Cuaca Ekstrem di Lembata NTT, 18 Orang Tewas dan 37 Hilang

CNN Indonesia | Senin, 05/04/2021 00:39 WIB
Bencana akibat cuaca ekstrem di Lembata, NTT pada Minggu pagi telah menimbulkan belasan korban jiwa dan puluhan masih menghilang. Sejumlah rumah tertutup lumpur pascabanjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (4/4/2021). (ANTARA FOTO/HUMAS BNPB)
Kupang, CNN Indonesia --

Sebanyak 18 orang meninggal dunia dan 37 orang masih dinyatakan hilang akibat banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langodai mengatakan ada 18 korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi Minggu (4/4) pagi.

Selain 18 orang yang ditemukan meninggal, masih ada 37 orang yang dilaporkan hilang terseret banjir bandang. Semua korban meninggal berasal dari dua kecamatan yakni Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.


"Sampai malam ini 18 orang ditemukan meninggal dan 37 orang masih dicari," ujar Wakil Bupati Lembata Thomas Langodai saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu petang.

"Rata-rata 14 desa yang terdampak banjir bandang berada di bawah lereng gunung Ile Lewotolok," imbuh Thomas.

Thomas mengatakan dugaan sementara banjir bandang yang menghantam 14 desa di dua kecamatan tersebut akibat tertumpuknya material di sekitar Gunung Ile Lewotolok.

Dia menambahkan, hujan yang terus menerus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Hujan yang turun pada Minggu, kata dia, paling tinggi sejak Sabtu (3/4) kemarin sehinga terjadi banjir bandang dari Gunung Ile Lewotolok.

"Hujan terus-menerus selama beberapa hari belakangan sehingga banjir dari Gunung Ile Lewotolok dan membawa material menghantam rumah-rumah warga", kata Thomas.

Dia merinci, 37 warga yang dilaporkan hilang tersebut di antaranya dari desa Waimatan 24 orang dan Desa Tanjung Batu sebanyak 13 orang.

Sementara korban meninggal ada di Desa Lamawolo sebanyak dua orang, Desa Waimatan satu orang, Desa Amakaka Enam, Desa Tanjung Batu enam orang, dan Desa Waowala ada tiga orang.

Thomas menerangkan masih ada beberapa desa lainnya yang belum terdata jumlah korban yang hilang. Dan diperkirakan data tersebit masih akan terus bertambah karena saat ini BPBD Kabupaten Lembata sementara melakukan pendataan.

Korban meninggal dan hilang akibat terseret banjir dan ada juga yang tertimpa bangunan rumah karena banjir bandang dari Gunung Api Ile Lewotolok.

"Dan kejadian pada Minggu dini hari sehingga warga susah menyelamatkan diri", kata Thomas.

Pada Minggu malam, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir peringatan dini akan kemunculan siklon Seroja di mana pusaran anginnya mencapai 85 kilometer per jam di NTT.

Atas dasar potensi dari dampak siklon Seroja itu, Dwikorita meminta seluruh pemangku kepentingan memerhatikan keselamatan warga, terutama di pulau-pulau NTT.

"Pusaran anginnya mencapai 85 kilometer per jam agar benar-benar diwaspadai agar masyarakat dapat terlindungi, teramankan. Semoga tidak terjadi korban jiwa," kata Dwikorita dalam jumpa pers secara virtual.

Sebelumnya, pada Minggu petang tadi BMKG merilis status potensi hujan lebat untuk dampak banjir/bandang, NTT berstatus siaga.

BMKG menyatakan pihaknya sejak 2 April lalu telah mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 99 S yang mulai terbentuk di sekitar Laut Sawu, NTT. Bibit siklon tropis 99S itu kemudian dinamai Seroja mengikuti kaidah penamaan siklon internasional oleh BMKG.

Bibit siklon itulah yang kemudian memicu cuaca ekstrem di wilayah NTT sejak tiga hari terakhir, dan berdampak pada terjadinya bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah di sana.

(blo/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK