Ahli Ragukan Klaim Luhut RI Aman Hadapi Covid-19 Nataru
CNN Indonesia
Rabu, 08 Des 2021 15:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Luhut klaim RI aman dari Covid-19 saat Nataru. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mewanti-wanti bahwa Indonesia sama sekali belum aman dari ancaman lonjakan kasus virus corona (Covid-19). Terlebih potensi ancaman varian varian SARS-CoV-2 B.1.1.529 atau varian Omicronyang memiliki tingkat kecepatan penularan lebih tinggi dan mampu menyebabkan reinfeksi.
Hal itu Dicky sampaikan sekaligus merespons Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang mengklaim Indonesia sudah lebih siap menghadapi musim libur akhir Natal dan tahun baru (Nataru), lantaran jumlah tes dan telusur lebih tinggi dari tahun lalu, serta capaian vaksinasi sudah cukup tinggi.
"Kita tidak bisa merasa cukup aman saat ini, kita Indonesia saat ini belum aman. Meskipun sero survei mengatakan warga bisa 80 persen sudah terinfeksi dan sudah punya antibodi, itu tidak dijamin. Karena dengan varian Omicron itu busa reinfeksi lagi," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dicky menambahkan, mayoritas kasus warga yang terinfeksi varian Omicron berasal dari mereka yang belum menerima vaksin Covid-19 dan juga lebih banyak menginfeksi usia muda, sehingga menurutnya varian ini cukup berbahaya.
Apalagi Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengklasifikasikan varian ini sebagai variant of concern (VoC) alias varian yang diwaspadai pada November lalu.
Ia juga menyebut, tingkat efektivitas vaksin terhadap varian ini kemungkinan hanya meminimalisir gejala klinis yang dialami sehingga tidak mengalami perburukan gejala atau bahkan kematian.
Sementara efektivitas vaksin untuk pencegahan terinfeksi dan meminimalisir penularan Covid-19 antarmanusia menurutnya masih belum dipastikan, dan masih perlu penelitian lebih mendalam lagi.
"Varian Omicron ini kasusnya lebih banyak terjadi pada orang yang belum divaksinasi, tapi usia muda. Nah, ini yang berbahaya namun ini memberi isyarat bahwa vaksin masih efektif," kata dia.
Lebih lanjut, Dicky juga mewanti-wanti bahwa strategi surveilans pemerintah masih belum dilakukan secara maksimal, ia mengibaratkan jaring yang dimiliki pemerintah sangat kecil, sementara masih banyak kasus Covid-19 di luaran sana yang belum terdeteksi sehingga dikhawatirkan dapat melonjak tiba-tiba suatu hari nanti.
Dicky juga menilai bahwa kondisi pandemi Covid-19 di 2022 mendatang akan menjadi tahun yang sulit diprediksi. Ia menyebut, potensi munculnya gelombang akan sulit diprediksi secara presisi lantaran varian-varian baru memiliki kemampuan yang kadang tidak diduga-duga.
"Namun kita harus ingat, ancaman tahun 2022 itu ternyata tidak berkurang. Meskipun harapan semakin banyak dengan adanya vaksin, obat, dan juga sudah mengetahui strategi efektif tahu gini-gitu, tapi tetap jadi ancaman," jelasnya.
Selain itu, Dicky menilai capaian vaksinasi di Indonesia masih belum cukup optimal kendari sudah cukup baik. Buktinya, dari target pemerintah yakni minimal 60 persen dosis pertama vaksinasi Covid-19 tercapai di November, namun data Kementerian Kesehatan mencatat masih terdapat 15 provinsi yang capaian vaksinasinya masih di bawah 60 persen.
Mereka yakni, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Kemudian, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Maluku, Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Papua.
"Nah vaksinasi uni harus segera diupayakan ya, ditingkatkan, diakselerasi vaksinasi ini. Karena tampaknya untuk Indonesia harus dipahami begini, kemarin itu berhasil karena vaksinasi banyak dilakukan di Jawa-Bali, dan dua pulau itu mobilitas memang terbesar," lanjutnya.
Apalagi menurutnya, potensi tsunami long covid-19 di Indonesia bisa terjadi kapan saja mengingat saat ini sudah banyak kasus long Covid-19 di dunia. Ia menyebut, 1 dari 10 pasien yang melakukan transpalasi paru-paru adalah mereka yang memiliki riwayat long Covid-19.
Dicky menambahkan, 30 persen pasien dari kasus Covid-19 di suatu negara kebanyakan akan mengalami kondisi long Covid-19. Dan 70 persen dari 30 persen itu akan memiliki tingkat keparahan long Covid-19 yang sedikit lebih tinggi sehingga mampu mempengaruhi aktivitas mereka.
"Jadi harus diingat, pulih dari Covid-19 ini bukan selesai begitu saja. Saya selalu mengingatkan potensi tsunami long Covid-19 akan sangat serius dan itu by research," ujar Dicky.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan pemerintah membatalkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di seluruh wilayah Indonesia pada masa libur Nataru.
Luhut mengklaim aktivitas surveilans testing dan tracing di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan 2020 lalu. Selain itu sepanjang 2021 ini pemerintah juga telah melaksanakan program vaksinasi yang terkini sudah menyasar 143 juta orang untuk pemberian dosis pertama.
Adapun sebagai ganti pembatalan PPKM level 3, Luhut memastikan pemerintah akan memperketat sejumlah aturan. Misalnya, larangan perayaan tahun baru di semua tempat keramaian.
Pemerintah juga membatasi kapasitas pengunjung mal, pusat perbelanjaan, restoran, dan pusat keramaian lainnya maksimal 75 persen. Acara sosial budaya dibatasi maksimal 50 persen peserta.
Aturan perjalanan jarak jauh pun menurutnya ikut diperketat. Di antaranya, bagi warga yang tidak bisa menerima vaksin Covid-19 karena alasan medis dilarang bepergian jarak jauh.
Adapun pelaku perjalanan lain harus sudah divaksin dan menunjukkan hasil tes antigen negatif Covid-19. Anak-anak wajib tes PCR sebelum ikut dalam perjalanan jarak jauh via pesawat. Jika melalui jalur darat atau laut, anak-anak boleh mengikuti rapid test antigen.
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mewanti-wanti bahwa Indonesia sama sekali belum aman dari ancaman lonjakan kasus virus corona (Covid-19). Terlebih potensi ancaman varian varian SARS-CoV-2 B.1.1.529 atau varian Omicronyang memiliki tingkat kecepatan penularan lebih tinggi dan mampu menyebabkan reinfeksi.
Hal itu Dicky sampaikan sekaligus merespons Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang mengklaim Indonesia sudah lebih siap menghadapi musim libur akhir Natal dan tahun baru (Nataru), lantaran jumlah tes dan telusur lebih tinggi dari tahun lalu, serta capaian vaksinasi sudah cukup tinggi.
"Kita tidak bisa merasa cukup aman saat ini, kita Indonesia saat ini belum aman. Meskipun sero survei mengatakan warga bisa 80 persen sudah terinfeksi dan sudah punya antibodi, itu tidak dijamin. Karena dengan varian Omicron itu busa reinfeksi lagi," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dicky menambahkan, mayoritas kasus warga yang terinfeksi varian Omicron berasal dari mereka yang belum menerima vaksin Covid-19 dan juga lebih banyak menginfeksi usia muda, sehingga menurutnya varian ini cukup berbahaya.
Apalagi Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengklasifikasikan varian ini sebagai variant of concern (VoC) alias varian yang diwaspadai pada November lalu.
Ia juga menyebut, tingkat efektivitas vaksin terhadap varian ini kemungkinan hanya meminimalisir gejala klinis yang dialami sehingga tidak mengalami perburukan gejala atau bahkan kematian.
Sementara efektivitas vaksin untuk pencegahan terinfeksi dan meminimalisir penularan Covid-19 antarmanusia menurutnya masih belum dipastikan, dan masih perlu penelitian lebih mendalam lagi.
"Varian Omicron ini kasusnya lebih banyak terjadi pada orang yang belum divaksinasi, tapi usia muda. Nah, ini yang berbahaya namun ini memberi isyarat bahwa vaksin masih efektif," kata dia.
Lebih lanjut, Dicky juga mewanti-wanti bahwa strategi surveilans pemerintah masih belum dilakukan secara maksimal, ia mengibaratkan jaring yang dimiliki pemerintah sangat kecil, sementara masih banyak kasus Covid-19 di luaran sana yang belum terdeteksi sehingga dikhawatirkan dapat melonjak tiba-tiba suatu hari nanti.
Dicky juga menilai bahwa kondisi pandemi Covid-19 di 2022 mendatang akan menjadi tahun yang sulit diprediksi. Ia menyebut, potensi munculnya gelombang akan sulit diprediksi secara presisi lantaran varian-varian baru memiliki kemampuan yang kadang tidak diduga-duga.
"Namun kita harus ingat, ancaman tahun 2022 itu ternyata tidak berkurang. Meskipun harapan semakin banyak dengan adanya vaksin, obat, dan juga sudah mengetahui strategi efektif tahu gini-gitu, tapi tetap jadi ancaman," jelasnya.
Ilustrasi Covid-19 di Indonesia. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Selain itu, Dicky menilai capaian vaksinasi di Indonesia masih belum cukup optimal kendari sudah cukup baik. Buktinya, dari target pemerintah yakni minimal 60 persen dosis pertama vaksinasi Covid-19 tercapai di November, namun data Kementerian Kesehatan mencatat masih terdapat 15 provinsi yang capaian vaksinasinya masih di bawah 60 persen.
Mereka yakni, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Kemudian, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Maluku, Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Papua.
"Nah vaksinasi uni harus segera diupayakan ya, ditingkatkan, diakselerasi vaksinasi ini. Karena tampaknya untuk Indonesia harus dipahami begini, kemarin itu berhasil karena vaksinasi banyak dilakukan di Jawa-Bali, dan dua pulau itu mobilitas memang terbesar," lanjutnya.
Apalagi menurutnya, potensi tsunami long covid-19 di Indonesia bisa terjadi kapan saja mengingat saat ini sudah banyak kasus long Covid-19 di dunia. Ia menyebut, 1 dari 10 pasien yang melakukan transpalasi paru-paru adalah mereka yang memiliki riwayat long Covid-19.
Dicky menambahkan, 30 persen pasien dari kasus Covid-19 di suatu negara kebanyakan akan mengalami kondisi long Covid-19. Dan 70 persen dari 30 persen itu akan memiliki tingkat keparahan long Covid-19 yang sedikit lebih tinggi sehingga mampu mempengaruhi aktivitas mereka.
"Jadi harus diingat, pulih dari Covid-19 ini bukan selesai begitu saja. Saya selalu mengingatkan potensi tsunami long Covid-19 akan sangat serius dan itu by research," ujar Dicky.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan pemerintah membatalkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di seluruh wilayah Indonesia pada masa libur Nataru.
Luhut mengklaim aktivitas surveilans testing dan tracing di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan 2020 lalu. Selain itu sepanjang 2021 ini pemerintah juga telah melaksanakan program vaksinasi yang terkini sudah menyasar 143 juta orang untuk pemberian dosis pertama.
Adapun sebagai ganti pembatalan PPKM level 3, Luhut memastikan pemerintah akan memperketat sejumlah aturan. Misalnya, larangan perayaan tahun baru di semua tempat keramaian.
Pemerintah juga membatasi kapasitas pengunjung mal, pusat perbelanjaan, restoran, dan pusat keramaian lainnya maksimal 75 persen. Acara sosial budaya dibatasi maksimal 50 persen peserta.
Aturan perjalanan jarak jauh pun menurutnya ikut diperketat. Di antaranya, bagi warga yang tidak bisa menerima vaksin Covid-19 karena alasan medis dilarang bepergian jarak jauh.
Adapun pelaku perjalanan lain harus sudah divaksin dan menunjukkan hasil tes antigen negatif Covid-19. Anak-anak wajib tes PCR sebelum ikut dalam perjalanan jarak jauh via pesawat. Jika melalui jalur darat atau laut, anak-anak boleh mengikuti rapid test antigen.