Sekjen Gerindra dan PDIP Buka Suara Peluang Usung Prabowo-Puan di 2024
CNN Indonesia
Rabu, 22 Des 2021 07:34 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sekjen Gerindra Ahmad Muzani dan jajaran Gerindra menemui Sekretaris Jendral PDIP Hasto Kristianto dan jajarannya di DPP PDIP, Jakarta Selasa (24/8/2021). (Arsip Istimewa/Tim Media PDIP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekretaris Jenderal Partai GerindraAhmad Muzani dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bicara soal peluang mengusung Prabowo Subianto-Puan Maharani sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.
Muzani mengatakan Puan adalah seorang pemimpin dan pengurus partai politik besar. Oleh karena itu, menurutnya, hal yang wajar ketika kader-kader PDIP mulai mempertimbangkan Puan untuk menjadi pemimpin Indonesia.
"Puan pengurus parpol besar, pemenang pemilu dua kali, pernah menjadi anggota DPR, ketua fraksi, bahkan menteri dalam periode pertama Jokowi, sekarang adalah Ketua DPR. Kalau kemudian ada pikiran dan pendapat dari teman-teman PDIP sudah selayaknya atau sudah waktunya beliau naik kelas menjadi calon pemimpin republik, saya kira sesuatu yang wajar-wajar saja," kata Muzani dalam program Newsroom dengan tema 'Peluang Duet Prabowo-Puan di Pilpres 2024' di CNN Indonesia TV, Senin (20/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Muzani tidak menjawab secara lugas saat ditanya bagaimana sikap Gerindra bila komposisi yang diusung di Pilpres 2024 nantinya ialah Puan menjadi capres dan Prabowo menjadi cawapres.
Ia hanya mengatakan pihaknya masih punya waktu dua tahun menuju Pilpres 2024. Menurutnya, konsentrasi Gerindra dan PDIP saat ini ialah menyukseskan kepemimpinan Jokowi sampai akhir masa jabatan
"Kami harus realistis bahwa kami memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menyukseskan kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf [Amin]. Prabowo adalah Menteri Pertahanan dalam kabinet itu dan kami juga punya energi politik untuk menyukseskan itu," katanya.
Meski demikian, lanjutnya, pihaknya tidak mau lengah jelang Pilpres 2024. Menurutnya, Gerindra terus menyiapkan diri menghadapi pesta demokrasi lima tahunan tersebut dengan senantiasa menggelorakan Prabowo sebagai capres di internal Gerindra.
"Kami tidak boleh lengah pesta demokrasi, pemilihan legislatif, pemilihan presiden harus tetap kita siapkan. Itu sebabnya, kami terus menggelorakan di dalam internal dan kekuatan partai kami bahwa yang kami inginkan untuk maju di 2024 adalah Prabowo menjadi capres," ucap Wakil Ketua MPR itu.
Terkait hubungan Gerindra dengan PDIP, kata Muzani, berlangsung cukup bagus karena memiliki cara pandang yang sama tentang bangsa, negara, hingga nasionalisme.
Menurutnya, kepastian keberlanjutan hubungan Gerindra dan PDIP menjadi koalisi di Pilpres 2024 tergantung pada model politik masing-masing partai di hari mendatang.
"Apakah nanti itu akan berlanjut di 2024, harapan kami tentunya seperti itu. Akan tetapi situasi akan banyak ditentukan model politik PDIP-Gerindra terus digelorakan," ucapnya.
Baca halaman selanjutnya, jawaban Hasto dalam forum yang sama.
Di sisi lain, Hasto juga tidak menjawab secara lugas saat ditanya soal kerelaan PDIP bila Puan hanya menjadi cawapres pendamping Prabowo di Pilpres 2024 mendatang.
Bagi PDIP, kata Hasto, hal terpenting adalah membangun kekuatan gotong royong nasional karena PDIP menyadari berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diselesaikan tanpa membangun kerja sama.
"Untuk itulah dialog secara intens termasuk dengan Gerindra. Muzani sampai sekarang masih merasakan betapa nikmatnya sayur lodeh dari PDIP ketika beliau datang ke Kantor PDIP," ucap Hasto.
Terkait koalisi untuk Pilpres 2024, dia meyakini skala prioritas PDIP dan Gerindra saat ini adalah memperkuat modal politik masing-masing dengan bekerja turun ke masyarakat.
Menurutnya ketika elektoral masing-masing partai meningkat, maka ruang untuk kerja sama dapat diformulasikan lebih baik.
Namun, Hasto menegaskan, langkah Gerindra bergabung dalam koalisi pendukung pemerintahan Jokow-Ma'ruf telah memberikan ruang dialog dan kerja sama lebih besar untuk saling membangun dan saling pengertian dalam upaya merumuskan masa depan bangsa.
"Terkait siapa mau berpartner dengan siapa tentu saja masih memerlukan kajian, pertimbangan politik yang mendalam, dan kajian itu tidak bisa hanya dijodohkan oleh lembaga survei tetapi juga melalui kalkulasi politik," kata Hasto.
Sebagai informasi, Prabowo yang merupakan Ketua Umum Gerindra pernah tiga kali bertarung dalam Pilpres. Dua terakhir pada 2019 dan 2014 sebagai Capres, di mana dia kalah dari Joko Widodo yang kini memasuki periode kedua kepresidenannya.
Kemudian pada 2009 dia menjadi Cawapres berpasangan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam Pilpres yang diikuti tiga pasang calon itu yang muncul sebagai pemenang adalah pasangan petahana, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono.
Setelah sempat berseberangan pasca Pilgub DKI 2017, Gerindra kali ini kembali mesra dengan PDIP yang diperlihatkan dengan penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan, dan satu kader lainnya dalam kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.
Sementara itu Puan Maharani, yang merupakan putri dari Megawati, saat ini merupakan Ketua DPP PDIP juga Ketua DPR RI.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekretaris Jenderal Partai GerindraAhmad Muzani dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bicara soal peluang mengusung Prabowo Subianto-Puan Maharani sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.
Muzani mengatakan Puan adalah seorang pemimpin dan pengurus partai politik besar. Oleh karena itu, menurutnya, hal yang wajar ketika kader-kader PDIP mulai mempertimbangkan Puan untuk menjadi pemimpin Indonesia.
"Puan pengurus parpol besar, pemenang pemilu dua kali, pernah menjadi anggota DPR, ketua fraksi, bahkan menteri dalam periode pertama Jokowi, sekarang adalah Ketua DPR. Kalau kemudian ada pikiran dan pendapat dari teman-teman PDIP sudah selayaknya atau sudah waktunya beliau naik kelas menjadi calon pemimpin republik, saya kira sesuatu yang wajar-wajar saja," kata Muzani dalam program Newsroom dengan tema 'Peluang Duet Prabowo-Puan di Pilpres 2024' di CNN Indonesia TV, Senin (20/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Muzani tidak menjawab secara lugas saat ditanya bagaimana sikap Gerindra bila komposisi yang diusung di Pilpres 2024 nantinya ialah Puan menjadi capres dan Prabowo menjadi cawapres.
Ia hanya mengatakan pihaknya masih punya waktu dua tahun menuju Pilpres 2024. Menurutnya, konsentrasi Gerindra dan PDIP saat ini ialah menyukseskan kepemimpinan Jokowi sampai akhir masa jabatan
"Kami harus realistis bahwa kami memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menyukseskan kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf [Amin]. Prabowo adalah Menteri Pertahanan dalam kabinet itu dan kami juga punya energi politik untuk menyukseskan itu," katanya.
Meski demikian, lanjutnya, pihaknya tidak mau lengah jelang Pilpres 2024. Menurutnya, Gerindra terus menyiapkan diri menghadapi pesta demokrasi lima tahunan tersebut dengan senantiasa menggelorakan Prabowo sebagai capres di internal Gerindra.
"Kami tidak boleh lengah pesta demokrasi, pemilihan legislatif, pemilihan presiden harus tetap kita siapkan. Itu sebabnya, kami terus menggelorakan di dalam internal dan kekuatan partai kami bahwa yang kami inginkan untuk maju di 2024 adalah Prabowo menjadi capres," ucap Wakil Ketua MPR itu.
Terkait hubungan Gerindra dengan PDIP, kata Muzani, berlangsung cukup bagus karena memiliki cara pandang yang sama tentang bangsa, negara, hingga nasionalisme.
Menurutnya, kepastian keberlanjutan hubungan Gerindra dan PDIP menjadi koalisi di Pilpres 2024 tergantung pada model politik masing-masing partai di hari mendatang.
"Apakah nanti itu akan berlanjut di 2024, harapan kami tentunya seperti itu. Akan tetapi situasi akan banyak ditentukan model politik PDIP-Gerindra terus digelorakan," ucapnya.
Baca halaman selanjutnya, jawaban Hasto dalam forum yang sama.
Jawaban tak Lugas dari Hasto
Sekjen Gerindra Ahmad Muzani dan jajaran Gerindra menemui Sekretaris Jendral PDIP Hasto Kristianto dan jajarannya di DPP PDIP, Jakarta Selasa (24/8/2021). (Arsip Istimewa/Tim Media PDIP)
Di sisi lain, Hasto juga tidak menjawab secara lugas saat ditanya soal kerelaan PDIP bila Puan hanya menjadi cawapres pendamping Prabowo di Pilpres 2024 mendatang.
Bagi PDIP, kata Hasto, hal terpenting adalah membangun kekuatan gotong royong nasional karena PDIP menyadari berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diselesaikan tanpa membangun kerja sama.
"Untuk itulah dialog secara intens termasuk dengan Gerindra. Muzani sampai sekarang masih merasakan betapa nikmatnya sayur lodeh dari PDIP ketika beliau datang ke Kantor PDIP," ucap Hasto.
Terkait koalisi untuk Pilpres 2024, dia meyakini skala prioritas PDIP dan Gerindra saat ini adalah memperkuat modal politik masing-masing dengan bekerja turun ke masyarakat.
Menurutnya ketika elektoral masing-masing partai meningkat, maka ruang untuk kerja sama dapat diformulasikan lebih baik.
Namun, Hasto menegaskan, langkah Gerindra bergabung dalam koalisi pendukung pemerintahan Jokow-Ma'ruf telah memberikan ruang dialog dan kerja sama lebih besar untuk saling membangun dan saling pengertian dalam upaya merumuskan masa depan bangsa.
"Terkait siapa mau berpartner dengan siapa tentu saja masih memerlukan kajian, pertimbangan politik yang mendalam, dan kajian itu tidak bisa hanya dijodohkan oleh lembaga survei tetapi juga melalui kalkulasi politik," kata Hasto.
Sebagai informasi, Prabowo yang merupakan Ketua Umum Gerindra pernah tiga kali bertarung dalam Pilpres. Dua terakhir pada 2019 dan 2014 sebagai Capres, di mana dia kalah dari Joko Widodo yang kini memasuki periode kedua kepresidenannya.
Kemudian pada 2009 dia menjadi Cawapres berpasangan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam Pilpres yang diikuti tiga pasang calon itu yang muncul sebagai pemenang adalah pasangan petahana, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono.
Setelah sempat berseberangan pasca Pilgub DKI 2017, Gerindra kali ini kembali mesra dengan PDIP yang diperlihatkan dengan penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan, dan satu kader lainnya dalam kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.
Sementara itu Puan Maharani, yang merupakan putri dari Megawati, saat ini merupakan Ketua DPP PDIP juga Ketua DPR RI.