Respons Gaduh KPK, Busyro Muqoddas Tegaskan Tak Ada Taliban

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 21:08 WIB
Mantan Komisioner KPK Busyro Muqoddas meminta publik terus mengawal proses tes wawasan kebangsaan agar tidak ada pegawai yang dipecat. Merespons tes kebangsaan KPK, mantan komisioner Busyro Muqoddas menegaskan tak ada kelompok 'Taliban' di internal KPK (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas, meyakini tidak ada satu pun pegawai lembaga antirasuah yang memiliki fanatisme berlebih terhadap agama.

Pernyataan itu sekaligus membantah adanya 'taliban' di tubuh KPK yang kembali diembuskan seiring peralihan status pegawai menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ini disampaikannya dalam agenda virtual bertajuk 'Menilik Pemberantasan Korupsi Pasca Tes Wawasan Kebangsaan dan Putusan MK', Jumat (7/5).


"Tadi saya katakan ada bagan militan taliban. Kuat dugaan itu produk imperium buzzer-buzzer politik dan saya bersaksi bahwa di KPK tidak ada yang namanya fanatisme kelompok agama apa pun baik itu Kristiani, Islam, Hindu maupun Buddha," ujar Busyro.

Ketua Bidang Hukum, HAM dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah itu lantas menuturkan sejumlah pegawai yang taat dalam beragama. Ia menyinggung penyidik Christian yang tetap menjadi umat Kristiani yang taat. Kemudian jaksa Kadek yang menjadi umat hindu yang taat.

"Kemudian ada Novel Baswedan Cs yang memilih pindah status dari sebagai perwira polisi jadi penyidik KPK. Berkhidmat di KPK untuk fokus kepada KPK," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Busyro juga mengajak masyarakat untuk menggalang dukungan terhadap 75 pegawai lembaga antirasuah yang diisukan akan dipecat karena tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK).

"Saya sebagai salah satu alumni pimpinan KPK dan salah satu aktivis pegiat antikorupsi di negeri tercinta ini, melalui kesempatan ini ingin bersama-sama dengan para hadirin, para narasumber, kita selamatkan KPK," seru Busyro.

"Kita dorong jangan sampai 75 pegawai KPK itu dipecat dengan dalih apa pun juga karena tes wawasan kebangsaan itu tidak memiliki legitimasi moral, legitimasi akademis maupun metodologi," lanjutnya.

(ryn/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK