Pelaksanaan PSBB transisi di Jakarta sudah berjalan satu minggu sejak 5 Juni lalu sampai akhir bulan ini.
"Jelas ini sudah bukan transisi. Ini (PSBB transisi) kebijakan gagal dan tanpa ketegasan," kata Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDI Perjuangan Gilbert Simanjuntak saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (12/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat mobilitasnya sudah penuh dan mengabaikan Pergub. Sekarang untuk memutar ke PSBB sudah tidak mungkin," ujarnya.
Menurut Gilbert, Pemprov seharusnya menandai dan memantau secara ketat aktivitas yang berpotensi menjadi sumber penularan virus corona. Selain itu, kampanye dan edukasi ke masyarakat mengenai pola hidup bersih dan sehat dan protokol kesehatan juga belum maksimal dilakukan.
"Masyarakat bawah yang kurang peduli karena prioritasnya adalah bagaimana hidup, kesehatan (kualitas hidup) mereka buat pilihan berikutnya," katanya.
Sementara itu, kata Gilbert, rencana Pemprov DKI yang akan menerapkan ganjil genap untuk kios-kios di sejumlah pasar dinilai tak efektif. Ia menyebut Anies dan jajarannya tak memiliki cara yang lebih efektif dalam mencegah penularan virus corona di pasar.
"Kalau itu yang ditempuh, mungkin akan mengurangi pedagang, tetapi pembeli yang mau menjaga jarak yang harus diawasi. Mereka sekarang harus fokus kepada pembeli yang tidak menuruti protokol normal baru yang menaati pencegahan," ujarnya.
PSBB Transisi Dievaluasi
Sementara itu, Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menilai kebijakan PSBB transisi yang diterapkan Pemprov DKI perlu dievaluasi secara besar-besaran. Dalam sepekan pemberlakuan PSBB transisi, jumlah kasus positif di Jakarta justru melonjak drastis.
"Ada yang salah kebijakannya menurut saya. Jadi, apa namanya, kalau lihat lonjakannya dua hari yang lalu 234 di Jakarta, ini artinya 5 hari ini mengalami kenaikan untuk DKI Jakarta," kata Trubus kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/6).
PSBB transisi ini, kata Trubus, menjadi kebijakan setengah matang karena membagi penanganan masalah kesehatan dan ekonomi. Ia menyatakan Anies dan jajarannya harus fokus dalam mengatasi akar masalah dalam pandemi ini.
"Akar masalahnya di soal virus itu. Jadi harusnya semua terkonsentrasi di situ," jelasnya.
Merujuk data resmi Pemprov DKI, dalam kurun waktu 5 sampai 11 Juni jumlah kasus positif virus corona di Ibu Kota mencapai 952 kasus.Angka tersebut meningkat dibandingkan satu minggu sebelumnya, 29 Mei sampai 4 Juni, yang hanya 671 kasus positif Covid-19.
Hingga kemarin, Kamis (11/6), jumlah kumulatif kasus positif virus corona di DKI Jakarta mencapai 8.552 kasus. Dari jumlah itu, 3.664 orang dinyatakan sembuh dan 555 orang lainnya meninggal dunia. (dmi/fra)