Anak Buah Juliari Didakwa Jadi Perantara Suap

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 18:28 WIB
Pejabat Kemensos Matheus Joko Santoso didakwa turut berperan dalam penerimaan suap Rp32,4 miliar dari perusahaan rekanan penyedia bansos Covid-19. Kasubdit Penanganan Korban Bencana Sosial dan Politik Kementerian Sosial, Matheus Joko Santoso didakwa perantara suap kasus korupsi bansos Covid-19(ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasubdit Penanganan Korban Bencana Sosial dan Politik Kementerian Sosial, Matheus Joko Santoso, didakwa turut serta melakukan tindak pidana korupsi terkait dengan bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19. Matheus merupakan anak buah Juliari Batubara saat masih menjadi Mensos.

Jaksa menyebut Matheus berperan dalam penerimaan suap senilai total Rp32,4 miliar dari perusahaan yang menjadi rekanan penyedia bansos Covid-19. Uang itu diketahui diperuntukkan untuk mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara.

"Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya," ujar jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (21/4).


Jaksa mengatakan penerimaan uang berkaitan dengan penunjukan PT Pertani (Persero), PT Mandala Hamonangan Sude dan PT Tigapilar Agro Utama, serta beberapa penyedia barang lainnya dalam pengadaan bansos sembako penanganan Covid-19 pada Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kementerian Sosial Tahun 2020.

Matheus, kata jaksa, menerima perintah dari Juliari untuk mengumpulkan uang fee dari setiap rekanan penyedia bansos Covid-19. Uang itu digunakan Juliari untuk keperluan pribadi dan operasional kementerian.

Matheus sendiri merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengadaan bansos Covid-19 di Kementerian Sosial.

"Selain diberikan kepada Juliari P Batubara, uang fee tersebut juga diperuntukkan kepada terdakwa [Matheus] sebesar Rp1 miliar," kata jaksa.

Matheus didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Jo Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain itu, Matheus juga didakwa dengan sengaja turut serta melakukan pemborongan, pengadaan atau persewaan dalam pengadaan bansos Covid-19. Ia menggunakan PT Rajawali Parama Indonesia sebagai penyedia dalam proyek pengadaan tersebut.

"Yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya, yaitu pada saat PT Rajawali Parama Indonesia ditunjuk sebagai penyedia dalam pengadaan bantuan sosial sembako," kata jaksa.

Padahal sebagai PPK, Matheus memiliki tugas untuk menunjuk penyedia barang, menilai pekerjaan penyedia, dan melakukan pembayaran atas pekerjaan penyedia dalam proyek tersebut.

Konflik kepentingan bermula pada Agustus 2020 saat Matheus meminta Daning Saraswati dan Wan M Guntar untuk mendirikan PT Rajawali Parama Indonesia. Daning menjabat sebagai komisaris perusahaan, sementara Wan M Guntar menjabat sebagai direktur perusahaan.

Matheus meminta kedua orang tersebut mengikuti pengadaan bansos Covid-19.

"Selanjutnya Wan M Guntar menyerahkan company profile dan surat penawaran PT Rajawali Parama Indonesia kepada terdakwa untuk ditunjuk sebagai penyedia dalam pengadaan bansos sembako di Kementerian Sosial," kata jaksa.

Pada 5 Oktober 2020, Matheus selaku PPK menunjuk PT Rajawali Parama Indonesia sebagai penyedia dalam tahap 10 dengan jumlah kuota yang dikerjakan 18.713 paket.

Praktik itu terus berlanjut hingga tahap 11, tahap 12 dan tahap komunitas meskipun di tengah jalan posisi Matheus sebagai PPK digantikan oleh Adi Wahyono.

"Namun, kenyataannya terdakwa yang tetap mengoordinasikan proses penunjukan penyedia bansos sembako Covid-19," imbuh jaksa.

PT Rajawali Parama Indonesia mendapat jumlah paket sebanyak 18.713 masing-masing pada tahap 11 dan tahap 12. Sementara untuk tahap komunitas, perusahaan tersebut mendapat jatah 16.914 paket.

"Bahwa dalam proses pelaksanaan pengadaan bansos sembako Covid-19 oleh PT Rajawali Parama Indonesia, terdakwa memberikan uang sebesar Rp3 miliar kepada Wan M Guntar sebagai modal," tutur jaksa.

Setelah menyelesaikan pelaksanaan bansos tahap 12 dan komunitas, PT Rajawali Parama Indonesia menerima pembayaran uang sebanyak Rp8,080 miliar.

"Perbuatan terdakwa menggunakan PT Rajawali Parama Indonesia sebagai penyedia barang dalam pengadaan bansos sembako Covid-19 telah menimbulkan pertentangan kepentingan (conflict of interest) dengan jabatan terdakwa selaku PPK," pungkas jaksa.

Atas perbuatannya ini, Matheus didakwa melanggar Pasal 12 huruf (i) UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(ryn/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK