"Yang kami siapkan baru rencana atau skenario pelonggaran yang akan diputuskan setelah timing yang tepat dan melihat fakta, data-data di lapangan. Biar semua jelas. Kami harus hati-hati, jangan keliru kami memutuskan," ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas terkait Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19 melalui siaran akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi mengatakan pemerintah masih fokus pada kebijakan larangan mudik dan pengendalian arus balik selama dua pekan ke depan. Mantan wali kota Solo itu telah memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto agar larangan mudik berjalan efektif.
Jokowi pun mengingatkan agar rencana pelonggaran penerapan PSBB di sejumlah daerah ini hati-hati dan tak tergesa. Sejauh ini terdapat 27 kabupaten/kota dan 4 provinsi yang telah menjalankan PSBB.
Ia juga telah menyampaikan agar masyarakat menyesuaikan dan hidup berdampingan dengan Covid-19 ketika mulai beraktivitas kembali. Menurutnya, hidup berdampingan dengan virus corona bukan berarti masyarakat menyerah, tetapi menjadi titik awal kehidupan baru.
Hingga kemarin, jumlah kumulatif kasus positif virus corona di Indonesia mencapai 17.514 kasus atau bertambah 489 kasus dari hari sebelumnya. Dari jumlah itu, 4.129 dinyatakan sembuh dan 1.148 orang lainnya meninggal dunia.
Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah soal pelonggaran aktivitas sosial, kondisi di lapangan menunjukkan sebaliknya. Di Jakarta dan Bogor selaku wilayah dengan penerapan PSBB, misalnya, menunjukkan fenomena masyarakat tak lagi peduli dengan imbauan jaga jarak sebagaimana diatur dalam PSBB.
Kondisi tersebut terlihat dari kondisi Pasar Tanah Abang dan Pasar Anyar Bogor. Masyarakat pada Minggu (18/5) tumpah ruah ke jalanan memadati lapak-lapak penjual baju. Mereka berdesakan seolah tidak sedang dalam situasi penyebaran wabah. (psp/fra)