MUI Sumbar Minta Buktikan Ada Pemaksaan Siswi Berjilbab

CNN Indonesia | Selasa, 26/01/2021 11:14 WIB
MUI menyebut tudingan intoleransi terkait kasus jilbab di SMKN 2 Padang juga terkait dengan upaya 'serangan' terhadap Sumbar. Ilustrasi hijab. (Foto: Istockphoto/selimaksan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat meminta pembuktian soal tudingan pemaksaan pemakaian jilbab bagi siswa di SMKN 2 Padang yang dilontarkan sejumlah pihak.

"Saya melihat ada tokoh-tokoh di Jakarta yang begitu gampang menuduh ini antikebhinekaan, intoleran, pertanyaannya apakah mereka sudah mendengarkan kronologinya?" kata Ketua MUI Sumbar Gusrizal, di Padang, Senin (25/1) dikutip dari Antara.

"Coba buktikan orang yang menuduh ini pemaksaan. Jadi saya melihat ini bukan hanya perkara SMK saja, ini ada masalah lain yang ditujukan ke Sumatera Barat," lanjutnya.


Ia mengingatkan sejumlah pihak di Jakarta mengenai polemik aturan memakai jilbab di SMKN 2 Padang untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang sebelum berkomentar dengan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.

"Saya sendiri telah konfirmasi ke pihak pemerintah daerah apa yang sebenarnya terjadi di SMKN 2 Padang," kata dia.

Terpisah, Pengamat Hukum Universitas Bung Hatta Padang Miko Kamal mengemukakan ia termasuk pihak yang tidak setuju dengan aturan keharusan memakai jilbab bagi semua siswi.

"Pertama, perempuan Muslim dan non Muslim, kok, disamakan. Harusnya memang ada pembeda. Biar kalau bertemu di jalan, muslim lainnya bisa membedakan, kemudian perintah menutup kepala rapat-rapat kan memang hanya untuk para Muslimah saja," kata dia.

Sebelumnya, Eliani Hia, wali murid SMKN 2 padang, Jeni Cahyani Hia, dipanggil pihak sekolah lantaran anaknya tak berjilbab. Ia mengunggah perdebatan itu di akun media sosialnya dan menjadi viral.

Lantaran ada kesan pemaksaan dalam cerita di unggahan itu, ragam kritikan soal dugaan intoleransi pun mencuat.

Kepala SMKN 2 Padang Rusmadi mengaku pihaknya tidak memaksa siswi memakai jilbab. Pihaknya hanya ingin membuat keseragaman berpakaian di sekolah. Itu pun dengan syarat siswi terkait bersedia.

Ia menegaskan sekolah menghargai keberagaman keyakinan. Bahkan ia sempat mengatakan kepada para guru ada seorang siswa yang tidak seragam berpakaian dan jangan ada yang mengusik siswa tersebut.

(Antara/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK