Hal itu Jokowi sampaikan saat membuka Sidang Kabinet Paripurna Pagu Indikatif RAPBN 2021 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5). Menurutnya, capaian pada Mei itu akan berimplikasi pada penurunan kasus pada Juni dan Juli mendatang.
"Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai. Sesuai target yang kita berikan yaitu kurvanya sudah harus turun dan masuk posisi sedang di Juni, di Juli masuk posisi ringan. Dengan cara apapun," ujar Jokowi kala itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengacu pada laporan harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, kasus positif virus corona di Indonesia masih terus bertambah hingga 31 Mei. Jumlahnya pun ratusan.
Total kasus positif per 31 Mei mencapai 26.473 orang, bertambah 700 dari hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.408 di antaranya telah sembuh dan 1.613 pasien meninggal dunia. Pada bulan Mei pula, peningkatan kasus sempat melambung hingga 973 orang pada 21 Mei dan 949 orang pada 23 Mei.
Pandu beranggapan bahwa peningkatan kasus itu belum dapat memberikan gambaran kinerja penanganan Covid-19 secara utuh di Indonesia. Pasalnya, jumlah pengujian spesimen virus ini pun fluktuatif.
Misalnya, pada 19 Mei, sebanyak 12.276 spesimen berhasil diuji lewat pengujian di seluruh lab di Indonesia. Namun, jumlah tersebut menurun pada 20 Mei, yakni sebanyak 8.947 spesimen, kemudian 8.092 spesimen pada 21 Mei, lalu 9.359 spesimen pada 22 Mei.
Pengujian spesimen yang tak bisa diselesaikan dalam satu hari membuat kurva kasus virus corona di Indonesia belum bisa diprediksi (CNNIndonesia/Safir Makki) |
"Kalau dilihat masih fluktuatif. Sudah meningkat sih, tapi masih ada keterlambatan," kata Pandu.
Selain itu, kata dia, terdapat sejumlah variabel yang mempengaruhi penilaian tim epidemiolog ihwal laju pergerakan kurva virus Covid-19.Salah satunya soal pelaporan kasus yang mengalami delay atau penundaan setiap harinya.
Idealnya, kata dia, pengujian spesimen dilakukan dan dilaporkan sesegera mungkin sehingga tidak membuat antrean pemeriksaan. Artinya, laporan kasus positif pada hari tersebut belum tentu merupakan hasil dari pemeriksaan pada hari yang sama.
"Jadi kalau hari ini ada swabnya sudah masuk, nanti sore bisa keluar dan sudah diumumkan. paling telat besok pagi sudah diumumkan. Karena yang terjadi kan bisa sampai dua minggu gitu," jelasnya.
Relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan di beberapa wilayah. Hal itu menurutnya dapat mempengaruhi kurva penyebaran Covid-19 secara nasional.
Oleh sebab itu, menurutnya, setiap daerah harus memiliki perhitungan yang masak apabila ingin melonggarkan status PSBB. Analisis mendalam perlu dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah sesuai dengan keadaan di wilayah masing-masing.
"Ternyata selama pandemi banyak hal-hak yang diluar dugaan kita. (Misalnya) intervensi PSBB tidak berjalan optimal, terus penduduk masih bergerak, dan yang paling mengganggu itu adalah kapasitas testing kita masih belum maksimal," katanya.
Pelaporan data kasus yang dilakukan oleh kedua wilayah tersebut dapat dikategorikan cukup baik, sehingga dapat memperlihatkan tren penurunan jumlah kasus positif secara akurat.
"Kalau kurva yang bisa kita pelajari dengan baik itu hanya di dua Provinsi yang datanya cukup bagus. Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kurvanya sudah menurun di dua wilayah itu," lanjut Pandu. (mjo/bmw)
Pengujian spesimen yang tak bisa diselesaikan dalam satu hari membuat kurva kasus virus corona di Indonesia belum bisa diprediksi (CNNIndonesia/Safir Makki)