Aktivis Ungkap Catatan Kelam Represi Aparat pada Hari Tani

CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2020 04:25 WIB
Aktivis mengungkap catatan kelam dari Peringatan Hari Tani Nasional pada 24 September 2020 di sejumlah wilayah di Indonesia. Massa Front Perjuangan Rakyat melakukan aksi damai peringatan Hari Tani Nasional, di depan Istana Negara, Jakarta, 24 September 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peringatan Hari Tani Nasional pada Kamis, 24 September 2020, meninggalkan beberapa catatan kelam di sejumlah wilayah di Indonesia.

Di beberapa wilayah, peserta aksi yang menyampaikan aspirasinya dengan damai justru menerima perlakukan represif dari aparat kepolisian dan TNI yang berjaga mengamankan kegiatan tersebut.

"Massa aksi selalu mendapat tindakan represif dari aparat, seakan ada aparat yang memancing supaya ada aksi balasan. Walau kita selalu berusaha meredam tapi selalu ada tindakan provokatif dari mereka," kata Ketua Bidang Advokasi YLBHI M Isnur dalam menggelar konferensi pers terkait aksi represif pada peringatan Hari Tani Nasional melalui aplikasi zoom, Jumat (25/9).


"Ini terjadi berulang yang dilakukan aparat kepada para demonstran," imbuhnya.

Itulah, sambungnya, yang salah satunya terjadi pada aksi massa peringatan Hari Tani Nasional yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9).

Koordinator Bidang Hak Politik dan Anti Korupsi LBH Makassar Andi Haerul Karim menyebut dalam aksi yang digelar di depan Kantor Gubernur dan Gedung DPRD Sulsel itu telah dilakukan penangkapan oleh aparat kepolisian terhadap beberapa peserta aksi. Penangkapan juga, ditudingnya, tanpa alasan.

Bahkan pihaknya, kata Andi, tak diberikan akses untuk memberi pendampingan kepada anggota aksi yang ditangkap dan ditahan di Mapolrestabes Makassar.

"Di kepolisian di Polrestabes tempat teman-teman massa aksi ditahan dan diambil keterangannya kami tidak boleh lakukan pendampingan," kata Andi.

Dalam kesempatan itu, Andi menjelaskan dari awal kegiatan aksi yang dilakukan di depan Kantor Gubernur dan Gedung DPRD Provinsi itu berlangsung damai. Massa, kata dia, hanya menyampaikan orasi selama sekitar setengah jam.

Saat itu, memang banyak aparat kepolisian berjaga yang menggunakan seragam kedinasan. Namun, aksi jadi ricuh karena kemunculan yang disebutnya polisi berpakaian preman dengan membawa pentungan dan alat pukul.

"Nah pada saat [massa aksi] perbaiki barisan tiba-tiba dari belakang polisi yang berpakaian dinas itu kalau di sini ada penikam, kalau di sini [istilahnya], itu langsung lompati mahasiswa atau massa aksi, menarik, memukul dan berujung penangkapan," kata Andi.

Padahal kata dia, sejak awal massa aksi tak berusaha bertindak ricuh atau mengancam dari kegiatan tersebut.

Saat dikonfirmasi pada Kamis lalu, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Yudhiawan mengatakan setidaknya 20 orang diamankan dari demo ricuh tersebut karena melukai tiga polisi.

Yudhiawan mengatakan para pengunjuk rasa tersebut tidak punya izin sehingga mereka hendak dibubarkan karena aksi di depan kantor DPRD Sulsel mulai terlihat anarkistis.

Sementara itu, Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) dalam rilisnya pada Jumat pagi mengatakan setidaknya 49 pengunjuk rasa masih ditahan kepolisian imbas aksi damai memperingati hari tani nasional (HTN).

KNPA menyatakan 49 orang yang ditahan itu merupakan mahasiswa dan aktivis yang tersebar di beberapa daerah seperti Makassar, Solo, Bengkulu, Kupang hingga Manado.

(tst/kid)

[Gambas:Video CNN]