Mahasiswa Ikut Pendidikan Militer Bisa Jadi Perwira Cadangan

CNN Indonesia | Rabu, 19/08/2020 09:32 WIB
Kemendikbud mengimingi mahasiswa yang mengikuti pendidikan militer di perguruan tinggi, kelak bisa menjadi perwira cadangan. Ilustrasi pendidikan militer program Bela Negara. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan mahasiswa yang mengikuti pendidikan militer program Bela Negara di perguruan tinggi dapat menjadi perwira cadangan.

"Kalau memenuhi syarat, saat lulus selain mendapat kesarjanaan juga dapat menjadi perwira cadangan," ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (19/8).

Ia mengatakan Program Bela Negara yang diwacanakan di perguruan tinggi bersifat sukarela. Pelatihan pada program tersebut nantinya disiapkan oleh Kementerian Pertahanan.


Konsep penerapan Program Bela Negara, lanjut Nizam, serupa dengan skema kampus merdeka dimana mahasiswa dapat memilih kegiatan di luar kelas selama satu semester.

Ia menjelaskan Program Bela Negara mengakomodir hak Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi komponen cadangan dalam pertahanan negara. Hal ini merujuk pada UU No. 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara.

"Hak tersebut kita penuhi melalui skema kampus merdeka. Sehingga mahasiswa dapat mengambil haknya untuk menjadi komponen cadangan pertahanan negara," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan menyatakan pendidikan militer di perguruan tinggi bukan sebuah kewajiban.

Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono menuturkan rencana penerapan pendidikan militer di perguruan tinggi melalui Program Bela Negara bertujuan menyadarkan anak muda agar bangga menjadi orang Indonesia.

"Nanti, dalam satu semester mereka bisa ikut pendidikan militer, nilainya dimasukkan ke dalam SKS yang diambil. Ini salah satu yang sedang kita diskusikan dengan Kemendikbud untuk dijalankan," kata Trenggono dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (16/8).

Peneliti Imparsial Hussein Ahmad menilai pembentukan karakter mahasiswa tak selalu harus diselesaikan dengan pendekatan militer. Sejumlah pengamat pendidikan pun menilai kebijakan ini kental dengan masa orde baru, dimana urusan sipil bersinggungan dengan militer.

"Pikiran yang menyatakan semua urusan bisa diselesaikan dengan cara-cara militer ini keliru. Jika demikian cara berpikirnya lebih baik Mas Menteri Nadiem bubarkan saja kampus-kampus yang ada. Sisakan AKMIL," kata Hussein kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/8).

(fey/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK