"Kita sebenarnya kalaupun tidak bisa sekarang, kita bisa menundanya. Insyaaallah pemerintah akan menggeser libur lebaran ini. Mungkin ke saat nanti libur panjangnya digeser ke Iduladha, jadi lebaran haji," Ma'ruf dalam keterangan video yang dipublikasikan Setwapres, Rabu (20/5).
"Jadi kita tinggal menggeser sedikit. Mudah-mudahan [saat] Iduladha Corona-nya sudah hilang sehingga kita bisa bertemu [untuk] bersilaturahim, hanya menggeser waktunya," imbuh dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi syukur alhamdulillah, kita sekarang walaupun tidak bisa bertatap muka, kita [dapat] bersilaturahim melalui media secara virtual. Kita bisa melalui WA (aplikasi WhatsApp), melalui telepon, bahkan kita bisa melalui teleconference," tuturnya.
Daftar hari libur 2020 sebelum direvisi akibat pandemi. (CNNIndonesia/Basith Subastian) |
"Diharapkan tidak berkunjung ke keluarga, handai taulan [saat Idulfitri]. Terlebih lagi bertemu dengan sanak saudara akan membuka pintu kembali masuknya atau bisa saja menularkan virus Covid-19," kata Muhyiddin.
Sebelumnya, rencana sejenis diungkapkan oleh Kepala Staf Presiden Moeldoko. Ia mengusulkan opsi cuti lebaran Idulfitri digabung dengan Iduladha kepada Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas yang digelar Senin (4/5).
Merespons ide-ide tersebut, Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Pandu Riono, menilai ide menggeser cuti lebaran Idulfitri ke Iduladha itu berisiko karena kurva kasus pandemi Virus Corona belum menurun.
"Kita belum tahu kapan kita akan mereda, belum tahu kapan pelonggaran PSBB. Kurva belum melambat juga kan," ujar dia, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (5/5).
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
"Kalau perlu tahun ini enggak ada cuti. Tahun depan enggak ada cuti. Tradisi ini kita hilangkan saja karena ada faktor risiko, hidup kita sudah beda enggak seperti dulu. Mungkin kebijakan cuti bersama sudah enggak relevan lagi sekarang atau di masa mendatang," cetusnya.
Dia pun meminta Pemerintah untuk lebih memikirkan kebijakan yang lebih prioritas ketimbang mengurus hal-hal seperti cuti.
"[Kebijakan] cuti enggak penting. Jadi jangan memikirkan itu. Cuti kan bisa kapan saja. Memutuskan kebijakan yang perlu dulu sekarang ini," tandasnya.
China, dengan penanganan Corona yang ketat, misalnya lewat lockdown dengan sanksi tegas, serta tes massal, butuh lebih dari 4 bulan untuk membuat nol kasus Corona. Itu pun masih ada gelombang Corona berikutnya akibat kasus impor.
Sementara, Indonesia yang diklaim mulai memiliki kasus Corona awal Maret, hanya menerapkan PSBB di wilayah tertentu, dengan banyak kasus pelanggaran protokol kesehatan, dan tes Corona yang bahkan belum mencapai target 10 ribu per hari.
(rzr/arh)

Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen