Survei:78,7 Persen Responden Belum Vaksin, Takut Efek Samping
CNN Indonesia
Senin, 23 Agu 2021 21:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Iluustrasi vaksinasi. (CNN Indonesia/ Adi Maulana)
Jakarta, CNN Indonesia --
Survei menyebut mayoritas responden mengaku belum ikut program vaksinasi. Alasan dominannya adalah takut terhadap efek samping dan ketiadaan sentra imunisasi.
Berdasarkan hasil survei Fixpoll Research dan Strategic Consulting yang dirilis pada Senin (23/8), 78,7 persen responden mengaku belum divaksin, baik untuk dosis pertama dan kedua. Hanya 21,3 persen yang mengaku telah divaksin.
Survei Fixpoll ini digelar terhadap 1.240 responden di 34 provinsi, pada 16-27 Juli 2021. Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat akurasi mencapai 95 persen, dan proporsi masing-masing 50 persen laki-laki dan perempuan.
Lembaga ini juga mendapati bahwa 32,7 persen responden yang belum divaksin beralasan takut terhadap efek sampingnya, sementara 22,7 persen lainnya menyebut tak ada ketersediaan sentra vaksin.
Selain itu, ada alasan kesibukan, merasa tidak membutuhkan vaksin, takut dengan jarum suntik, ragu kehalalannya, dan tidak percaya pada vaksin yang disediakan pemerintah.
Sementara itu, berdasarkan data Satgas Covid-19, vaksinasi dosis pertama sudah menjangkau 55.192.494 orang, atau 26,5 persen dari total target yang mencapai 208.265.720 warga. Sementara, vaksinasi dosis kedua mencapai 29.403.345 orang (14,12 persen).
Terpisah, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan vaksinasi sudah menjangkau 296.704 warga (dosis pertama dan kedua) di wilayahnya atau 37,3 persen dengan target akhir Agustus bisa mencapai 50 persen.
"Kita harus kerja keras dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepedulian untuk mendukung pemerintah mengejar target 50 persen itu," ungkapnya, Senin (23/8).
Berdasarkan data Cakupan Vaksinasi Dinas Kesehatan Papua Barat per 22 Agustus, tercatat baru 189.413 orang di Papua Barat yang menerima suntikan dosis pertama atau 23,8 persen dari target sasaran 797.402 orang. Sedangkan dosis ke dua baru 106.539 orang atau 13.4 persen.
Dari total itu, Kabupaten Manokwari menjadi daerah dengan cakupan vaksinasi tertinggi di Papua Barat dengan total dosis pertama 54.543 orang (41,1 persen dari target sasaran 132.723 orang), dan dosis kedua baru mencapai 33.373 orang (25,1 persen).
Sedangkan daerah dengan cakupan vaksinasi terendah adalah Kabupaten Pegunungan Arfak dengan 113 orang yang divaksin dosis pertama (0,4 persen dari target sasaran 29.822 orang) dan 67 orang menerima dosis kedua (0,2 persen).
Sementara, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta pemerintah pusat memperbanyak distribusi vaksin Covid-19 ke wilayahnya.
Emil, begitu dia akrab disapa, menyebutkan Jabar dengan penduduk 50 juta jiwa saat ini baru menerima 13 juta dosis. Padahal Jabar membutuhkan sekitar 37,9 juta sasaran vaksinasi untuk mengejar target herd immunity.
"Per hari ini, kami diberi 13 juta dosis, sedangkan DKI 15 juta, padahal penduduk Jawa Barat 50 juta atau lima kalinya DKI. Jadi hal-hal seperti ini yang kami sampaikan," kata Emil, di Kota Bandung, Senin (23/8).
"Kami tidak minta yang macam-macam, kami minta keadilan secara proporsional. Kalau penduduknya banyak, tolong vaksin yang dikasihnya banyak," sambung Emil.
Untuk mencapai kekebalan komunal, pihaknya terus berupaya mempercepat penyuntikan vaksin Covid-19 hingga 400 ribu-500 ribu dosis per hari.
"Harapan kami, kita bisa naik minimal 450.000 dosis per hari supaya Desember selesai sesuai arahan presiden. Dengan catatan, suplai vaksinnya harus banyak dan memadai," ucapnya.
Senada, Pemerintah Kota Makassar menyinggung soal ketersediaan vaksin dari Pusat dalam mengejar vaksinasi 1.102.330 warga dengan menyasar setiap Rukun Tetangga (RT) mulai September.
"Tentu kita bergantung pada stok vaksin yang diberikan pemerintah pusat. Sehingga program ini baru akan dimulai September saat vaksin sudah tersedia," kata Juru bicara Makassar Recover, Henni Handayani, Senin (23/8).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar per 19 Agustus, vaksinasi di ibu kota Sulsel ini mencapai 45 persen. Rinciannya, 485.502 orang telah mendapat suntikan dosis pertama dan 300.695 orang telah mendapatkan dosis kedua.
Jakarta, CNN Indonesia --
Survei menyebut mayoritas responden mengaku belum ikut program vaksinasi. Alasan dominannya adalah takut terhadap efek samping dan ketiadaan sentra imunisasi.
Berdasarkan hasil survei Fixpoll Research dan Strategic Consulting yang dirilis pada Senin (23/8), 78,7 persen responden mengaku belum divaksin, baik untuk dosis pertama dan kedua. Hanya 21,3 persen yang mengaku telah divaksin.
Survei Fixpoll ini digelar terhadap 1.240 responden di 34 provinsi, pada 16-27 Juli 2021. Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat akurasi mencapai 95 persen, dan proporsi masing-masing 50 persen laki-laki dan perempuan.
Lembaga ini juga mendapati bahwa 32,7 persen responden yang belum divaksin beralasan takut terhadap efek sampingnya, sementara 22,7 persen lainnya menyebut tak ada ketersediaan sentra vaksin.
Selain itu, ada alasan kesibukan, merasa tidak membutuhkan vaksin, takut dengan jarum suntik, ragu kehalalannya, dan tidak percaya pada vaksin yang disediakan pemerintah.
Sementara itu, berdasarkan data Satgas Covid-19, vaksinasi dosis pertama sudah menjangkau 55.192.494 orang, atau 26,5 persen dari total target yang mencapai 208.265.720 warga. Sementara, vaksinasi dosis kedua mencapai 29.403.345 orang (14,12 persen).
Terpisah, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan vaksinasi sudah menjangkau 296.704 warga (dosis pertama dan kedua) di wilayahnya atau 37,3 persen dengan target akhir Agustus bisa mencapai 50 persen.
"Kita harus kerja keras dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepedulian untuk mendukung pemerintah mengejar target 50 persen itu," ungkapnya, Senin (23/8).
Berdasarkan data Cakupan Vaksinasi Dinas Kesehatan Papua Barat per 22 Agustus, tercatat baru 189.413 orang di Papua Barat yang menerima suntikan dosis pertama atau 23,8 persen dari target sasaran 797.402 orang. Sedangkan dosis ke dua baru 106.539 orang atau 13.4 persen.
Dari total itu, Kabupaten Manokwari menjadi daerah dengan cakupan vaksinasi tertinggi di Papua Barat dengan total dosis pertama 54.543 orang (41,1 persen dari target sasaran 132.723 orang), dan dosis kedua baru mencapai 33.373 orang (25,1 persen).
Sedangkan daerah dengan cakupan vaksinasi terendah adalah Kabupaten Pegunungan Arfak dengan 113 orang yang divaksin dosis pertama (0,4 persen dari target sasaran 29.822 orang) dan 67 orang menerima dosis kedua (0,2 persen).
Pasokan Sesuai Jumlah Penduduk
Gubernur Jabar Ridwan Kamil meminta alokasi vaksin lebih banyak. (Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Sementara, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta pemerintah pusat memperbanyak distribusi vaksin Covid-19 ke wilayahnya.
Emil, begitu dia akrab disapa, menyebutkan Jabar dengan penduduk 50 juta jiwa saat ini baru menerima 13 juta dosis. Padahal Jabar membutuhkan sekitar 37,9 juta sasaran vaksinasi untuk mengejar target herd immunity.
"Per hari ini, kami diberi 13 juta dosis, sedangkan DKI 15 juta, padahal penduduk Jawa Barat 50 juta atau lima kalinya DKI. Jadi hal-hal seperti ini yang kami sampaikan," kata Emil, di Kota Bandung, Senin (23/8).
"Kami tidak minta yang macam-macam, kami minta keadilan secara proporsional. Kalau penduduknya banyak, tolong vaksin yang dikasihnya banyak," sambung Emil.
Untuk mencapai kekebalan komunal, pihaknya terus berupaya mempercepat penyuntikan vaksin Covid-19 hingga 400 ribu-500 ribu dosis per hari.
"Harapan kami, kita bisa naik minimal 450.000 dosis per hari supaya Desember selesai sesuai arahan presiden. Dengan catatan, suplai vaksinnya harus banyak dan memadai," ucapnya.
Senada, Pemerintah Kota Makassar menyinggung soal ketersediaan vaksin dari Pusat dalam mengejar vaksinasi 1.102.330 warga dengan menyasar setiap Rukun Tetangga (RT) mulai September.
"Tentu kita bergantung pada stok vaksin yang diberikan pemerintah pusat. Sehingga program ini baru akan dimulai September saat vaksin sudah tersedia," kata Juru bicara Makassar Recover, Henni Handayani, Senin (23/8).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar per 19 Agustus, vaksinasi di ibu kota Sulsel ini mencapai 45 persen. Rinciannya, 485.502 orang telah mendapat suntikan dosis pertama dan 300.695 orang telah mendapatkan dosis kedua.