Reuni Tidak di Monas, Tanda Pamor Politik 212 Redup?

CNN Indonesia
Kamis, 01 Des 2022 10:38 WIB
Reuni Aksi 212 tahun ini tak digelar di Monas, tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pilihan lokasi ini dicurigai sebagai kemunduran pamor politik 212. Massa menggelar reuni aksi 212 di kawasan Monas, beberapa tahun lalu. Tahun ini reuni 212 digelar di Masjid At-Tin, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Reuni Aksi 212 tahun ini tak digelar sekitar Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai gantinya, aksi ini digelar di Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur dengan tajuk 'Munajat Akbar Indonesia Berselawat'. Pihak panitia juga tak mengundang tokoh-tokoh politik untuk hadir pada acara tersebut.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin menilai perpindahan lokasi Reuni 212 di Masjid At-Tin tahun ini mengindikasikan gerakan 212 mulai melemah.

Menurutnya, pemilihan lokasi di Masjid At-Tin janggal jika merujuk pada acara reuni tahun-tahun sebelumnya yang selalu menunjukkan kekuatan massa lewat mobilisasi dan demo besar di kawasan Monas dan sekitarnya.

"Kan memang gerakan mereka sudah dipantau, sudah diawasi, sudah digunting oleh kekuasaan agar melemah. Ini jadi buktinya," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/12).

Ujang membeberkan faktor gerakan kelompok ini melemah karena tokoh-tokoh penting dalam kelompok ini terjerat kasus hukum. Ia mencontohkan kasus yang pernah menjerat Rizieq Shihab dan Munarman yang kini masih mendekam di bui.

Rizieq, meski sudah bebas namun masih menjalani masa pembebasan bersyarat. Sementara Munarman masih menjalani pidana penjara selama tiga tahun lantaran terjerat kasus terorisme.

Massa aksi Reuni 212 di Monas, Jakarta, Senin (2/12). (CNN Indonesia/Safir Makki)Massa aksi Reuni 212 saat berkumpul di Monas beberapa tahun lalu. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Hal lain yang melemahkan kelompok 212 menurut Ujang adalah pembubaran Front Pembela Islam (FPI).

FPI telah lama dikenal terafiliasi dalam payung gerakan 212. FPI lantas dibubarkan pemerintah pada 2020.

"Ini semua bagian memperlemah kekuatan mereka itu," kata dia.

Meski demikian, Ujang menganggap ajang Reuni 212 di Masjid At-Tin sebagai upaya kelompok ini mengubah strategi agar tetap eksis dan membangun kembali kekuatan politik mereka.

"Makanya gerakan itu memahami konteksnya, makanya mereka atur ulang strategi dan bisa eksis agar tetap jadi kekuatan politik," kata Ujang.

212 Menjaga Anies

Acara Reuni 212 terang-terangan tidak mengundang Anies Baswedan. Mereka beralasan tak ingin acara reuni esok dikaitkan dengan politik.

Namun, Ujang menilai langkah kelompok 212 tak mengundang calon presiden dari Partai NasDem itu sebagai upaya 'menjaga citra' Anies agar tak kerap diidentikkan dengan kelompok tersebut secara terus menerus.

"Ini untuk jaga Anies juga. Anies itu jangan berangkat dari kelompok 212, tapi berangkat dari kelompok nasionalis. Mestinya memang seperti itu," kata Ujang.

Ujang membenarkan citra Anies di mata sebagian kalangan selama ini lekat dengan kelompok Islamis yang memainkan politik identitas. Dengan citra demikian, Anies akan semakin terpojok bila hadir dalam acara Reuni 212.

"Kalau undang Anies datang, tuduhan lawan politik akan makin gencar dengan nada negatif. Juga kalau ditempelkan ke kelompok mereka, Anies ruang geraknya terbatas," kata Ujang.

(rzr/wis)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER