Baliho Puan di Lokasi Bencana, Citra Negatif di Mata Publik
CNN Indonesia
Rabu, 22 Des 2021 16:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejumlah baliho Ketua DPR RI Puan Maharani, terpasang di sekitar desa terdampak erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. (CNN Indonesia/farid rahman)
Jakarta, CNN Indonesia --
Baliho bergambar Ketua DPR Puan Maharani dipajang di sejumlah titik di lokasi bencana erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Pemasangan baliho itu dinilai tidak etis dan dapat membuat citra Puan di mata publik menjadi negatif.
Baliho itu memajang potret diri Puan dengan latar foto para pengungsi. Selain itu ada pula logo 'Relawan Puan Maharani' dilengkapi kalimat penyemangat.
"Tangismu, tangisku. Ceriamu, ceriaku. Saatnya bangkit menatap masa depan," bunyi tulisan dalam baliho tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Ahmad Samiludin, sudah melihat baliho Puan sejak Senin (20/12).
Ia berujar jumlah baliho yang terpasang cukup banyak karena hampir ada di sepanjang jalan dari Kantor Kecamatan Candipuro sampai Balaidesa Sumberwuluh.
"Setiap 30 meter ada baliho, dari kecamatan sampai balai desa saya waktu lewat mungkin sampai ratusan jumlahnya," kata Ahmad.
Relawan yang bertugas di wilayah terdampak erupsi Gunung Semeru, Christian Joshua Pale, menuturkan baliho Puan terpasang persis di depan posko relawan dan pengungsi di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.
Menurut dia, pemasangan baliho membuat penduduk sakit hati. Sebab, baliho terpasang, tetapi kader PDIP--yang notabene merupakan partai politik Puan-- tidak terlihat di wilayah terisolasi.
"Jujur ini menyakitkan hati, kenapa juga balihonya panjang-panjang banyak terpasang seperti ini," ucap Christian.
Pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, mengatakan pemasangan baliho merupakan bagian dari komunikasi politik yang coba dibangun oleh Puan. Hanya saja, pemasangan baliho di lokasi terdampak bencana tidak tepat karena dapat ditafsirkan nihil empati.
"Apa yang dilakukan Mbak Puan ini sebenarnya bagian dari upaya membangun komunikasi politik ke publik terutama yang terdampak bencana. Cuma, cara komunikasi politik dia enggak pas kalau sekadar menampilkan baliho-baliho saja," ujar Asrinaldi melalui sambungan telepon, Rabu (22/12).
Ia berujar baliho merupakan sarana kampanye yang efektif sebagai komunikasi awal. Namun, ia menekankan pemasangan baliho juga harus memperhatikan kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam hal ini Asrinaldi mengkritik keras strategi yang dilakukan oleh Puan ataupun timnya untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas.
"Kalau baliho yang ditampilkan di sana, ya, persepsi orang jadi negatif. Artinya, apa kepentingan baliho di sana. Kecuali Mbak Puan datang dan beri bantuan, beri perhatian, dialog, dan simpati," imbuhnya.
Lebih lanjut, Asrinaldi menyinggung elektabilitas Puan yang masih rendah berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga survei meskipun secara masif memasang baliho.
Survei Populi Center menyatakan Puan memperoleh dukungan sangat kecil sebagai calon presiden dengan 17,5 persen dukungan masyarakat. Anak dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu tertinggal jauh dari rekan separtai yakni Ganjar Pranowo dengan 58,3 persen dukungan masyarakat.
Survei dilakukan Populi Center sepanjang 1-9 Desember 2021 dengan melibatkan 1.200 responden yang dipilih lewat metode acak sederhana. Survei memiliki ambang batas kesalahan±2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Sementara hasil survei Charta Politika menyatakan Puan harus berjuang lebih keras lagi jika ingin menjadi calon presiden. Sebab, dia hanya mendapatkan elektabilitas sebesar 0,8 persen.Lagi-lagi jauh tertinggal dari Ganjar dengan elektabilitas sebesar 25,8 persen.
Survei Charta Politika dilakukan pada 29 November sampai 6 Desember 2021. Survei ini melalui wawancara tatap muka langsung dengan menggunakan kuesioner.
Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden yang sudah berusia 17 tahun dan tersebar di 34 Provinsi. Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat dengan margin of error ±2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
"Memang untuk bisa dipilih, kenal secara emosional, memang harus tahu siapa orangnya. Dengan cara baliho, untuk komunikasi awal efektif. Cuma memasang baliho bukan sekadar masang saja," terang Asrinaldi.
Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Umar Sholahudin, menilai pemasangan baliho di lokasi terdampak bencana sebagai perbuatan yang tidak etis.
Selain mengganggu pemandangan masyarakat, hal tersebut mencerminkan perbuatan yang sedang ingin menebar pesona di tengah penderitaan masyarakat.
"Secara sosiologis, ketika masyarakat sedang dilanda bencana dan penderitaan, mestinya harus ditunjukkan simpati dan empatinya dan bentuk simpati dan empati itu menurut saya yang paling riil dan penuh makna adalah dengan hadir secara langsung. Misal dengan membantu relokasi warga atau dengan menggalang dana," kata Umar.
"Tebar baliho kesannya tebar pesona, bukan simpati," lanjutnya.
Ia berpendapat semestinya pihak-pihak yang memasang baliho Puan bisa memahami situasi dan kondisi masyarakat di daerah bencana.
"Hadirnya beberapa baliho di daerah bencana menurut saya itu kurang patut dan kurang etis ketika masyarakat sedang dilanda bencana, kesedihan, penderitaan, tapi kemudian yang muncul adalah baliho-baliho yang nuansa politiknya lebih tinggi daripada nuansa kemanusiaan," tandasnya.
Umar menambahkan, pemasangan baliho tersebut sangat merugikan Puan yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai pemimpin negara di 2024 mendatang.
"Secara politik itu sebenarnya akan merugikan Mbak Puan. Masih banyak cara yang lebih soft, simpati, dan empati bagi Puan untuk bisa memberikan perhatian kepada masyarakat korban bencana atau korban-korban yang lain, tidak dengan baliho tentunya," pungkasnya.
Pada Senin (20/12) Puan melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Lumajang untuk melihat kondisi warga korban letusan Gunung Semeru.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan pemasangan baliho Puan Maharani di sekitar desa terdampak erupsi Gunung Semeru sebagai bentuk semangat untuk warga.
Menurutnya, kritik yang selama ini dilontarkan kepada Puan terkait baliho tersebut adalah hal lumrah dan biasa-biasa saja.
Jakarta, CNN Indonesia --
Baliho bergambar Ketua DPR Puan Maharani dipajang di sejumlah titik di lokasi bencana erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Pemasangan baliho itu dinilai tidak etis dan dapat membuat citra Puan di mata publik menjadi negatif.
Baliho itu memajang potret diri Puan dengan latar foto para pengungsi. Selain itu ada pula logo 'Relawan Puan Maharani' dilengkapi kalimat penyemangat.
"Tangismu, tangisku. Ceriamu, ceriaku. Saatnya bangkit menatap masa depan," bunyi tulisan dalam baliho tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Ahmad Samiludin, sudah melihat baliho Puan sejak Senin (20/12).
Ia berujar jumlah baliho yang terpasang cukup banyak karena hampir ada di sepanjang jalan dari Kantor Kecamatan Candipuro sampai Balaidesa Sumberwuluh.
"Setiap 30 meter ada baliho, dari kecamatan sampai balai desa saya waktu lewat mungkin sampai ratusan jumlahnya," kata Ahmad.
Relawan yang bertugas di wilayah terdampak erupsi Gunung Semeru, Christian Joshua Pale, menuturkan baliho Puan terpasang persis di depan posko relawan dan pengungsi di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro.
Menurut dia, pemasangan baliho membuat penduduk sakit hati. Sebab, baliho terpasang, tetapi kader PDIP--yang notabene merupakan partai politik Puan-- tidak terlihat di wilayah terisolasi.
"Jujur ini menyakitkan hati, kenapa juga balihonya panjang-panjang banyak terpasang seperti ini," ucap Christian.
Pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, mengatakan pemasangan baliho merupakan bagian dari komunikasi politik yang coba dibangun oleh Puan. Hanya saja, pemasangan baliho di lokasi terdampak bencana tidak tepat karena dapat ditafsirkan nihil empati.
"Apa yang dilakukan Mbak Puan ini sebenarnya bagian dari upaya membangun komunikasi politik ke publik terutama yang terdampak bencana. Cuma, cara komunikasi politik dia enggak pas kalau sekadar menampilkan baliho-baliho saja," ujar Asrinaldi melalui sambungan telepon, Rabu (22/12).
Ia berujar baliho merupakan sarana kampanye yang efektif sebagai komunikasi awal. Namun, ia menekankan pemasangan baliho juga harus memperhatikan kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam hal ini Asrinaldi mengkritik keras strategi yang dilakukan oleh Puan ataupun timnya untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas.
"Kalau baliho yang ditampilkan di sana, ya, persepsi orang jadi negatif. Artinya, apa kepentingan baliho di sana. Kecuali Mbak Puan datang dan beri bantuan, beri perhatian, dialog, dan simpati," imbuhnya.
Lebih lanjut, Asrinaldi menyinggung elektabilitas Puan yang masih rendah berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga survei meskipun secara masif memasang baliho.
Survei Populi Center menyatakan Puan memperoleh dukungan sangat kecil sebagai calon presiden dengan 17,5 persen dukungan masyarakat. Anak dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu tertinggal jauh dari rekan separtai yakni Ganjar Pranowo dengan 58,3 persen dukungan masyarakat.
Survei dilakukan Populi Center sepanjang 1-9 Desember 2021 dengan melibatkan 1.200 responden yang dipilih lewat metode acak sederhana. Survei memiliki ambang batas kesalahan±2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Sementara hasil survei Charta Politika menyatakan Puan harus berjuang lebih keras lagi jika ingin menjadi calon presiden. Sebab, dia hanya mendapatkan elektabilitas sebesar 0,8 persen.Lagi-lagi jauh tertinggal dari Ganjar dengan elektabilitas sebesar 25,8 persen.
Survei Charta Politika dilakukan pada 29 November sampai 6 Desember 2021. Survei ini melalui wawancara tatap muka langsung dengan menggunakan kuesioner.
Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden yang sudah berusia 17 tahun dan tersebar di 34 Provinsi. Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat dengan margin of error ±2,83 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
"Memang untuk bisa dipilih, kenal secara emosional, memang harus tahu siapa orangnya. Dengan cara baliho, untuk komunikasi awal efektif. Cuma memasang baliho bukan sekadar masang saja," terang Asrinaldi.
Pengungsi mengevakuasi barang dan membersihkan rumah. (AFP/JUNI KRISWANTO)
Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Umar Sholahudin, menilai pemasangan baliho di lokasi terdampak bencana sebagai perbuatan yang tidak etis.
Selain mengganggu pemandangan masyarakat, hal tersebut mencerminkan perbuatan yang sedang ingin menebar pesona di tengah penderitaan masyarakat.
"Secara sosiologis, ketika masyarakat sedang dilanda bencana dan penderitaan, mestinya harus ditunjukkan simpati dan empatinya dan bentuk simpati dan empati itu menurut saya yang paling riil dan penuh makna adalah dengan hadir secara langsung. Misal dengan membantu relokasi warga atau dengan menggalang dana," kata Umar.
"Tebar baliho kesannya tebar pesona, bukan simpati," lanjutnya.
Ia berpendapat semestinya pihak-pihak yang memasang baliho Puan bisa memahami situasi dan kondisi masyarakat di daerah bencana.
"Hadirnya beberapa baliho di daerah bencana menurut saya itu kurang patut dan kurang etis ketika masyarakat sedang dilanda bencana, kesedihan, penderitaan, tapi kemudian yang muncul adalah baliho-baliho yang nuansa politiknya lebih tinggi daripada nuansa kemanusiaan," tandasnya.
Umar menambahkan, pemasangan baliho tersebut sangat merugikan Puan yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai pemimpin negara di 2024 mendatang.
"Secara politik itu sebenarnya akan merugikan Mbak Puan. Masih banyak cara yang lebih soft, simpati, dan empati bagi Puan untuk bisa memberikan perhatian kepada masyarakat korban bencana atau korban-korban yang lain, tidak dengan baliho tentunya," pungkasnya.
Pada Senin (20/12) Puan melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Lumajang untuk melihat kondisi warga korban letusan Gunung Semeru.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan pemasangan baliho Puan Maharani di sekitar desa terdampak erupsi Gunung Semeru sebagai bentuk semangat untuk warga.
Menurutnya, kritik yang selama ini dilontarkan kepada Puan terkait baliho tersebut adalah hal lumrah dan biasa-biasa saja.