"Iya [khawatir], kebakaran di atas tempat saya pertama kali, mau salat subuh ada api," kata salah satu warga yang mengungsi, Wardoyo dikutip dari siaran CNNIndonesia TV, Rabu (20/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa warga juga memilih tidur dekat dengan rumah masing-masing yang dilalap si jago merah karena takut barang yang masih tersisa dibawa kabur pencuri.
"Edukasi sudah kami berikan bersama Puskesmas Kecamatan Tambora terkait physical distancing, kami juga pelan-pelan mengatur cara tidur, jarak daripada pengungsi serta tetap menggunakan masker," kata Andre.
Tercatat sebanyak 466 warga dari 153 kepala keluarga (KK) menjadi korban kebakaran di Kelurahan Jembatan Besi. Juru bicara posko warga kebakaran Kelurahan Jembatan Besi, Dimas Suryana mengatakan terdapat empat lokasi pengungsian untuk para korban.
Dimas membenarkan perilaku warga masih belum mematuhi protokol kesehatan Covid-19 karena tidur tanpa jarak aman di pengungsian. Lokasi pengungsian tersebar di Kantor Kelurahan Jembatan Besi, rumah dinas Jembatan Besi, Pos RW serta Musala terdekat dari lokasi kebakaran.
"Karena adanya musibah jadi penerapan [physical distancing] itu masih menghiraukan lah dari masyarakatnya, karena musibah kan," ujarnya.