Masjid Wotgaleh dan Mitos Pesawat Jatuh Jika Terbang Melintasinya
CNN Indonesia
Selasa, 19 Apr 2022 08:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Masjid Sulthoni Wotgaleh (CNN Indonesia/Tunggul)
Yogyakarta, CNN Indonesia --
Masjid Sulthoni Wotgaleh di Noyokerten, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta masih berdiri megah sebagai warisan budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak didirikan pada abad ke-17 silam oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Masjid yang berada persis di luar atau sisi selatan landasan pacu Bandara Adisoetjipto Yogyakarta ini bak tersembunyi oleh areal pohon tebu. Kecuali dari pintu masuk utama, keberadaan bangunan, baru akan tertangkap mata saat masa panen tebu.
Layaknya Masjid Kagungan Dalem atau kepunyaan Sultan lainnya, bangunan Masjid Sulthoni Wotgaleh memiliki gaya arsitektur yang mewarisi Masjid Demak. Atap limasan berbentuk tajug lambang teplok yang disangga empat pilar utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menuju bangunan utama, terdapat ruang tengah, mihrab, pawestren untuk jamaah perempuan, dan serambi. Sepasang beringin tua kokoh di sisi timur bangunan. Di balik fasad dan atmosfernya yang tenang, Masjid Sulthoni Wotgaleh dikeramatkan sebagian warga.
Di sebelah selatan dan barat laut bangunan masjid, terdapat kompleks pemakaman Hastono Wotgaleh berisi makam Jaka Umbaran atau Panembahan Purubaya I, putera Panembahan Senopati, yang populer dengan julukan Banteng Mataram.
"Atau Puruboyo, atau Purboyo. Masalah ejaan saja sebetulnya," kata M as Bekel Sepuh M. Asrori (44), selaku salah satu juru kunci sekaligus takmir masjid, Selasa (22/3).
Asrori merupakan satu dari delapan abdi dalem Pasarean dan Kemasjidan Wotgaleh. Ia didapuk menjaga kompleks ini sejak 2003 silam.
Asrori menjelaskan, bahwa masjid ini dahulu berwujud langgar. Lalu, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dipugar menjadi Masjid Sulthoni Wotgaleh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang terbaring di kompleks pasarean tersebut.
Masjid dan makam masih satu kompleks. Antara kedua area dipisahkan tembok setinggi dua meteran dan sebuah regol dengan pintu berwarna kuning cerah. Ada simbol Romawi 'HBVII' pada bagian segitiga gapura, akronim pendiri infrastruktur ini.
Selain makam Panembahan Purubaya I dan istri, juga dimakamkan Panembahan Purubaya II-IV. Serta Kanjeng Ratu Giring, ibunda Purubaya dan Guru Purabaya, Ki Wirosobo.
"Eyang Purboyo sangat berjasa sekali. Baik ketika melawan penjajah atau ketika Mataram berdiri itu kan banyak sekali permusuhan, itu Eyang Purboyo diutus menjadi panglima perangnya," urainya.
"Purboyo pertama itu menjabat panglima sampai empat raja. Dari Panembahan Senopati, Sultan Hanyokrowati, Sultan Agung dan Amangkurat," sambungnya.
Kata Asrori, Purubaya disegani bukan hanya selaku senopati. Tapi juga sebagai ulama yang berperan esensial menyebarkan ajaran agama Islam di era Kesultanan Mataram.
Wotgaleh sendiri berasal dari kata wot yang berarti jembatan atau meniti. Sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian.
"Karena baktinya Eyang Purboyo sama ibunya, maka (makam) dipindah ke sini. Ketika itu, Eyang Purboyo dalam kondisi entah bimbang atau banyak pikiran karena saking dalamnya mikir maka dikatakan wot ing penggalih, dengan hati yang lebih dalam," paparnya.
Tersiar mitos bahwa benda apapun yang melintas di atas kompleks makam dan masjid ini akan jatuh menghantam tanah. Tak terkecuali burung, hingga pesawat terbang. Para pilot, kata Asrori, termasuk mereka yang mengeramatkan Kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh ini.
"Kalau dari pilot sendiri malah bilang begitu. Apa ya, termasuk zona merah atau jalur yang dihormati, nggak boleh diseberangi lah di atasnya itu," tuturnya.
Asrori berkata, mitos ini awet sedari periode kakeknya diamanahkan menjaga Masjid Sulthoni beserta Makam Hastono Wotgaleh. Beberapa kejadian, pesawat yang terjatuh di sekitaran area bandara memiliki rekam terbang melintasi kompleks masjid dan makam.
Masyarakat yang memiliki wawasan kejawen atau mereka yang setidaknya menggunakan ilmu otak-atik gathuk akhirnya mengaitkan eksistensi kompleks masjid-makam dengan rentetan peristiwa jatuhnya burung besi di seputaran bandara.
"Kalau yang sudah membuktikan itu ya kaya ada semacam magnet besar," ucap Asrori.
Kini, setiap giat penerbangan di sekitar kompleks masjid dan makam pasti didahului ziarah atau doa bersama dari Pihak Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Menurut Asrori, Danlanud Adisoetjipto kerap meminta izin kelancaran kegiatan.
"Yang sudah paham pasti ke sini dulu. Seperti kalau mau terjun malam. Tapi ya nggak terus akhirnya tetap melintas di atasnya (masjid dan makam). Ya kalau dari kami, kami persilakan kepada masyarakat untuk menilainya. Istilahnya, kami ambil hikmahnya saja. Semua tetap kehendak Allah," imbuhnya.
Masjid ini memiliki pengaruh yang kuat bahkan di masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Masjid Sulthoni adalah salah satu poros vital penyebaran agama kala itu bersama Kotagede dan Kauman.
Dahulu, sebelum terkepung pepohonan tebu Masjid Wotgaleh dikelilingi pemukiman penduduk yang kemudian luluh lantah akibat kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang.
"Para ulama di Wotgaleh lalu menyebar dan mendirikan masjid-masjid atau musala," tutur Asrori.
Sedangkan Masjid Wotgaleh yang tinggal semata wayang, berdasarkan cerita yang ada nyaris kena rencana perluasan Adisutjipto pada medio 1950. Kendati wacana itu urung terlaksana, meski waktu itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mempersilakan untuk memindahkan masjid ke Imogiri.
Nyatanya, tak ada yang berani memindahnya. Lantaran meski mempersilakan, Sri Sultan Hamengku Buwono X enggan menanggung manakala setelahnya muncul hal tidak diinginkan.
"Yang tinggal berdiri cuma ini, rumah-rumah penduduk sudah bongkar semua," katanya.
Kata Asrori, masjid ini macam diselimuti mistis bagi yang meyakininya. Asrori yang bertugas hampir 20 tahun telah terbiasa mendengar suara bisikan-bisikan di telinganya. Istiqomah membuatnya cuma menangkap suara-suara positif.
"Kalau dari peziarah mungkin bisa komunikasi dengan Eyang Purboyo. Yang punya mata batin, melihatnya bukan sekadar makam tapi sebuah kerajaan," bebernya.
Namun, balutan mitos dan kisah-kisah mistis tadi sama sekali tak dimaksudkan untuk membuat nilai-nilai keislaman Masjid Wotgaleh pudar. Begitu pula amal saleh Panembahan Purubaya.
Sebagaimana masjid pada umumnya, Masjid Wotgaleh tetap menjadi wadah kegiatan keagamaan seperti salat fardu, pengajian, ceramah kajian agama, serta penelitian, mengingat status bangunan sebagai cagar budaya. Masjid beserta masyarakat terlibat bersama dalam serentetan agenda Ramadan dan penyambutannya, macam nyadran.
Abdi Dalem salah satu tugasnya demi memastikan tiada peziarah yang menyimpang. Memastikan semua ziarah kubur tetap lurus sesuai ajaran agama. Mengajarkan teladan kehidupan dari trah Purabaya kepada para pengunjung adalah bagian dari tugas.
Kiprah Purabaya I selaku prajurit mengilhami kesetiaan hidup-mati untuk sesuatu. Sebagai seorang muslim tentunya taat pada ajaran Muhammad dan kontribusi penyebarannya di Tanah Jawa.
"Selanjutnya, meneladani kepribadiannya yang lembah manah atau sering beramal soleh, selalu berserah diri, tidak mengejar harta duniawi atau sifatnya dalam pemikiran kembalikan ke Yang Maha Kuasa. Sehingga tidak ngoyoworo (mengada-ada), lebih berhati-hati atau tidak gegabah," pungkasnya.
Pemerhati Sejarah dan Budaya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Eka Hadiyanta sementara mengatakan, masjid dan makam ini adalah sarana fisik untuk mengapresiasi keberadaan leluhur. Secara maknawi sebagai teladan akan rasa bangga serta handarbeni atas nilai-nilai yang pendahulu tanamkan.
Mitos masjid yang bersemayam di tengah masyarakat dan dihormati AU kini, menurut Eka, merupakan wujud komunikasi antar generasi. Secara konsep rasional yakni upaya pelestarian atau transfer pengetahuan.
"Biasanya seperti mitos-mitos tempat yang lain, itu bagian dari penghargaan masyarakat yang dalam logika tradisional itu muncul cerita-cerita yang tujuannya untuk tetap mengagungkan tokoh yang ada di situ. Menjadi bagian legitimasi, pengabsahan bahwa tokoh itu layak untuk diluhurkan, tak boleh diperlakukan semena-mena," jelas Eka saat dihubungi.
Mantan arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)DIY itu menjelaskan, Masjid Sulthoni Wotgaleh layak ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB). Karena dianggap memenuhi kriteria: berusia dan mewakili masa gaya minimal 50 tahun; berarti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan; serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Semua syarat itu berpedoman pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Masjid dan makam Sulthoni Wotgaleh dinilai menghadirkan manfaat sosial bagi masyarakat. "Dari sisi spiritual, sebagai tempat ziarah dan acara keagamaan," tutupnya.
Yogyakarta, CNN Indonesia --
Masjid Sulthoni Wotgaleh di Noyokerten, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta masih berdiri megah sebagai warisan budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak didirikan pada abad ke-17 silam oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Masjid yang berada persis di luar atau sisi selatan landasan pacu Bandara Adisoetjipto Yogyakarta ini bak tersembunyi oleh areal pohon tebu. Kecuali dari pintu masuk utama, keberadaan bangunan, baru akan tertangkap mata saat masa panen tebu.
Layaknya Masjid Kagungan Dalem atau kepunyaan Sultan lainnya, bangunan Masjid Sulthoni Wotgaleh memiliki gaya arsitektur yang mewarisi Masjid Demak. Atap limasan berbentuk tajug lambang teplok yang disangga empat pilar utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menuju bangunan utama, terdapat ruang tengah, mihrab, pawestren untuk jamaah perempuan, dan serambi. Sepasang beringin tua kokoh di sisi timur bangunan. Di balik fasad dan atmosfernya yang tenang, Masjid Sulthoni Wotgaleh dikeramatkan sebagian warga.
Di sebelah selatan dan barat laut bangunan masjid, terdapat kompleks pemakaman Hastono Wotgaleh berisi makam Jaka Umbaran atau Panembahan Purubaya I, putera Panembahan Senopati, yang populer dengan julukan Banteng Mataram.
"Atau Puruboyo, atau Purboyo. Masalah ejaan saja sebetulnya," kata M as Bekel Sepuh M. Asrori (44), selaku salah satu juru kunci sekaligus takmir masjid, Selasa (22/3).
Asrori merupakan satu dari delapan abdi dalem Pasarean dan Kemasjidan Wotgaleh. Ia didapuk menjaga kompleks ini sejak 2003 silam.
Asrori menjelaskan, bahwa masjid ini dahulu berwujud langgar. Lalu, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dipugar menjadi Masjid Sulthoni Wotgaleh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang terbaring di kompleks pasarean tersebut.
Masjid dan makam masih satu kompleks. Antara kedua area dipisahkan tembok setinggi dua meteran dan sebuah regol dengan pintu berwarna kuning cerah. Ada simbol Romawi 'HBVII' pada bagian segitiga gapura, akronim pendiri infrastruktur ini.
Selain makam Panembahan Purubaya I dan istri, juga dimakamkan Panembahan Purubaya II-IV. Serta Kanjeng Ratu Giring, ibunda Purubaya dan Guru Purabaya, Ki Wirosobo.
"Eyang Purboyo sangat berjasa sekali. Baik ketika melawan penjajah atau ketika Mataram berdiri itu kan banyak sekali permusuhan, itu Eyang Purboyo diutus menjadi panglima perangnya," urainya.
"Purboyo pertama itu menjabat panglima sampai empat raja. Dari Panembahan Senopati, Sultan Hanyokrowati, Sultan Agung dan Amangkurat," sambungnya.
Kata Asrori, Purubaya disegani bukan hanya selaku senopati. Tapi juga sebagai ulama yang berperan esensial menyebarkan ajaran agama Islam di era Kesultanan Mataram.
Wotgaleh sendiri berasal dari kata wot yang berarti jembatan atau meniti. Sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian.
"Karena baktinya Eyang Purboyo sama ibunya, maka (makam) dipindah ke sini. Ketika itu, Eyang Purboyo dalam kondisi entah bimbang atau banyak pikiran karena saking dalamnya mikir maka dikatakan wot ing penggalih, dengan hati yang lebih dalam," paparnya.
Tersiar mitos bahwa benda apapun yang melintas di atas kompleks makam dan masjid ini akan jatuh menghantam tanah. Tak terkecuali burung, hingga pesawat terbang. Para pilot, kata Asrori, termasuk mereka yang mengeramatkan Kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh ini.
"Kalau dari pilot sendiri malah bilang begitu. Apa ya, termasuk zona merah atau jalur yang dihormati, nggak boleh diseberangi lah di atasnya itu," tuturnya.
Asrori berkata, mitos ini awet sedari periode kakeknya diamanahkan menjaga Masjid Sulthoni beserta Makam Hastono Wotgaleh. Beberapa kejadian, pesawat yang terjatuh di sekitaran area bandara memiliki rekam terbang melintasi kompleks masjid dan makam.
Masyarakat yang memiliki wawasan kejawen atau mereka yang setidaknya menggunakan ilmu otak-atik gathuk akhirnya mengaitkan eksistensi kompleks masjid-makam dengan rentetan peristiwa jatuhnya burung besi di seputaran bandara.
"Kalau yang sudah membuktikan itu ya kaya ada semacam magnet besar," ucap Asrori.
Kini, setiap giat penerbangan di sekitar kompleks masjid dan makam pasti didahului ziarah atau doa bersama dari Pihak Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Menurut Asrori, Danlanud Adisoetjipto kerap meminta izin kelancaran kegiatan.
"Yang sudah paham pasti ke sini dulu. Seperti kalau mau terjun malam. Tapi ya nggak terus akhirnya tetap melintas di atasnya (masjid dan makam). Ya kalau dari kami, kami persilakan kepada masyarakat untuk menilainya. Istilahnya, kami ambil hikmahnya saja. Semua tetap kehendak Allah," imbuhnya.
Masjid ini memiliki pengaruh yang kuat bahkan di masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Masjid Sulthoni adalah salah satu poros vital penyebaran agama kala itu bersama Kotagede dan Kauman.
Dahulu, sebelum terkepung pepohonan tebu Masjid Wotgaleh dikelilingi pemukiman penduduk yang kemudian luluh lantah akibat kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang.
"Para ulama di Wotgaleh lalu menyebar dan mendirikan masjid-masjid atau musala," tutur Asrori.
Sedangkan Masjid Wotgaleh yang tinggal semata wayang, berdasarkan cerita yang ada nyaris kena rencana perluasan Adisutjipto pada medio 1950. Kendati wacana itu urung terlaksana, meski waktu itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mempersilakan untuk memindahkan masjid ke Imogiri.
Nyatanya, tak ada yang berani memindahnya. Lantaran meski mempersilakan, Sri Sultan Hamengku Buwono X enggan menanggung manakala setelahnya muncul hal tidak diinginkan.
"Yang tinggal berdiri cuma ini, rumah-rumah penduduk sudah bongkar semua," katanya.
Kata Asrori, masjid ini macam diselimuti mistis bagi yang meyakininya. Asrori yang bertugas hampir 20 tahun telah terbiasa mendengar suara bisikan-bisikan di telinganya. Istiqomah membuatnya cuma menangkap suara-suara positif.
"Kalau dari peziarah mungkin bisa komunikasi dengan Eyang Purboyo. Yang punya mata batin, melihatnya bukan sekadar makam tapi sebuah kerajaan," bebernya.
Namun, balutan mitos dan kisah-kisah mistis tadi sama sekali tak dimaksudkan untuk membuat nilai-nilai keislaman Masjid Wotgaleh pudar. Begitu pula amal saleh Panembahan Purubaya.
Sebagaimana masjid pada umumnya, Masjid Wotgaleh tetap menjadi wadah kegiatan keagamaan seperti salat fardu, pengajian, ceramah kajian agama, serta penelitian, mengingat status bangunan sebagai cagar budaya. Masjid beserta masyarakat terlibat bersama dalam serentetan agenda Ramadan dan penyambutannya, macam nyadran.
Abdi Dalem salah satu tugasnya demi memastikan tiada peziarah yang menyimpang. Memastikan semua ziarah kubur tetap lurus sesuai ajaran agama. Mengajarkan teladan kehidupan dari trah Purabaya kepada para pengunjung adalah bagian dari tugas.
Kiprah Purabaya I selaku prajurit mengilhami kesetiaan hidup-mati untuk sesuatu. Sebagai seorang muslim tentunya taat pada ajaran Muhammad dan kontribusi penyebarannya di Tanah Jawa.
"Selanjutnya, meneladani kepribadiannya yang lembah manah atau sering beramal soleh, selalu berserah diri, tidak mengejar harta duniawi atau sifatnya dalam pemikiran kembalikan ke Yang Maha Kuasa. Sehingga tidak ngoyoworo (mengada-ada), lebih berhati-hati atau tidak gegabah," pungkasnya.
Pemerhati Sejarah dan Budaya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Eka Hadiyanta sementara mengatakan, masjid dan makam ini adalah sarana fisik untuk mengapresiasi keberadaan leluhur. Secara maknawi sebagai teladan akan rasa bangga serta handarbeni atas nilai-nilai yang pendahulu tanamkan.
Mitos masjid yang bersemayam di tengah masyarakat dan dihormati AU kini, menurut Eka, merupakan wujud komunikasi antar generasi. Secara konsep rasional yakni upaya pelestarian atau transfer pengetahuan.
"Biasanya seperti mitos-mitos tempat yang lain, itu bagian dari penghargaan masyarakat yang dalam logika tradisional itu muncul cerita-cerita yang tujuannya untuk tetap mengagungkan tokoh yang ada di situ. Menjadi bagian legitimasi, pengabsahan bahwa tokoh itu layak untuk diluhurkan, tak boleh diperlakukan semena-mena," jelas Eka saat dihubungi.
Mantan arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)DIY itu menjelaskan, Masjid Sulthoni Wotgaleh layak ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB). Karena dianggap memenuhi kriteria: berusia dan mewakili masa gaya minimal 50 tahun; berarti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan; serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Semua syarat itu berpedoman pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Masjid dan makam Sulthoni Wotgaleh dinilai menghadirkan manfaat sosial bagi masyarakat. "Dari sisi spiritual, sebagai tempat ziarah dan acara keagamaan," tutupnya.