Mengenal Kerajaan Tarumanegara yang Bercorak Hindu Budha

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/03/2021 09:23 WIB
Kerajaan tertua di Jawa ini memiliki banyak peninggalan arkeologis. Simak seluk-beluk Kerajaan Tarumanegara yang pernah berkuasa di barat Pulau Jawa ini. Kerajaan tertua di Jawa ini memiliki banyak peninggalan arkeologis. Simak seluk-beluk Kerajaan Tarumanegara yang pernah berkuasa di barat Pulau Jawa ini. (Foto Candi Batujaya: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan bercorak Hindu-Budha tertua di Jawa. Kerajaan ini diperkirakan berlangsung sejak abad ke-4 sampai dengan abad ke-7 Masehi.

Berbeda dengan kerajaan tertua seperti Kutai, Tarumanegara meninggalkan lebih banyak benda-benda arkeologis. Peninggalan tersebut membantu para ahli untuk memperkirakan kehidupan masyarakat dan luasnya pengaruh Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan runtuh pada abad ke-7 yang salah satu alasannya diduga karena pecahnya kerajaan ini menjadi Sunda dan Galuh ditambah dengan adanya serbuan Sriwijaya sekitar tahun 650 M.


Letak Kerajaan Tarumanegara

Map of Indonesia through magnifying glassFoto: Istockphoto/naruedom
Ilustrasi peta. Letak Kerajaan Tarumanegara pada masa kekuasaan Purnawarman diperkirakan membentang dari Banten hingga Cirebon

Tarumanegara terletak di bagian barat Pulau Jawa. Prasasti Tugu menyatakan bahwa kekuasaan Tarumanegara pada masa kekuasaan Purnawarman membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, Karawang, dan Cirebon.

Sesuai dengan namanya, Tarumanegara berarti sebuah negara yang berada di sekitar sungai Citarum, Jawa Barat. Tepatnya, pusat kekuasaan Tarumanegara berada di antara sungai Candrabagha, Citarum, Ciliwung, dan Cisadane.

Lokasi yang memang menjadi lokasi utama tumbuhnya peradaban. Seperti halnya Kutai di sungai Mahakam, dan Majapahit di sungai Brantas.

Tidak diketahui secara jelas struktur genealogis raja-raja Tarumanegara. Penemuan Prasasti Ciaruteun yang menyatakan nama Purnawarman kemudian disebut sebagai raja pertama sekaligus pendiri ibu kota kerajaan yaitu Sundapura.

Naskah Wangsakerta di sisi lain, menyatakan bahwa Purnawarman adalah raja ketiga, sedangkan pendirinya adalah Rajadirajaguru Jayasingawarman sekitar tahun 358 Masehi. Namun naskah ini banyak diragukan kebenarannya oleh para ahli.

Para Raja yang Pernah Naik Takhta

peninggalan di museum candi batujayaFoto: CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah
Peninggalan di museum Candi Batujaya. 

Seluruh prasasti-prasasti yang diduga merujuk pada peninggalan kerajaan Tarumanegara hanya menunjukkan Purnawarman sebagai raja yang berkuasa.

Namun mengingat kerajaan ini yang dimungkinkan berlangsung dari tahun 400-600 Masehi, tentunya Tarumanegara memiliki lebih dari satu raja yang berkuasa.

Purnawarman sendiri dianggap sebagai penguasa terbesar yang dimiliki Tarumanegara. Menurut Prasasti Tugu, kekuasaan Purnawarman meliputi wilayah utara Jawa bagian barat. Mulai dari Banten sampai dengan Cirebon.

Ia memerintahkan penggalian Sungai Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6.112 tumbak (12 km) dan Sungai Gomati menuju ke laut. Penggalian ini kemudian diakhiri dengan persembahan 1.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

Pusat kekuasaan Purnawarman diperkirakan ada di wilayah tersebut, antara Bekasi sampai dengan Karawang, yang kemudian mendirikan ibu kota bernama Sundapura.

Hal ini dibuktikan dari adanya kompleks Candi Batujaya dan kompleks Cibuaya.

Sementara itu, Naskah Wangsakerta masih sangat diragukan kebenarannya oleh para ahli namun di dalamnya menjelaskan silsilah raja Tarumanegara.

Berikut raja-raja Tarumanegara menurut Naskah Wangsakerta adalah sebagai berikut:

  1. Rajadirajaguru Jayasingawarman (358-382)
  2. Dharmayawarman (382-395)
  3. Purnawarman (395-434)
  4. Wisnuwarman (434-455)
  5. Indrawarman (455-515)
  6. Candrawarman (515-535)
  7. Suryawarman (535-561)
  8. Kertawarman (561-628)
  9. Sudhawarman (628-639)
  10. Hariwangsawarman (639-640)
  11. Nagajayawarman (640-666)
  12. Linggawarman (666-669)

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-7 Masehi, terhitung kurang lebih tiga abad berdiri kerajaan ini kemudian runtuh.

Setidaknya ada dua faktor utama yang menyebabkan keruntuhan Tarumanegara.

1. Serangan Sriwijaya pada tahun 650

Prasasti Kota Kapur (686 M) menyatakan bahwa Dapunta Hyang Sri Jayanasa berupaya melancarkan serangan kepada Bhumi Jawa karena dianggap tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.

Serangan ini diperkirakan terjadi bersamaan dengan runtuhnya Tarumanegara dan Ho-Ling menjelang akhir abad ke-7 Masehi.

Hal ini tentunya cukup kuat karena memasuki abad ke-8, Sriwijaya memiliki ikatan yang kuat dengan Wangsa Sailendra dari Jawa Tengah.

2. Pecahnya Tarumanegara menjadi Sunda dan Galuh

Naskah Wangsakerta, meskipun diragukan kebenarannya menyatakan akhir dari Tarumanegara dengan cukup jelas.

Dinyatakan bahwa Linggawarman yang berkuasa sejak tahun 666 banyak mendelegasikan kepemimpinannya kepada raja-raja kecil di daerah.

Sehingga kekuasaan masing-masing meningkat signifikan, terlebih yang berada cukup jauh dari ibu kota.

Galuh yang berada di dekat wilayah Cirebon kemudian memilih memisahkan diri dari Tarumanegara, sedangkan penerus Linggawarman memilih untuk mengubah kerajaan dengan nama Sunda.

Munculnya dua kerajaan baru di Jawa Barat ini dianggap sebagai akhir dari Kerajaan Tarumanegara.

(din/fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK