Demokrat Balas Serangan: Ada yang Tak Terima Dipecat

CNN Indonesia | Senin, 01/03/2021 12:08 WIB
DPP Partai Demokrat menyebut mantan kader yang dipecat terkait kudeta kepemimpinan AHY kini mengubah taktiknya dengan mengerdilkan partai. Pengurus DPP Partai Demokrat Andi Arief menyebut para mantan kader tak terima dipecat. (Foto: Dok.Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengurus DPP Partai Demokrat Andi Arief menyebut para mantan kader yang dipecat terkait kudeta kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kini mengubah taktiknya dengan berupaya merusak dan mengerdilkan partai.

Andi menduga, para kader itu masih sakit hati akibat pemecatan oleh Dewan Kehormatan Partai. Namun, ia menyatakan bahwa pemecatan itu merupakan hasil tindak tanduk mereka selama ini.

"Mungkin ada yang tersinggung, ada yang tidak terima karena memang dipecat oleh sebuah partai kita bergabung itu menyakitkan, tapi ya itu kan buah dari tindak-tanduk, buah dari perlakuannya terhadap partai yang sudah tidak bisa ditolerir," kata Andi dalam sebuah rekaman video, Senin (1/3).


Partai Demokrat belum lama ini menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap dengan tidak hormat sebagai anggota terhadap sejumlah kader yang terlibat dalam gerakan kudeta. Setidaknya, tujuh orang dipecat terkait hal itu.

Menurut Andi, pemecatan tujuh kader tersebut harus bisa menjadi pelajaran bagi seluruh kader Demokrat. Ia juga meminta seluruh kader untuk tetap bersiap menghadapi serangan-serangan dari para mantan kader itu.

"Kita lawan, kita hadapi dengan cerdik, cerdas, dan kita tidak boleh menyerah dengan ini. Ini bukan persoalan Ketum dengan para pemberontak, tapi masalah kita bersama," ujar Andi.

Lebih lanjut, menurut Andi, dugaan kudeta Partai Demokrat ini sebetulnya sudah terendus sejak lama. Pasalnya, ia mengklaim bahwa pihak-pihak yang ingin mengkudeta itu adalah orang yang sama.

"Sudah kita duga sejak lama akan muncul, karena orangnya sama. Kita belum sempat melakukan tindakan tegas kepada mereka di 15-20 tahun sebelumnya, karena ketua majelis tinggi kita, Pak SBY sangat sayang sama kadernya, ingin menyatukan," ujar Andi.

"Tapi ternyata sekarang sudah tidak bisa disatukan lagi, sudah sangat berbeda, karena tujuannya juga sudah sangat berbeda. Karena menggunakan pihak luar untuk mengambil partai ini, perbuatan yang sangat tercela," katanya menambahkan.

Sebelumnya, eks politikus Partai Demokrat, Jhoni Allen Marbun menuding Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak berjuang dalam meloloskan partai saat hendak berpartisipasi sebagai parpol peserta pemilu 2004.

"Demi Tuhan saya bersaksi bahwa SBY tidak berkeringat sama sekali, apalagi berdarah-darah sebagaimana pernyataannya di berbagai kesempatan," kata Jhoni dalam keterangan videonya, Senin (1/3).

Jhoni menyebut SBY baru bergabung dengan Partai Demokrat setelah parpol berlogo bintang mercy itu lolos verifikasi KPU untuk mengikuti Pemilu 2004.

Bantah Minta KLB

Dalam kesempatan itu, Andi juga mengklarifikasi bahwa dia meminta Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) untuk menggelar Konferensi Luar Biasa (KLB).

Menurut Andi, sempat beredar isi percakapan dirinya dengan Ibas di aplikasi pesan singkat dengan Ibas terkait KLB. Namun, ia memastikan, pesan itu tak dikirimkan olehnya secara pribadi, meski nomor yang tertera memang merupakan miliknya.

"Saya menyatakan itu tidak benar, saya merasa tidak pernah mengirim menggunakan nomor itu, dan isinya pun saya nyatakan juga fitnah atau hoaks," kata Andi.

Andi mengaku jika nomor yang tertera merupakan nomornya terdahulu. Namun, nomor tersebut sudah lama tidak ia gunakan. Sebab, saat itu, dirinya mengganti nomor karena takut dikriminalisasi.

"Saya takut ada kriminalisasi, dan karena rumah saya sampai digerebek di lLampung, kemudian kita juga tahu para hacker juga digunakan pada waktu itu untuk membuat seolah-olah ada peristiwa kriminal," paparnya.

(dmi/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK