Perlu diketahui, berdasarkan hasil evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, sebanyak 15 daerah dinyatakan masuk dalam zona biru atau level kewaspadaan tingkat II. Sebanyak 15 daerah tersebut bisa menerapkan fase normal baru atau yang oleh Pemprov Jabar disebut dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).
Daerah tersebut antara lain Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Kuningan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi masyarakat jangan euforia, AKB akan dilakukan bertahap. Tahapan ini dievaluasi per tujuh hari atau seminggu. Jika angka kurang baik, bisa saja dari zona biru jadi PSBB lagi. Daerah yang siap 1 Juni silakan AKB, yang belum jangan dipaksakan," ujar Ridwan Kamil dalam jumpa pers di Gedung Pakuan Bandung, Jumat (29/5).
"TNI/Polri, sesuai arahan presiden, akan memastikan bahwa protokol kesehatan yakni jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan tetap dilakukan," ungkap Emil.
Selain itu, selama AKB, Emil memastikan bahwa pihaknya akan merilis sekitar 400 ambulans dengan alat rapid test untuk melakukan pengetesan masif.
"Ini untuk memastikan, jangan sampai AKB menghilangkan kewaspadaan. Nanti ambulans keliling di kawasan [kerumunan] yang diwaspadai," ujarnya.
"Jawa Barat kurang lebih sudah melakukan pengetesan hampir 150.000. Target kami 300.000, dan kami berharap itu bisa dicapai dalam satu bulan ke depan seiring dengan datangnya produk-produk PCR dan rapid tes buatan lokal," katanya.
Sekolah Belum Buka
Sementara itu, terkait kebijakan kembali masuk sekolah hingga saat ini belum diputuskan. Emil mengaku pihaknya masih mengkaji terkait aturan tersebut.
"Khusus untuk sekolah itu belum boleh sama sekali [kegiatan belajar di sekolah], walau sudah zona biru karena kami akan meneliti lebih mendalam," ujar Emil.
Dia menjelaskan kebijakan belajar di sekolah menjadi tahap terakhir dari pelaksanaan AKB. Dengan pertimbangan jumlah anak didik mulai dari tingkat playgroup hingga sekolah menengah atas jumlahnya mencapai jutaan orang.
"Untuk anak-anak ini harus kita utamakan keselamatannya. Sekolah mungkin tahap terakhir sampai kami betul-betul yakin tidak ada ancaman besar ketika anak boleh kembali ke sekolah," tutur Emil. (hyg/bac)