Prabowo, PA 212 dan Nasib Politik Jelang Pilpres 2024
CNN Indonesia
Kamis, 24 Feb 2022 18:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejak Pilpres 2019 berakhir, dalam sejumlah survei nama Prabowo Subianto kerap menjadi yang terunggul. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sekretaris Jenderal DPP Gerindra Ahmad Muzani dengan percaya diri menyatakan partainya bakal mengusung Ketua Umum mereka, Prabowo Subianto, menjadi bakal calon presiden dalam pemilu 2024.
Muzani bahkan mengatakan Prabowo--yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan RI--akan melakukan deklarasi menjadi capres pada tahun ini.
"Berarti Pemilu atau Pilpres akan berlangsung dua tahun lagi. Insya Allah Pak Prabowo akan segera kami minta dan segera mendeklarasikan sebagai Capres di tahun 2022," kata Muzani, di Surabaya Rabu (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pokoknya 2022. Artinya bisa beberapa bulan lagi. Pokoknya sabar dulu, mikir-mikir, hitung-hitung. Tapi Insya Allah beliau maju capres di tahun 2022 ini, beliau kami minta segera deklarasi," ucapnya saat ditanya lagi waktu tepatnya Prabowo bakal deklarasi.
Jika menilik hasil survei sejumlah lembaga, Prabowo selalu berada di urutan teratas tokoh dengan elektabilitas tertinggi. Terbaru, hasil survei Litbang Kompas menyatakan elektabilitas Prabowo mencapai 26,5 persen.
Hasil survei Litbang Kompas tersebut senada dengan hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga lainnya. Contohnya, hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 6-11 Desember 2021. Prabowo berada di posisi puncak dengan elektabilitas sebesar 22,4 persen.
Pun begitu dengan hasil survei KedaiKOPI pada 16-24 November, di mana elektabilitas Prabowo sebagai capres potensial 2024 juga berada di peringkat pertama dengan 23,9 persen.
Namun, di balik elektabilitas Prabowo yang konsisten masih terunggul itu pun memunculkan pertanyaan. Basis massa yang masih mendukung dan ingin Prabowo menang di Pilpres 2024 mendatang?
Pasalnya, banyak pendukung capres dalam dua pilpres terakhir itu mengaku kapok memberikan dukungan. Salah satunya, karena mereka melihat Prabowo yang kalah di Pilpres 2019 memilih bergabung ke dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin yang notabene lawan politiknya.
Misalnya, kelompok Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang memilih berpisah jalan dengan Prabowo. Padahal, PA 212 merupakan salah satu kelompok Islam yang aktif mendukung Prabowo saat Pilpres 2019. Selain PA 212, kelompok Islam lain yang mendukung Prabowo saat itu adalah FPI dan GNPF Ulama.
"Kami PA 212 serta alumnus dan simpatisan 212 tidak tunduk apalagi patuh kepada Kertanegara. Kami hanya tunduk kepada imam besar Rizieq Shihab yang saat ini berada di kota suci Mekkah," kata Damai Hari Lubis, Kepala Divisi Hukum PA 212, 13 Juli 2019.
Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo, mengatakan elektabilitas yang dimiliki Prabowo saat ini merupakan tabungan popularitas selama eks Pangkostrad era Orde Baru itu mengikuti Pilpres sejak 2009 silam.
Selain itu, sambungnya, elektabilitas yang 'dinikmati' Prabowo pascapilpres 2019 itu tak lepas pula dengan kemungkinan publik belum melihat figur lain yang menarik untuk didukung menjadi presiden di 2024 mendatang.
Dalam dua pilpres terakhir, Prabowo selalu kalah dari rival tunggalnya, Joko Widodo (Jokowi). Jokowi sendiri pada 2024 mendatang sudah dipastikan tak bisa lagi maju, karena diadang konstitusi Indonesia.
"Prabowo punya tabungan popularitas dari beberapa pemilu kemarin. Paling tidak, dua pemilu dia capres, ya orang sudah familiar dengan nama Prabowo. Sehingga, ketika belum ada nama lain yang menarik, Prabowo bisa menjadi pilihan pertama," ucap Kunto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/2).
Menurutnya, efek Prabowo ditinggal pemilihnya pada Pemilu 2019 silam terlihat dari perolehan elektabilitas Prabowo saat ini. Menurutnya, jumlah pemilih Prabowo saat ini tersisa 50 persen dari perolehan suaranya di Pemilu 2019.
"Pemilih Prabowo 2019 itu 46 persenan sekarang 20 persenan itu kan terlihat juga [penurunan]," katanya.
Meskipun demikian, Kunto melihat masih ada peluang bagi Prabowo untuk menaikkan elektabilitas setelah ada deklarasi maju untuk Pilpres 2024. Apalagi bila Gerindra--partai yang dipimpinnya kini--membangun koalisi dengan parpol lain, dan juga dia mendeklarasikan siapa cawapres yang bakal mendampinginnya.
Di satu sisi, Kunto mengatakan ketokohan Prabowo pun bisa dimanfaatkan Gerindra untuk mendulang suara dan memenangkan Pemilu 2024 mendatang.
"Gerindra masih punya basis yang floating mass yang tidak pikir ideologi tapi melihat tokoh, dan Prabowo adalah tokoh besar yang bisa dipegang saat ini, ketokohan lain masih lokal. Prabowo bisa manfaatkan koalisinya untuk condong ke mana nantinya," kata dia yang juga pengajar di Universitas Padjadjaran tersebut.
Baca halaman selanjutnya, PR buat Gerindra untuk Prabowo.
Terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, mengatakan peluang Prabowo menang di Pilpres 2024 masih kecil, walau elektabilitas eks menantu Presiden kedua RI Soeharto itu berada di posisi tertinggi saat ini.
Jika memiliki elektabilitas seperti mantan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jelang Pilpres 2009, menurutnya, peluang Prabowo untuk menang jauh lebih besar.
"Kalau Prabowo [elektabilitas] 60 persen mungkin peluang menangnya besar. [Elektabilitas] tinggi, cuma segitu. Artinya, Prabowo harus evaluasi, dulu SBY 60 persen jadi menangnya enak. Kalau Prabowo sekarang masih bisa disalip calon yang lain," kata Ujang.
Dia memandang, basis pemilih Prabowo saat ini masih belum terlihat jelas setelah kelompok PA 212 memilih berpisah jalan. Menurutnya, Prabowo dan parpol koalisi pengusungnya di 2024 mendatang harus mencari segmen pemilih baru untuk memberikan elektoral kepada Prabowo.
"Pemilih yang kecewa kemarin tak mungkin mendukung lagi. Prabowo harus cari segmen pemilih pengganti dan jaga yang ada. [Sekarang] belum kelihatan segmennya ke mana," tutur penulis buku Ideologi Partai Politik: Antara Kepentingan Partai dan Wong Cilik tersebut.
Dua bulan lalu, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengakui tak mudah memenangkan Prabowo di Pilpres 2024 meskipun kerap unggul di sejumlah hasil survei beberapa waktu terakhir.
Menurut Muzani, memenangkan Prabowo dalam Pilpres sebetulnya hanya membutuhkan waktu singkat lewat bilik suara. Akan tetapi, menggerakkan orang untuk memilih Prabowo, memerlukan proses panjang dan kerja keras.
"Menggiring pilihan, pikiran, dan pendapat orang untuk sampai pada keputusan Prabowo pilihannya. Maka, konsistensi dan kontinuitas kerja politik di semua elemen Gerindra sangat diperlukan sebagai partai rakyat. Ini memerlukan kesabaran dan waktu panjang dalam perjuangan," kata dia dalam keterangannya, Selasa (21/12).
Kala itu, Muzani menegaskan kendati selalu kalah dalam ajang Pilpres sejak 2009, Prabowo adalah seorang pendekar dan pejuang. Oleh karena itu, menurut dia, Prabowo tidak akan menyerah.
Selain itu, beberapa hari lalu, Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Ahmad Muzani mengatakan partainya tetap optimistis meraih kemenangan dalam Pemilu 2024 mendatang, dan Prabowo sangat berpotensi menjadi presiden periode selanjutnya.
"Kita yakin dan optimis, pemilu 2024 tidak hanya dimenangkan oleh Gerindra, tetapi juga Bapak Prabowo akan menjadi presiden 2024-2029," kata Riza dalam sebuah Focus Group Discussion, Selasa (22/2).
Dia yang kini Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan alasan keyakinan tersebut lantaran berkaca dari hasil survei elektabilitas yang dilakukan sejumlah lembaga. Menurutnya, Prabowo selalu meraih hasil yang tinggi.
"Sejumlah hasil survei menunjukan bahwa Ketua Umum Partai Gerindra Bapak Prabowo Subianto masih memiliki peluang yang besar untuk memperoleh kursi presiden, bahkan survei hasilnya sangat tinggi," kata Riza.
Ia mengatakan, semua potensi kemenangan itu harus diiringi dengan kerja keras kader di lapangan. Riza meminta semua kader dapat membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.
"Para kader Gerindra khususnya DKI Jakarta harus menjadi kekuatan terdepan bagi penyelesaian problem masyarakat saat ini yang sedang diliputi kesulitan hidup akibat pandemi yang berkepanjangan," katanya.
Sekretaris Jenderal DPP Gerindra Ahmad Muzani dengan percaya diri menyatakan partainya bakal mengusung Ketua Umum mereka, Prabowo Subianto, menjadi bakal calon presiden dalam pemilu 2024.
Muzani bahkan mengatakan Prabowo--yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan RI--akan melakukan deklarasi menjadi capres pada tahun ini.
"Berarti Pemilu atau Pilpres akan berlangsung dua tahun lagi. Insya Allah Pak Prabowo akan segera kami minta dan segera mendeklarasikan sebagai Capres di tahun 2022," kata Muzani, di Surabaya Rabu (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pokoknya 2022. Artinya bisa beberapa bulan lagi. Pokoknya sabar dulu, mikir-mikir, hitung-hitung. Tapi Insya Allah beliau maju capres di tahun 2022 ini, beliau kami minta segera deklarasi," ucapnya saat ditanya lagi waktu tepatnya Prabowo bakal deklarasi.
Jika menilik hasil survei sejumlah lembaga, Prabowo selalu berada di urutan teratas tokoh dengan elektabilitas tertinggi. Terbaru, hasil survei Litbang Kompas menyatakan elektabilitas Prabowo mencapai 26,5 persen.
Hasil survei Litbang Kompas tersebut senada dengan hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga lainnya. Contohnya, hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 6-11 Desember 2021. Prabowo berada di posisi puncak dengan elektabilitas sebesar 22,4 persen.
Pun begitu dengan hasil survei KedaiKOPI pada 16-24 November, di mana elektabilitas Prabowo sebagai capres potensial 2024 juga berada di peringkat pertama dengan 23,9 persen.
Namun, di balik elektabilitas Prabowo yang konsisten masih terunggul itu pun memunculkan pertanyaan. Basis massa yang masih mendukung dan ingin Prabowo menang di Pilpres 2024 mendatang?
Pasalnya, banyak pendukung capres dalam dua pilpres terakhir itu mengaku kapok memberikan dukungan. Salah satunya, karena mereka melihat Prabowo yang kalah di Pilpres 2019 memilih bergabung ke dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin yang notabene lawan politiknya.
Misalnya, kelompok Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang memilih berpisah jalan dengan Prabowo. Padahal, PA 212 merupakan salah satu kelompok Islam yang aktif mendukung Prabowo saat Pilpres 2019. Selain PA 212, kelompok Islam lain yang mendukung Prabowo saat itu adalah FPI dan GNPF Ulama.
"Kami PA 212 serta alumnus dan simpatisan 212 tidak tunduk apalagi patuh kepada Kertanegara. Kami hanya tunduk kepada imam besar Rizieq Shihab yang saat ini berada di kota suci Mekkah," kata Damai Hari Lubis, Kepala Divisi Hukum PA 212, 13 Juli 2019.
Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo, mengatakan elektabilitas yang dimiliki Prabowo saat ini merupakan tabungan popularitas selama eks Pangkostrad era Orde Baru itu mengikuti Pilpres sejak 2009 silam.
Selain itu, sambungnya, elektabilitas yang 'dinikmati' Prabowo pascapilpres 2019 itu tak lepas pula dengan kemungkinan publik belum melihat figur lain yang menarik untuk didukung menjadi presiden di 2024 mendatang.
Dalam dua pilpres terakhir, Prabowo selalu kalah dari rival tunggalnya, Joko Widodo (Jokowi). Jokowi sendiri pada 2024 mendatang sudah dipastikan tak bisa lagi maju, karena diadang konstitusi Indonesia.
"Prabowo punya tabungan popularitas dari beberapa pemilu kemarin. Paling tidak, dua pemilu dia capres, ya orang sudah familiar dengan nama Prabowo. Sehingga, ketika belum ada nama lain yang menarik, Prabowo bisa menjadi pilihan pertama," ucap Kunto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/2).
Menurutnya, efek Prabowo ditinggal pemilihnya pada Pemilu 2019 silam terlihat dari perolehan elektabilitas Prabowo saat ini. Menurutnya, jumlah pemilih Prabowo saat ini tersisa 50 persen dari perolehan suaranya di Pemilu 2019.
"Pemilih Prabowo 2019 itu 46 persenan sekarang 20 persenan itu kan terlihat juga [penurunan]," katanya.
Meskipun demikian, Kunto melihat masih ada peluang bagi Prabowo untuk menaikkan elektabilitas setelah ada deklarasi maju untuk Pilpres 2024. Apalagi bila Gerindra--partai yang dipimpinnya kini--membangun koalisi dengan parpol lain, dan juga dia mendeklarasikan siapa cawapres yang bakal mendampinginnya.
Di satu sisi, Kunto mengatakan ketokohan Prabowo pun bisa dimanfaatkan Gerindra untuk mendulang suara dan memenangkan Pemilu 2024 mendatang.
"Gerindra masih punya basis yang floating mass yang tidak pikir ideologi tapi melihat tokoh, dan Prabowo adalah tokoh besar yang bisa dipegang saat ini, ketokohan lain masih lokal. Prabowo bisa manfaatkan koalisinya untuk condong ke mana nantinya," kata dia yang juga pengajar di Universitas Padjadjaran tersebut.
Baca halaman selanjutnya, PR buat Gerindra untuk Prabowo.
Elektabilitas Tinggi, Basis Pemilih Masih Belum Jelas
Prabowo Subianto disebut akan mendeklasikan diri untuk Pilpres 2024 pada tahun 2022 ini. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, mengatakan peluang Prabowo menang di Pilpres 2024 masih kecil, walau elektabilitas eks menantu Presiden kedua RI Soeharto itu berada di posisi tertinggi saat ini.
Jika memiliki elektabilitas seperti mantan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jelang Pilpres 2009, menurutnya, peluang Prabowo untuk menang jauh lebih besar.
"Kalau Prabowo [elektabilitas] 60 persen mungkin peluang menangnya besar. [Elektabilitas] tinggi, cuma segitu. Artinya, Prabowo harus evaluasi, dulu SBY 60 persen jadi menangnya enak. Kalau Prabowo sekarang masih bisa disalip calon yang lain," kata Ujang.
Dia memandang, basis pemilih Prabowo saat ini masih belum terlihat jelas setelah kelompok PA 212 memilih berpisah jalan. Menurutnya, Prabowo dan parpol koalisi pengusungnya di 2024 mendatang harus mencari segmen pemilih baru untuk memberikan elektoral kepada Prabowo.
"Pemilih yang kecewa kemarin tak mungkin mendukung lagi. Prabowo harus cari segmen pemilih pengganti dan jaga yang ada. [Sekarang] belum kelihatan segmennya ke mana," tutur penulis buku Ideologi Partai Politik: Antara Kepentingan Partai dan Wong Cilik tersebut.
Dua bulan lalu, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengakui tak mudah memenangkan Prabowo di Pilpres 2024 meskipun kerap unggul di sejumlah hasil survei beberapa waktu terakhir.
Menurut Muzani, memenangkan Prabowo dalam Pilpres sebetulnya hanya membutuhkan waktu singkat lewat bilik suara. Akan tetapi, menggerakkan orang untuk memilih Prabowo, memerlukan proses panjang dan kerja keras.
"Menggiring pilihan, pikiran, dan pendapat orang untuk sampai pada keputusan Prabowo pilihannya. Maka, konsistensi dan kontinuitas kerja politik di semua elemen Gerindra sangat diperlukan sebagai partai rakyat. Ini memerlukan kesabaran dan waktu panjang dalam perjuangan," kata dia dalam keterangannya, Selasa (21/12).
Kala itu, Muzani menegaskan kendati selalu kalah dalam ajang Pilpres sejak 2009, Prabowo adalah seorang pendekar dan pejuang. Oleh karena itu, menurut dia, Prabowo tidak akan menyerah.
Selain itu, beberapa hari lalu, Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Ahmad Muzani mengatakan partainya tetap optimistis meraih kemenangan dalam Pemilu 2024 mendatang, dan Prabowo sangat berpotensi menjadi presiden periode selanjutnya.
"Kita yakin dan optimis, pemilu 2024 tidak hanya dimenangkan oleh Gerindra, tetapi juga Bapak Prabowo akan menjadi presiden 2024-2029," kata Riza dalam sebuah Focus Group Discussion, Selasa (22/2).
Dia yang kini Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan alasan keyakinan tersebut lantaran berkaca dari hasil survei elektabilitas yang dilakukan sejumlah lembaga. Menurutnya, Prabowo selalu meraih hasil yang tinggi.
"Sejumlah hasil survei menunjukan bahwa Ketua Umum Partai Gerindra Bapak Prabowo Subianto masih memiliki peluang yang besar untuk memperoleh kursi presiden, bahkan survei hasilnya sangat tinggi," kata Riza.
Ia mengatakan, semua potensi kemenangan itu harus diiringi dengan kerja keras kader di lapangan. Riza meminta semua kader dapat membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.
"Para kader Gerindra khususnya DKI Jakarta harus menjadi kekuatan terdepan bagi penyelesaian problem masyarakat saat ini yang sedang diliputi kesulitan hidup akibat pandemi yang berkepanjangan," katanya.