Natal di Pandemi, Ibadah Via Layar hingga Makan Malam Singkat

CNN Indonesia | Jumat, 25/12/2020 11:04 WIB
Pandemi virus Corona menggagalkan rencana Natal banyak penduduk Indonesia pada tahun ini. Ibadah sampai makan malam harus kompromi dengan keadaan Ilustrasi. Desainer Embran Nawawi menyelesaikan pembuatan pohon Natal berbahan kain batik Pamekasan di Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/MOCH ASIM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Malam Natal tahun ini terasa jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Keramaian dan kehangatan bersama sanak saudara tak banyak dirasakan di malam Natal kali ini.

Kalaupun bisa bertemu keluarga untuk sekedar bercanda gurau dan makan bersama, kehangatan itu dibatasi dengan protokol kesehatan yang tak boleh diabaikan demi mencegah penularan Covid-19.

Ditto (23), seorang pegawai swasta di Bekasi, Jawa Barat, mengaku malam Natal kemarin terasa seperti hari libur biasa baginya. Sebelumnya hampir setiap tahun, dia selalu pulang kampung ke Yogyakarta menjelang Natal.


Ia bahkan sudah tak ingat kapan terakhir kali merasakan Natal di Bekasi. Namun tahun ini keinginan pulang ke kampung halaman harus dibendung. Terlebih karena warga di sana pun "tak mengharapkan" kepulangannya.

"Pak RW sudah himbau yang jaga rumahku di sana, katanya bilangin ke bapak, nggak usah pulang dululah nggak enak sama tetangga yang lain. Karena daerah rumah ku benar-benar di tengah, katanya zona merah banget juga di sana," ceritanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/12).

Akhirnya, malam Natal hanya dihabiskan Ditto dengan makan malam bersama ayah, ibu, kakak, adik dan beberapa teman dekatnya. Ibadah juga tak bisa dilakukan langsung di gereja.

Semalam ia hanya mengikuti kegiatan ibadah dari balik layar kaca. Beribadah lewat siaran televisi atau Youtube sudah jadi rutinitasnya sejak pandemi.

Situasi ini membuat dia kian rindu bersosialisasi dengan sosok lain di luar rumah dan kantor tempatnya sehari-hari menghabiskan waktu.

Karena tak hanya di hari Natal, 10 bulan ini pun bercengkrama dengan kerabat seolah jadi keinginan yang terlalu mahal harganya untuk dibayar dengan risiko kesehatan.

Pengalaman berbeda dialami Sisi (22), seorang pegawai swasta di DKI Jakarta. Meskipun harus mengikuti protokol kesehatan yang ketat, dia masih bisa berkumpul dengan keluarga malam Natal kemarin.

Walau berkeras menggelar acara makan malam, setiap anggota keluarga ditegaskan untuk menjaga kebersihan, membatasi ruang gerak berdasarkan usia, dan segera pulang sebelum pukul 23.00.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemarin malam Sisi menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah pamannya. Kali ini yang diundang tak sampai separuh dari jumlah orang yang biasanya ikut berkumpul.

Sesampainya di lokasi, seluruh tamu diminta mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan di luar rumah. Juga terdapat bilik desinfektan hingga barcode untuk melacak setiap orang yang masuk ke rumah.

"Yang tua-tua datang jam 6 sampai jam 9, yang muda-muda baru datang jam 9. Dan itupun dibedain ruangannya, orang tua di main area. Kita yang muda di outdoor. Jadi kita sama sekali nggak saling ketemu," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.

Padahal, awal pekan ini seluruh keluarganya sempat melakukan pemeriksaan swab Covid-19 karena menghadiri acara perkawinan salah satu saudara. Namun kekhawatiran akan penularan virus masih menghantui.

Ia bercerita masih banyak saudara-saudaranya yang masih berkegiatan di luar rumah untuk bekerja, khususnya yang masih muda. Sisi pun masih sesekali pergi ke kantor.

Dibandingkan tahun lalu, malam Natal kali ini jauh berbeda untuk dia. Biasanya, Natal dirayakan meriah dengan mengundang banyak kerabat, berbagai menu makanan, sembari berkaraoke ria.

"Sekarang mereka juga nggak nyaman lama-lama di acara keluarga. Cuma come and go aja. Datang, makan, minum, cabut. Jadi nggak bisa intimate," curhatnya.

(fyb/ard)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK