Demikian diutarakan Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko. Ia mengatakan dua belah pihak sudah menjalin komunikasi, dan sepakat menahan diri.
"Sebetulnya kedua belah pihak sudah menjalin komunikasi, masing masing masing menahan diri dengan adanya kesalahpahaman ini," kata Truno, di Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedua belah pihak sudah menyatakan untuk saling memaafkan ya, harapan juga tanpa syarat. Artinya semua yang terjadi ini tujuannya kan kita untuk menyelamatkan masyarakat juga dan juga keluarganya," katanya.
"Habib Umar Abdullah Assegaf itu sudah kami lakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kapolres Pasuruan Kabupaten ya. Kemudian juga dengan yang Satpol PP Kota Surabaya, kami juga melakukan pendekatan melalui Polrestabes Surabaya," ujar Truno.
Atas kejadian ini, Truno pun berharap kedua pihak bisa saling bersama-sama kembali berupaya meningkatkan kewaspadaan dan kedisiplinan dalam mengurangi risiko penularan Covid-19.
"Serta baik dari petugas kita melakukan evaluasi tentang bagaimana human relation-nya, atau hubungan dengan masyarakat lain, juga masyarakat dibutuhkan kedisiplinan dan kesadaran yang sebagaimana diuraikan oleh Kapolda Jawa Timur," kata dia.
Sementara itu, CNNIndonesia.com telah berupaya mengonfirmasi hal ini ke Kepala Satpol PP Surabaya, Eddy Christijanto. Namun hingga kini yang bersangkutan tidak memberikan respons. Sebelumnya, Eddy mengaku petugas gabungan telah melaporkan Habib Umar ke Mapolda Jatim.
Di sisi lain, kami juga berupaya mengonfirmasi ke pihak Habib Umar Abdullah Assegaf, melalui telepon dan pesan singkat. Namun yang bersangkutan tak kunjung memberikan respons.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko membenarkan bahwa orang yang terlibat baku pukul adalah Habib Umar Abdullah Assegaf, pimpinan organisasi keagamaan di Pasuruan. Hal itu didapat dari hasil penelusuran nomor polisi di mobil yang dipakai Umar. (frd/kid)