Ia menilai seharusnya Pilkada dilakukan dengan teknis dan sistem baru untuk menghindari penyebaran covid-19 atau corona.
"Kalau masih belum beradaptasi dengan new normal, masih model dulu orang datang, jadi berbahaya. Ya, jangan ambil resiko. Mungkin tunda sampai 2021," tuturnya melalui konferensi video, Senin (8/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau alasan supaya ekonomi gerak, artinya kita memberikan approval terhadap money politics. Ya, kita harus berubah jangan cara seperti itu," ujarnya.
Sebelumnya Komisi II DPR, Kementerian Dalam Negeri, Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu Umum, serta Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) sepakat Pilkada 2020 tetap diselenggarakan di tengah pandemi. Tahapan Pilkada bakal dimulai pada 15 Juni dan pemungutan suara pada 9 Desember.
Dalam surat tersebut Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengizinkan penyelenggaraan pemilu asal disesuaikan dengan protokol kesehatan penanganan corona. (fey/age)