Prabowo dinilai sejumlah elite Gerindra memiliki figur yang sangat kuat. Namun, sosok Prabowo yang bertahan menjadi ketum selama bertahun-tahun itu justru dinilai menunjukkan kegagalan regenerasi partai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ujang, hanya Partai Demokrat yang belakangan berani mengganti jabatan ketum dari Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Walaupun, pewaris jabatan ketum itu adalah putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono.
Meskipun demikian, Ujang menduga Prabowo memang masih akan terpilih sebagai ketum demi kesiapan parpol mendekati Pilkada 2020, hingga Pemilu 2024.
Apalagi di bawah kepemimpinan Prabowo, Gerindra berhasil meraup suara kedua terbanyak nasional dalam Pilpres 2019 dan suara ketiga terbanyak di parlemen. Ujang menilai itu pun sudah menjadi dalam kalkulasi politik Prabowo.
Menurut Ujang akan sulit bagi pria yang kini menjabat Menteri Pertahanan itu untuk maju dalam Pilpres 2024 jika tak lagi menjabat ketum.
"Kalau ketum diberikan ke orang lain, Pak Prabowo akan kesulitan mengendalikan partai. Oleh karena itu, jalan paling aman adalah menjadi ketum Gerindra. Itu kekuatan yang bisa digunakan," katanya.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto usai memimpin rapat 8 ribu kader Gerindra DKI Jakarta, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 8 Januari 2017. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto) |
"Banyak kader yang sudah siap ketika Pak Prabowo pensiun. Tapi untuk saat ini belum ada kader lain yang mampu menyaingi ketokohannya baik di internal maupun eksternal partai," tutur Ujang.
Untuk diketahui, dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) yang digelar virtual pada Kamis (4/6), seluruh petinggi DPD Gerindra diklaim meminta Prabowo kembali menjabat sebagai ketua dewan pembina sekaligus ketum periode 2020-2025.
Sekjen Gerindra Ahmad Muzani pernah menyampaikan tidak ada sosok lain yang mampu menandingi Prabowo untuk menduduki jabatan ketum sejak 2008.
Di luar Prabowo, nama Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra, Sandiaga Uno juga sempat santer disebut sebagai calon ketum.
Oleh karena itu, Ujang juga menilai kecil kemungkinan Sandiaga menjadi ketum Gerindra.
Selain sosoknya tak sekuat Prabowo, Sandiaga juga pernah diterpa isu berselisih dengan Prabowo usai gelaran Pilpres tahun lalu. Mantan wakil gubernur DKI Jakarta itu diketahui sempat tak datang ke deklarasi yang digelar Prabowo usai gelaran Pilpres meski belakangan ia mengaku sedang sakit.
"Setelah itu kan ada clash dengan Pak Prabowo. Jadi selain regenerasi enggak ada, Pak Prabowo juga menutup regenerasi. Sandiaga tidak akan kuat bersaing dengan Pak Prabowo," tuturnya.
Ketum Gerindra Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno, 27 Juni 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
"Kharismanya terlalu besar, jauh dari semua pengurus Gerindra," ujar Adi.
Menurutnya, jabatan Prabowo sebagai ketum juga disiapkan demi Pilpres 2024. Untuk itu, tak dipungkiri bahwa proses regenerasi di partai yang berdiri sejak 12 tahun lalu itu akan mandeg.
"Kalau tujuannya 2024, kaderisasi bisa nomor sekian. Yang jelas kepemimpinan Pak Prabowo ini masih mengakar sekali," ucapnya. (psp/kid)
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto usai memimpin rapat 8 ribu kader Gerindra DKI Jakarta, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, 8 Januari 2017. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Ketum Gerindra Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno, 27 Juni 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika)