Golkar Disebut Harus Rebut Pemilih Jokowi-Prabowo Jika Mau Menang 2024

CNN Indonesia
Sabtu, 04 Dec 2021 05:57 WIB
Pakar memprediksi polarisasi pilpres 2024 akan sama dengan pilpres 2019. Untuk itu kunci untuk menang pilpres yakni rebut suara pemilih Jokowi-Prabowo. Pakar sebut capres bisa menang pilpres kalau rebut kubu Jokowi dan Prabowo di 2024. (Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran (Unpad), Kunto Adi Wibowo, menyatakan bahwa Partai Golkar memiliki mesin untuk merebut suara pemilih Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto demi memenangkan Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024.

Kunto memprediksi peta polarisasi pilpres 2024 akan sama dan menjadi warisan dari pilpres 2014 dan 2019. Siapapun calon presiden atau parpol yang bisa memecah suara dua kubu pilpres sebelumnya, yakni Jokowi dan Prabowo, maka bisa menjadi pemenang.

Menurutnya, mesin tersebut tinggal menunggu internal Partai Golkar untuk dimanfaatkan mendulang suara bagi calon presiden (capres) yang diusung Golkar nanti.


"Ini pekerjaan yang harusnya bisa dilakukan Golkar karena punya mesin politik besar," ucap Kunto kepada CNNIndonesia.com, Jumat (3/12).

Dia menjelaskan bahwa suara pemilih Jokowi di Pilpres 2019 yang dikenal dengan istilah cebong serta suara pemilih Prabowo di Pilpres 2019 yang dikenal dengan istilah kampret harus bisa direbut oleh Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, bila kelak resmi diusung menjadi capres pada Pilpres 2024.

Menurutnya, salah satu cara merebut suara pemilih Jokowi dan Prabowo ialah dengan menggandeng tokoh yang dekat atau menjadi simbol dua sosok tersebut.

Kunto berpendapat, salah tokoh yang bisa membantu merebut suara kelompok pemilih Jokowi ialah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

"Asal Airlangga bisa pecah itu ambil suara Prabowo dari kampret, kemudian ambil suara cebong dengan dukungan Jokowi atau meminang Ganjar, itu bisa terjadi," ucap Kunto.

"Misal Ganjar direbut untuk suara cebong, lalu untuk suara kampretnya kalau enggak Airlangga harus dekatin siapa sebagai simbol kampret," imbuhnya.

Ia menambahkan, Airlangga masih memiliki waktu lebih dari dua tahun untuk meningkatkan elektabilitas diri.

"Airlangga masih punya waktu satu sampai dua tahun ini untuk menjadikan dirinya tokoh yang jadi mercusuar gerakan atau nilai tertentu," katanya.

Sebelumnya, pengamat politik Universitas Al Azhar Ujang Komarudin memperkirakan perolehan suara Prabowo di Jabar bakal mengalami penurunan bila maju kembali menjadi capres di Pilpres 2024.

Menurutnya, konstruksi pemilih di Jabar senantiasa berubah dari pemilu ke pemilu, serta karakter masyarakat Jabar mudah terpesona dan kecewa.

"Kita lihat konstruksi pemilih Jabar selalu berubah-ubah setiap pemilu. Kita melihat ada kemungkinan pergeseran setelah itu, masyarakat Jabar mudah terpesona dan kecewa," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/11).

Sementara itu, Partai Gerindra mengaku akan membuka peluang kerja sama dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada pilpres 2024. Kerja sama dengan PDIP itu bertujuan untuk mengejar cita-cita menjadikan Ketua Umum Prabowo Subianto menjadi presiden.

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, salah satu cita-cita partai yang belum terwujud sampai saat ini adalah menjadikan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai presiden. Oleh karen itu, Muzani menyampaikan harapannya dapat bekerjasama dengan PDIP untuk maksud tersebut.

"Kita sama-sama bercita-cita membangun Indonesia dan kita sama-sama membela kepentingan rakyat. Kenapa kita tidak bekerjasama untuk mencapai tujuan itu. Untuk apa kita pengkerengan (bertengkar) yang membuat kegaduhan, padahal kita bisa bekerjasama," kata Muzani.

(mts/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER