Pasalnya, rumusan Pancasila adalah rumusan yang tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945.
"Enggak bisa disebut satu sila, dua sila, tiga sila, empat sila, tapi lima sila sekaligus sebagai satu kesatuan," kata Mahfud, di Rumah Dinas Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (16/6) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
RUU ini disepakati untuk dibahas sebagai usulan DPR secara penuh oleh 7 fraksi di DPR, dengan Fraksi-PKS menerima dengan catatan, dan F-Demokrat menarik diri dari pembahasan.
Ia menyatakan sila Ketuhanan menjiwai Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Hal itu, katanya, tidak bisa diperas lagi menjadi trisila atau ekasila.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Menurut dia, obsesi untuk menafsirkan Pancasila secara ekspansif akan menimbulkan ekses negatif berupa menguatnya kontrol negara dalam kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan penguatan eksesif kelembagaan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) dapat melahirkan kembali BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) seperti pada zaman Orde Baru yang praktiknya menjadi alat sensor ideologi.
"Pancasila yang terlalu ambisius akan kehilangan roh sebagai ideologi pemersatu, yang pada gilirannya dapat menimbulkan benturan-benturan norma dalam masyarakat," kata dia.
"Pengaturan Pancasila ke dalam sebuah undang-undang akan menimbulkan anarki dan kekacauan sistem ketatanegaraan," kata dia.
Konsep memeras ideologi Pancasila sebelumnya dikenalkan oleh Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum PDIP saat beripdato dalam World Culture Forum 2016. Saat itu, ia menyebut konsep Trisila dan Ekasila.
Jika diperas lebih dalam lagi, kata dia, lima sila dalam Pancasila akan menjadi Tiga Prinsip Dasar (Trisila). Trisila pertama ialah Ketuhanan, yang diambil dari sila pertama.
Jauh sebelum ada konsep memeras Pancasila dalam RUU HIP, Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri melontarkan gagasan Trisila dan Ekasila yang diperas dari lima sila Pancasila. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Menurut Megawati, Trisila itu akan mewujudkan satu prinsip dasar (Ekasila), yakni gotong royong.
"Inilah hakekat kebudayaan sejati, yang menurut saya, juga diperlukan dalam relasi antar bangsa di era sekarang ini untuk masa depan dunia yang lebih baik," tuturnya, ketika itu.
(rzr/arh)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Jauh sebelum ada konsep memeras Pancasila dalam RUU HIP, Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri melontarkan gagasan Trisila dan Ekasila yang diperas dari lima sila Pancasila. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)