi ini jelas punya masalah dengan kelompok-kelompok Islam yang lebih keras. Kalau ekonomi direlaksasi, tapi ibadah enggak, pasti backlash, efeknya pasti buruk terhadap pemerintah," ucapnya.
Namun dalam praktiknya, pemerintah tidak mengambil putusan yang tegas. Ujang menilai kebijakan yang abu-abu ini hanya akan merugikan pemerintah sendiri.
"Kepercayaan publik kepada pemerintah akan tergerus. Masyarakat akan tidak patuh lagi, jalan sendiri. Ini yang bahaya," Ujang menyampaikan.
Menteri Agama Fachrul Razi sempat mengaku mempertimbangkan untuk membolehkan kegiatan ibadah di masjid (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta salat Idul Fitri dilakukan di rumah, tak seperti pernyataan Menag Fachrul Razi yang tengah mempertimbangkan kegiatan ibadah di masjid dibolehkan kembali (CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan)