RK: Depok Gelar Simulasi Penyuntikan Vaksin Corona Pekan Ini

CNN Indonesia | Senin, 19/10/2020 18:48 WIB
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan simulasi itu menjadi persiapan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 gelombang pertama yang rencananya digelar November nanti. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) bersama Wali Kota Depok Mohammad Idris (tengah) saat meninjau RSUD Depok, 15 September 2020. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)
Bandung, CNN Indonesia --

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang juga Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar mengatakan, Kota Depok akan menggelar simulasi penyuntikan vaksin virus corona pada pekan ini.

Pria yang karib disapa Emil itu menyatakan simulasi tersebut dilakukan untuk memberi gambaran kesiapan Jabar memberikan vaksin Covid-19 kepada warga nantinya.

"Minggu ini ada rencana kami melakukan simulasi persiapan penyuntikan vaksin di Depok, kemungkinan Kamis," kata Emil dalam jumpa pers virtual, Senin (19/10).


Dia mengatakan kegiatan simulasi penyuntikan vaksin dilakukan sebagai respons persiapan adanya gelombang pertama vaksin Covid-19 sebanyak 9,1 juta ke RI. Vaksin tersebut diprioritaskan ke daerah yang menjadi episentrum tinggi yaitu kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

"Sehingga Jawa Barat mengajukan kurang lebih tiga juta vaksin untuk daerah Bodebek dan akan kita simulasikan kesiapan," ujar Emil.

Mantan Wali Kota Bandung itu juga mengaku akan melihat kesiapan Bodebek dalam simulasi nanti. Sebab, baru ada sekitar 1.000 tenaga penyuntik vaksin yang sudah terlatih.

"Sehingga akan kita simulasikan apakah seribu tenaga ini memadai atau harus ditambah," ujarnya.

Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan akan melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap 9,1 juta orang pada akhir tahun jika dapat lampu hijau dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pun meminta pelibatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Atas rencana itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Dirjen P2P Kemenkes) Achmad Yurianto mengatakan vaksin tersebut berasal dari tiga kandidat vaksin yang telah bekerja sama dengan Indonesia yakni Sinovac, Sinopharm (G24), dan Cansino.

Rinciannya, Sinovac akan mengirimkan 3 juta dosis vaksin yang terbagi 1,5 juta pada November, dan 1,5 juta dosis pada Desember; Sinopharm (G24) sebanyak 15 juta dosis vaksin; dan CanSino 100 ribu dosis.

Totalnya berjumlah 18,1 juta dosis vaksin yang akan diberikan dua kali kepada setiap orang. Khusus untuk CanSino, hanya dibutuhkan satu kali penyuntikan untuk satu orang.

"Sehingga jika ditotal pada November-Desember kita sudah mendapat kepastian, ketersediaan vaksinasi untuk digunakan kepada 9,1 juta orang," kata Yuri dalam konferensi pers daring 'Update Kesiapan Vaksin Covid-19 di Indonesia'," Senin (19/10).

Yuri mengatakan pemberian vaksin rencananya setelah mendapat izin emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, dan sudah dipastikan halal oleh Majelis Fatwa MUI.

Kedua izin tersebut hingga kini masih dalam proses finalisasi. Namun jika berjalan sesuai rencana, maka kepastian izin EUA dan kehalalan vaksin sudah bisa didapat pada November.

Dengan demikian, menurut Yuri, vaksin Covid-19 sudah bisa mulai disuntikkan secara bertahap pada akhir November 2021 ini.

Urutan pertama yang akan diberikan vaksin pada tahun ini adalah tenaga medis, petugas laboratorium yang memeriksa spesimen Covid-19, petugas contact tracing Covid-19. Yuri mengatakan, ada sekitar 2,1 juta orang dalam kategori ini yang sudah tercatat oleh Kemenkes.

Urutan selanjutnya adalah anggota BPJS Penerima Bantuan Iuran atau PBI. Namun pihaknya masih menyiapkan mekanisme teknis penyuntikan lebih lanjut. Vaksinasi pada kelompok pertama ini juga telah dijamin APBN sehingga tidak dipungut biaya.

(hyg/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK