Julukan The King of Lip Service Jokowi Dinilai Terlalu Sopan

CNN Indonesia | Sabtu, 03/07/2021 11:47 WIB
Jika dibandingkan tanggung jawab dan janjinya yang belum tuntas, julukan The King of Lip Service untuk Presiden Jokowi dinilai masih terlalu sopan. Kritik berupa julukan The King of Lip Service untuk Presiden Jokowi dinilai masih terlalu sopan (Lukas - Biro Pers)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STH Indonesia Jentera, Renie Aryandani, menilai bahwa julukan The King of Lip Service alias Raja Membual untuk  Presiden Joko Widodo masih terlalu sopan.

Pernyataan itu sekaligus merespons jawaban Jokowi yang menyinggung perihal sopan santun dan tata krama setelah dikritik BEM Universitas Indonesia (UI).


"Menurut saya sendiri, julukan The King of Lip Service justru terlalu sopan jika dibandingkan dengan tanggung jawab pak Jokowi selama ini," ujar Renie dalam agenda Indonesia Corruption Watch (ICW), Jumat (2/7).

"Janji manisnya justru terealisasi menjadi melemahkan pemberantasan korupsi, pengabaian terhadap pelanggaran HAM, atau bahkan justru menjadi aktor pelanggar HAM itu sendiri semata untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja," sambungnya.

Renie menilai kebijakan yang ditempuh Jokowi tak lebih untuk memberikan keuntungan bagi oligarki. Ia berujar berbagai jalan, meskipun tidak adil, terus ditempuh untuk mencapai hal tersebut.

Atas dasar ini, ia menyatakan Jokowi sebagai 'Bapak Oligarki Indonesia'.

"Presiden yang sudah tahu, sudah dikasih tahu, tetapi ketika dia membiarkan itu terjadi terus menerus, kenapa kita tidak memberi julukan lain. Kalau Sukarno adalah Bapak Proklamator, Soeharto adalah Bapak Pembangunan, enggak salah ketika kita kasih julukan Presiden Jokowi sebagai Bapak Oligarki Indonesia," tandasnya.

Ia lantas menyinggung perihal pembungkaman demokrasi yang terjadi di berbagai sektor hanya demi menjaga kepentingan oligarki.

"Karena untuk kepentingan oligarki justru pembungkaman demokrasi terjadi di berbagai sektor seperti masyarakat adat, buruh, petani, kaum rentan minoritas, mahasiswa, dan lain-lain. Itu justru dibungkam dan dibentengi aparat keamanan seperti TNI-Polri," imbuhnya.

Kaki Tangan Jokowi

Renie mengatakan masyarakat khususnya kalangan mahasiswa tidak menutup mata terhadap 'kaki-tangan' Jokowi meskipun yang bersangkutan sudah memberi lampu hijau terhadap aspirasi maupun kritik.

"Entah itu berwujud influencer pemerintah, pendamba komisaris, tukang rangkap jabatan, atau siapa pun mereka, kita harus selalu hati-hati dan menjaga napas perjuangan kita," ucap dia.

Menurut dia, pemerintah saat ini sangat nyaman jika tidak mendapat pengawasan dari masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta agar sikap kritis tetap dijaga.

Sebelunmnya, Presiden Jokowi menanggapi santai kritik dari BEM UI yang menjulukinya sebagai 'The King of Lip Service'.

Jokowi memahami kritikan tersebut merupakan bagian dari kebebasan berekspresi, dan ia meminta pihak kampus tidak menghalangi hal tersebut.

"Ya, saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi. Jadi kritik ini ya boleh-boleh saja. Universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi," kata Jokowi dalam rekaman video yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (29/6).

Kendati demikian, Jokowi menegaskan bahwa Indonesia memiliki budaya tata krama dan kesopanan.

(ryn/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK