Ucapan Lengkap Megawati soal Sumbangsih Milenial ke Bangsa

CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2020 15:26 WIB
Megawati mempertanyakan sumbangsih anak muda terhadap negara selain melakukan demonstrasi yang berujung kepada perusakan sejumlah fasilitas umum. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo agar tidak memanjakan anak muda yang kerap disebut sebagai generasi milenial.

Dia mempertanyakan sumbangsih anak muda terhadap negara selain melakukan demonstrasi yang berujung kepada perusakan sejumlah fasilitas umum seperti halte bus TransJakarta.

Hal itu disampaikan Megawati dalam acara peresmian kantor DPP PDIP secara virtual, Rabu (28/10), bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda.


"Anak muda kita, aduh, saya bilang sama Presiden jangan diam saja, dibilang generasi kita adalah generasi milenial. Saya mau tanya hari ini, apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral tanpa harus bertatap langsung, apa sumbangsih kalian terhadap bangsa dan negara ini? Masa hanya demo saja," kata Megawati, Rabu (28/10) lalu.

Pernyataan itu dilontarkan Mega seiring maraknya demonstrasi menolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja yang telah disahkan pemerintah dan DPR. Aksi yang hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, diketahui sempat berujung ricuh hingga ada pembakaran halte dan pos polisi.

Mega mafhum penilaiannya bakal berujung kepada perundungan atau bullying terhadap dirinya. Namun, ia menegaskan tak peduli atas hal tersebut.

"Nanti saya di-bully, saya enggak peduli," tegas dia.

Mega turut membandingkan peran pemuda zaman sekarang dengan sebelum kemerdekaan. Saat itu, kata dia, pemuda bisa sampai memikirkan sebuah persatuan dengan membuat sumpah.

Sedangkan anak muda saat ini, lanjut dia, justru merusak fasilitas umum yang sudah dibangun dengan susah payah. "Bayangin di zaman dulu kok bisa, ya, pemuda karena tertekan, belum merdeka, bisa sampai berani bikin sumpah," ucapnya.

Ia berpendapat perusakan fasilitas umum dalam demonstrasi tak dapat dibenarkan secara aturan. "Ini sudah merdeka dirusak sendiri. Gimana ya," ujarnya.

Mempertanyakan Biaya Halte

Dalam acara virtual tersebut, Mega turut menanyakan biaya pembangunan sebuah halte bus TransJakarta kepada Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Saiful Hidayat. Djarot menyatakan anggaran yang diperlukan membangun halte sekitar Rp3 miliar.

"Masyaallah susah-susah bikin halte, enak aja dibakar-bakar. Emangnya duit elo. Ditangkap enggak mau, gimana ya?," ucap Mega, "Aku sih pikir lucu banget nih Republik Indonesia sekarang."

Dalam acara tersebut, Mega turut menyampaikan pesan agar setiap kader mengikuti instruksi partai. Jika tidak, ia menegaskan tidak sungkan menandatangani surat pemecatan.

Ia berujar bahwa partai politik merupakan alat perjuangan, bukan untuk mencari nafkah. "Kalian itu juga, kalau tidak mengikuti instruksi partai, saya pecat. Dengar," pungkas Mega.

Mantan Presiden RI ke-5 itu juga berpendapat bahwa kehadiran fisik berupa kantor partai di setiap daerah menjadi ruh perjuangan.

"Dari sejak kongres yang ke-4 saya sudah memutuskan bahwa kita sudah mulai saatnya membangun dari ide PDIP dengan segala daya, kerja susah payah, duka dan suka, maka mulai harus buat sebuah keputusan untuk membangun partai ini juga secara fisik," kata Mega.

(ryn/asa)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK