Sandiaga Berbagi Resep Pilpres 2024 di Tengah Corona

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 01:09 WIB
Politikus Gerindra Sandiaga Uno memberikan keterangan pada wartawan di kediamannya. Jakarta, Kamis, 17 Oktober 2019. Sandiaga Uno menyampaikan persiapan yang mungkin diperlukan berbagai kandidat apabila ingin terjun pada pertarungan politik Pilpres 2024. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengusaha sekaligus calon wakil presiden 2019-2024 Sandiaga Salahuddin Uno buka suara soal 'persiapan' Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di tengah pandemi virus corona (Covid-19) saat ini. Dia membeberkan strategi yang perlu dilakukan guna menggaet pemilih muda atau kalangan milenial.

Hal ini diungkapkan kala mengisi acara diskusi virtual Katadata pada Jumat (22/5) malam. Pada kesempatan itu, Sandi mengaku masih belum mau berandai-andai untuk mengikuti kontestasi politik menjadi orang nomor satu di Indonesia.


"Proses ke depan akan sangat bergantung pada proses politik yang dikomandoi oleh partai politik dan calon dari partai. Saya tidak mau berandai-andai, ini terlalu jauh ke depan. Saya hanya mau kontribusi saja, sekarang saya sibuk di Relawan Indonesia Bersatu," kata Sandi.


Sandi membagi bocoran soal persiapan yang mungkin diperlukan berbagai kandidat apabila ingin terjun ke pertarungan politik di 2024. Kuncinya adalah memenangkan hati para pemilih muda atau milenial.

Sebab, mereka akan mengisi sekitar 50 persen sampai 55 persen dari total para pemilih di Indonesia pada 2024. Untuk bisa menggaet milenial, kata Sandi, calon kandidat harus bisa memberikan kebijakan yang dekat dan berdampak kepada mereka.

"Secara demografi, isu akan ditentukan yang dekat top of mind teman-teman milenial, mungkin di bawah 35 tahun. Misalnya, lapangan kerja dan biaya hidup," ucapnya.

Dari sisi lapangan kerja, Sandi melihat kebijakan yang dikeluarkan harus bisa menciptakan peluang pekerjaan yang sejalan dengan tren new normal atau aktivitas masyarakat setelah krisis akibat pandemi corona. Pekerjaan di era ke depan, katanya, akan lebih membutuhkan teknologi dan sesuai dengan revolusi industri 4.0.


Sandiaga Uno saat menjadi calon wakil presiden pada Pilpres 2019, mendampingi Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Misalnya, pekerjaan di industri yang erat dengan teknologi. Sementara dari sisi biaya hidup, menurutnya, kandidat perlu mengeluarkan kebijakan yang mampu menyelesaikan persoalan biaya hidup yang terus meningkat.

"Karena biaya hidup ini terus berkembang, misalnya sembako, gula terutama lagi mahal, biaya anak sekolah. Jadi milenial ini generasi rebahan, mager, tapi saya yakin mereka mau mandiri," ujar Sandi.

Namun Sandi kembali menepis kabar yang mengatakan dirinya sudah mendapat dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi capres pada 2024.

"Pak Jokowi mungkin berusaha menghibur saya karena habis kalah pilpres, saya anggap guyonan saja," imbuhnya.

Bahkan, ia membantah pandangan yang menyatakan bahwa dirinya sudah mulai melakukan persiapan untuk pertarungan politik dalam empat tahun ke depan. Salah satunya dengan tim 'Sandinomics' agar dapat meramu kebijakan ekonomi yang dapat digunakan untuk kampanye di pilpres mendatang.

Mantan wakil gubernur DKI Jakarta mengatakan 'Sandinomics' muncul hanya sebagai grup diskusi di aplikasi pesan singkat WhatsApp antara dia dan beberapa teman-temannya. Namun, tak dipungkiri bahwa 'Sandinomics' sempat menjadi pegangannya dalam melihat berbagai persoalan-persoalan ekonomi di negeri ini.

"Sandinomics ini tidak ada hubungannya, ini WA grup, di mana saya jadi anggota, ketuanya pun bukan saya, saya hanya pemerhati. Tapi mereka suka keluarkan policy option, yang saya analisa dan waktu saya jadi wagub, ini berguna," jelasnya.


Menurutnya, persiapan menuju Pilpres 2024 sejatinya tidak perlu dilakukan sejak jauh-jauh hari. Sebab, perencanaan di bidang politik jauh lebih cair dan fleksibel dibanding ekonomi dan bisnis.

Hal ini, sambungnya, dilihat berdasarkan pengalaman yang didapatnya pada Pilpres 2019, di mana penentuan menjadi cawapres pun baru ditentukan pada Agustus 2018. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perencanaan ekonomi dan bisnis yang justru perlu dilakukan sejak dua sampai tiga tahun sebelumnya.

"Mungkin di 2023 baru mulai secara intensif dibicarakan, saya sendiri melihat proses politiknya ini berjalan begitu. Jadi mengalir dan prosesnya ditentukan Yang Maha Esa saja," tuturnya. (uli/pmg)

[Gambas:Video CNN]