Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menganggap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya mengubah pola hidup selama krisis ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan itu seperti rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker saat terpaksa harus berpergian di luar rumah, menghindari kerumunan massa, dan juga menjaga jarak fisik saat berinteraksi dengan orang lain (physical distancing).
Yuri menjelaskan bahwa salah satu alasan diperlukannya kebiasaan normal yang baru terkait pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO). WHO sebelumnya menyatakan bahwa penyakit yang telah menjadi pandemi global ini tidak akan bisa hilang dalam waktu singkat.
Oleh sebab itu, masyarakat harus memaknai hal tersebut untuk tidak menyerah terhadap keadaan, namun mencoba untuk hidup berdampingan dengan situasi saat ini.
"Mengubah budaya dasar kita, menuju budaya dasar baru atau kehidupan normal baru ini jadi lebih penting. Mari bersama-sama kita pahami ini," kata Yuri.
Dengan tetap fokus pada penerapan protokol kesehatan, kata dia, maka dapat terlihat pengendalian terhadap angka penambahan kasus positif baru yang secara sistematis akan terus menurun.
"Kita harus tetap produktif dan aman dari Covid-19, ini yang disebut normal yang baru," pungkas dia.
Presiden Joko Widodo pun sebenarnya sempat menyinggung terkait dengan persiapan the new normal selama masa pandemi Covid-19. Menurut dia, kehidupan yang berdampingan dengan Covid-19 harus dilakukan selama vaksin virus itu belum ditemukan.
"Tapi, kehidupan yang berbeda itu bukanlah kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan. Kita kembalikan produktivitas kita dengan optimisme karena kita tetap menerapkan berbagai mekanisme pencegahan," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, yang disiarkan akun Youtube Sekretariat Presiden, pada Jumat (15/5)
WHO pun telah memberikan pedoman bagi negara-negara soal penerapan the New Normal.
Jika sebuah negara tidak bisa memastikan pedoman transisi tersebut terpenuhi, harus berpikir kembali sebelum memutuskan melonggarkan pembatasan dan memasuki kondisi the new normal.
WHO sendiri menentang strategi kekebalan kelompok (herd immunity) yang diterapkan sejumlah negara untuk mengatasi pandemi virus corona. Cara itu dinilai berisiko diterapkan sepanjang belum ada vaksin untuk corona. (mjo/bac)