Cerita Warga Desa Maluku Tengah Ditembaki Polisi Pakai Peluru Karet
CNN Indonesia
Rabu, 08 Des 2021 15:06 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Seorang perempuan terkena peluru karet dari aparat kepolisian di Maluku Tengah, Maluku. (CNN Indonesia/Said)
Jakarta, CNN Indonesia --
Warga adat Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, diberondong peluru karetaparat kepolisian pada Selasa (7/12) pagi. Setidaknya 19 orang orang luka-luka terkena tembakan tersebut.
Salah satu warga desa, Zukkarnain Wellete mengatakan penembakan terjadi saat sejumlah aparat Polres Maluku Tengah datang untuk menangkap pelaku perusakan tanaman warga Dusun Rohua dan pembakaran Desa Tamilouw.
Rombongan kepolisian mulai datang ke Desa Tamilouw sejak sekitar pukul 05.00 WIB. Sementara warga setempat masih ada yang menunaikan salat Subuh dan bersih-bersih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulkarnain menyebut banyak masyarakat yang panik melihat kedatangan aparat kepolisian bersenjata lengkap. Apalagi, melihat anggota Brimob ikut turun dengan membawa senjata laras panjang.
"Kalau mau melakukan penangkapan dari polres saja yang datang kenapa dari Brimob juga dilibatkan dengan peralatan lengkap?" kata Zulkarnain kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/12) malam.
Menurut Zulkarnain, masyarakat adat tidak ada yang tahu pihak kepolisian akan datang. Ia menyebut tak ada pemberitahuan dari kepolisian kepada para pimpinan adat.
"Kalau mau menangkap yang diduga pelaku, harusnya melakukan tindakan persuasif. Tapi, para pihak berwajib datang tanpa sepengetahuan kepala pemerintahan negeri Tamilouw," ujarnya.
Zulkarnain mengakui terdapat dua surat pemanggilan pada terduga pelaku pembakaran kantor desa. Para pimpinan pun sudah memberikan surat tersebut.
Namun, warga yang bersangkutan tak mengerti dan ketakutan sehingga surat pemanggilan tersebut tak digubris.
Di sisi lain, kata Zulkarnain, pihak berwenang juga tak ada yang menjelaskan terkait pemanggilan tersebut. Alih-alih memberi penjelasan, kepolisian justru datang secara tiba-tiba.
"Karena berbeda-beda pemahaman masyarakat terhadap hukum. Ketika ada pemanggilan, psikologis mereka terganggu mungkin. Ada yang berpandangan pemanggilan ini bisa saja langsung ditahan atau ditangkap. Jadi psikologisnya berbeda beda," ujarnya.
Zulkarnain mengatakan penembakan pertama terjadi sekitar pukul 05.30 WIB. Saat itu, warga baru keluar dari masjid. Penembakan pertama ini yang memicu gesekan antara masyarakat adat dan kepolisian.
Masyarakat adat mulai berdatangan lantaran tak terima ada orang tua yang ditembak.
"Waktu saat ditembaki beliau baru pulang salat subuh. Kena di tangan dan perut. Baru terjadi adu mulut karena merasa ada orang tua yang ditembaki, ortu yang tidak tau apa-apa kenapa ditembaki," ujarnya.
Zulkarnain membantah pihaknya menyerang lebih dahulu rombongan polisi tersebut. Ia menyebut masyarakat hanya memblokir jalan.
"Jadi tidak ada pemukulan. Yang jelas kita enggak pernah bereaksi duluan. Kita koperatif dengan cara yang baik," katanya.
Zulkarnain menyebut akibat rentetan tembakan polisi itu 19 orang terluka. Satu orang warga dilarikan ke RSUD Mahosi. Sementara 18 orang lainnya dilarikan ke Puskesmas Tamilouw.
"19 orang ditembak, 2 perempuan, sisanya laki-laki. Ada ibu-ibu dan anak SMP," ujarnya.
"Konflik Berkepanjangan' berlanjut ke halaman berikut...
Zulkarnain menjelaskan kejadian penembakan tersebut tak lepas dari konflik berkepanjangan antara Suku Nualu Dusun Rohua dan warga Tamioluw. Konflik itu dipantik oleh lahan yang berada di tapal batas kedua desa tersebut.
Berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Kecamatan Amahai, Negeri Sepa No 235/LMD-DS/VIII/2004 mengatakan lahan itu milik masyarakat adat Tamilouw. Namun, masyarakat Dusun Rohua masih melakukan aktivitas di atas lahan tersebut.
"Kalau penebangan itu dilakukan masyarakat adat, karena berpikir tanaman yang sudah di tanam itu sudah masuk pada area tanah adat Tamilouw berdasarkan surat keputusan tahun 2004," ujarnya.
Akhirnya pada 1 November lalu, kata Zulkarnain, masyarakat adat Tamilouw merusak tanaman yang ditanami warga Dusun Rohua. Warga Rohua lantas menyerang masyarakat adat Tamilouw sampai menyebabkan satu orang meninggal.
Namun, masyarakat mendengar pihak pemerintah desa justru bersepakat damai dengan warga Dusun Rohua. Masyarakat kecewa, sebab mereka ingin kematian warga Tamilouw diproses dan kepemilikan lahan itu diluruskan. Akhirnya warga geram dan membakar kantor desa.
"Terjadi pembakaran karena ada kekecewaan terhadap negeri karena pemuda berpikir, dalam kondisi kita berduka kenapa proses perdamaian dijalankan," ujarnya.
"Padahal bukan proses perdamaian yang dijalankan tapi kapan pembahasan pemerintah daerah, kepolisian terkait korban meninggal, luka dan kendaraan yang dibakar," kata Zulkarnain menambahkan.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes M. Roem Ohoirat mengatakan polisi terpaksa mengeluarkan tembakan ke arah warga lantaran mereka mengadang aparat yang hendak menangkap pelaku perusakan dan pembakaran kantor desa.
Ohoirat mengklaim warga saat itu sempat menyerang polisi hingga menyebabkan tujuh orang anggotanya luka-luka. Menurutnya, warga juga sempat merusak empat kendaraan polisi.
"Iya ada warga yang terkena tembakan, namun berapa jumlah kena peluru belum diketahui. Semua peluru karet karena sebelum berangkat semua sudah diperiksa," ujarnya.
Wakapolda Maluku Brigjen Jan de Fretes menyebut,pihaknya langsung mengutus tim dari Propam Polda Maluku menuju Desa Tamilouw untuk mendalami insiden ini. Hasil pemeriksaan akan disampaikan ke publik secara terang benderang.
"Percayakan kepada kami, kami akan mengungkapkan kebenaran, kalau anggota yang bersalah tidak mungkin kami membela mereka," ujar Jan de Fretes.
Jakarta, CNN Indonesia --
Warga adat Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, diberondong peluru karetaparat kepolisian pada Selasa (7/12) pagi. Setidaknya 19 orang orang luka-luka terkena tembakan tersebut.
Salah satu warga desa, Zukkarnain Wellete mengatakan penembakan terjadi saat sejumlah aparat Polres Maluku Tengah datang untuk menangkap pelaku perusakan tanaman warga Dusun Rohua dan pembakaran Desa Tamilouw.
Rombongan kepolisian mulai datang ke Desa Tamilouw sejak sekitar pukul 05.00 WIB. Sementara warga setempat masih ada yang menunaikan salat Subuh dan bersih-bersih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulkarnain menyebut banyak masyarakat yang panik melihat kedatangan aparat kepolisian bersenjata lengkap. Apalagi, melihat anggota Brimob ikut turun dengan membawa senjata laras panjang.
"Kalau mau melakukan penangkapan dari polres saja yang datang kenapa dari Brimob juga dilibatkan dengan peralatan lengkap?" kata Zulkarnain kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/12) malam.
Menurut Zulkarnain, masyarakat adat tidak ada yang tahu pihak kepolisian akan datang. Ia menyebut tak ada pemberitahuan dari kepolisian kepada para pimpinan adat.
"Kalau mau menangkap yang diduga pelaku, harusnya melakukan tindakan persuasif. Tapi, para pihak berwajib datang tanpa sepengetahuan kepala pemerintahan negeri Tamilouw," ujarnya.
Zulkarnain mengakui terdapat dua surat pemanggilan pada terduga pelaku pembakaran kantor desa. Para pimpinan pun sudah memberikan surat tersebut.
Namun, warga yang bersangkutan tak mengerti dan ketakutan sehingga surat pemanggilan tersebut tak digubris.
Di sisi lain, kata Zulkarnain, pihak berwenang juga tak ada yang menjelaskan terkait pemanggilan tersebut. Alih-alih memberi penjelasan, kepolisian justru datang secara tiba-tiba.
"Karena berbeda-beda pemahaman masyarakat terhadap hukum. Ketika ada pemanggilan, psikologis mereka terganggu mungkin. Ada yang berpandangan pemanggilan ini bisa saja langsung ditahan atau ditangkap. Jadi psikologisnya berbeda beda," ujarnya.
Zulkarnain mengatakan penembakan pertama terjadi sekitar pukul 05.30 WIB. Saat itu, warga baru keluar dari masjid. Penembakan pertama ini yang memicu gesekan antara masyarakat adat dan kepolisian.
Masyarakat adat mulai berdatangan lantaran tak terima ada orang tua yang ditembak.
"Waktu saat ditembaki beliau baru pulang salat subuh. Kena di tangan dan perut. Baru terjadi adu mulut karena merasa ada orang tua yang ditembaki, ortu yang tidak tau apa-apa kenapa ditembaki," ujarnya.
Zulkarnain membantah pihaknya menyerang lebih dahulu rombongan polisi tersebut. Ia menyebut masyarakat hanya memblokir jalan.
"Jadi tidak ada pemukulan. Yang jelas kita enggak pernah bereaksi duluan. Kita koperatif dengan cara yang baik," katanya.
Zulkarnain menyebut akibat rentetan tembakan polisi itu 19 orang terluka. Satu orang warga dilarikan ke RSUD Mahosi. Sementara 18 orang lainnya dilarikan ke Puskesmas Tamilouw.
"19 orang ditembak, 2 perempuan, sisanya laki-laki. Ada ibu-ibu dan anak SMP," ujarnya.
"Konflik Berkepanjangan' berlanjut ke halaman berikut...
Konflik Berkepanjangan Desa Tamioluw dan Dusun Rohua
Salah satu mobil polisi dirusah warga yang marah karena polisi menembaki warga dengan peluru karet. (Polda Maluku)
Zulkarnain menjelaskan kejadian penembakan tersebut tak lepas dari konflik berkepanjangan antara Suku Nualu Dusun Rohua dan warga Tamioluw. Konflik itu dipantik oleh lahan yang berada di tapal batas kedua desa tersebut.
Berdasarkan Surat Keputusan yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Kecamatan Amahai, Negeri Sepa No 235/LMD-DS/VIII/2004 mengatakan lahan itu milik masyarakat adat Tamilouw. Namun, masyarakat Dusun Rohua masih melakukan aktivitas di atas lahan tersebut.
"Kalau penebangan itu dilakukan masyarakat adat, karena berpikir tanaman yang sudah di tanam itu sudah masuk pada area tanah adat Tamilouw berdasarkan surat keputusan tahun 2004," ujarnya.
Akhirnya pada 1 November lalu, kata Zulkarnain, masyarakat adat Tamilouw merusak tanaman yang ditanami warga Dusun Rohua. Warga Rohua lantas menyerang masyarakat adat Tamilouw sampai menyebabkan satu orang meninggal.
Namun, masyarakat mendengar pihak pemerintah desa justru bersepakat damai dengan warga Dusun Rohua. Masyarakat kecewa, sebab mereka ingin kematian warga Tamilouw diproses dan kepemilikan lahan itu diluruskan. Akhirnya warga geram dan membakar kantor desa.
"Terjadi pembakaran karena ada kekecewaan terhadap negeri karena pemuda berpikir, dalam kondisi kita berduka kenapa proses perdamaian dijalankan," ujarnya.
"Padahal bukan proses perdamaian yang dijalankan tapi kapan pembahasan pemerintah daerah, kepolisian terkait korban meninggal, luka dan kendaraan yang dibakar," kata Zulkarnain menambahkan.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes M. Roem Ohoirat mengatakan polisi terpaksa mengeluarkan tembakan ke arah warga lantaran mereka mengadang aparat yang hendak menangkap pelaku perusakan dan pembakaran kantor desa.
Ohoirat mengklaim warga saat itu sempat menyerang polisi hingga menyebabkan tujuh orang anggotanya luka-luka. Menurutnya, warga juga sempat merusak empat kendaraan polisi.
"Iya ada warga yang terkena tembakan, namun berapa jumlah kena peluru belum diketahui. Semua peluru karet karena sebelum berangkat semua sudah diperiksa," ujarnya.
Wakapolda Maluku Brigjen Jan de Fretes menyebut,pihaknya langsung mengutus tim dari Propam Polda Maluku menuju Desa Tamilouw untuk mendalami insiden ini. Hasil pemeriksaan akan disampaikan ke publik secara terang benderang.
"Percayakan kepada kami, kami akan mengungkapkan kebenaran, kalau anggota yang bersalah tidak mungkin kami membela mereka," ujar Jan de Fretes.