Megah JIS di Antara Ratap Anak-anak Tenda Warga Kampung Bayam
CNN Indonesia
Kamis, 23 Feb 2023 07:23 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tenda Perjuangan Kampung Susun Bayam. (CNN Indonesia/Muhammad Naufal)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah tenda biru berukuran 3x4 meter nampak kusam. Berdiri dengan latar stadion megah kebanggaan ibu kota, Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara.
Tenda itu didirikan sejak 20 November 2022. Tenda tanpa bagian pintu, terbuat dari terpal yang disanggah alakadarnya menggunakan bambu.
Di dalamnya berjejal sebanyak empat kepala keluarga (KK), dengan total hingga 20 orang. Mereka berasal dari Kampung Bayam, sebuah perkampungan yang mesti digusur karena proyek JIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka ialah warga yang tak lagi memiliki uang untuk mengontrak rumah usai tergusur. Sementara bangunan Kampung Susun Bayam (KSB) yang disiapkan untuk mereka pun belum kunjung bisa ditempati. Padahal, KSB telah diresmikan sejak Oktober 2022.
Alhasil, mereka terpaksa terkatung-katung, berlindung di bawah tenda di samping megahnya JIS. Mereka yang tinggal di sana merupakan empat dari 75 KK yang terdampak atas pembangunan JIS.
Mendekati tenda itu, terdengar sayup-sayup seorang ibu yang menyuruh anaknya bergegas bersiap menuju sekolah.
"Ayo cepetan, nanti telat," ujar sang Ibu.
Sang anak pun dengan sigap terus mengancingi baju pramukanya sambil sang ibu memakaikannya celana coklat. Di samping mereka, terbaring lelaki paruh baya terlelap di atas karpet tipisnya dan sedikit disinari teriknya sinar matahari di Utara Jakarta.
Ia terlelap di samping peralatan makan, ember-ember air, hingga baju cucian yang semuanya terletak berdempetan. Selain mereka, adapula yang tengah asyik bercengkrama dengan kerabatnya. Mereka tertawa lepas di tengah kondisi yang jauh dari kata layak.
Ratapan Agus dan Keluarganya
Salah seorang warga Kampung Bayam yang tinggal di sana, Agus (42) hanya bisa mengelus dada ketika keempat anaknya mengeluhkan kondisi tempat mereka tinggal.
Saban hari, selama empat bulan terakhir ia terus mendengar keluhan anaknya yang sukar untuk belajar di tenda yang sempit dan alakadarnya.
Ia hanya bisa menenangkan anaknya, di saat buah hatinya itu menghujaninya pertanyaan kapan mereka bisa menempati KSB.
"Ya keluh kesahnya gitu ya masalah tidur, enggak bisa belajar, kapan bisa punya tempat tinggal yang layak, kapan masuk, kapan masuk," kata Agus kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/2).
Agus terpaksa menempati tenda itu bersama istri dan keempat anaknya lantaran rumahnya tergusur dan berubah menjadi stadion megah, Jakarta International Stadium.
Setelah tergusur dari Kampung Bayam, Agus sebelumnya sempat mengontrak di Kampung Bahari, Jakarta Utara sembari menunggu kabar baik untuk mengisi Kampung Susun Bayam (KSB) yang dijanjikan rampung.
Namun, harapan itu tak kunjung datang, setelah peresmiannya pada Oktober 2022 lalu, warga gusuran Kampung Bayam masih belum kunjung diperbolehkan menempatinya.
Ia pun mengaku sempat berfoto di muka pintu KSB saat peresmiannya, dengan harapan bangunan itu dapat menjadi tempat tinggalnya. Nahas, mimpi dalam foto itu sekadar menjadi angan. Tanpa ada kepastian
Agus lantas berharap ia dan keluarganya bisa segera menempati KSB.
"Ya cepet selesai lah, bisa masuk Rusun, kita tempatin," ujarnya.
Agus berharap harga sewa yang dipatok pemerintah akan menyesuaikan dengan kemampuan warga.
Lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online itu meminta pemerintah untuk tersadarkan, bahwa warga yang menetap di tenda itu berpenghasilan rendah.
"Ya pengennya sesuai kemampuan warga, kan disini kan saya ojol sepi, terus ada pemulung, pengamen, serabutan ya sesuai kemampuan warga lah yang terendah," kata dia.
Agus juga menyayangkan pemerintah yang hingga saat ini terkesan sepihak dalam menentukan harga sewa tanpa diskusi terlebih dahulu dengan warga terdampak.
Kondisi yang kian sukar itu, warga di sana justru semakin tergugah untuk saling bahu-membahu. Eks warga Kampung Bayam yang tidak tinggal di tenda, secara rutin terus mendatangi tenda.
Bahkan, mereka membuatkan jadwal piket yang datang ke sana setiap harinya. Per harinya, dijadwalkan hadir 10 orang untuk berjaga di sana.
Kala piket, mereka bercengkrama satu sama lain, menjalin silaturahmi, dan berbagi keresahan antarmereka.
"Tujuannya kita menjaga persaudaraan komunikasinya bagus, tetep jalan," kata Ketua Koperasi Persaudaraan Warga Kampung Bayam Asep Suwenda.
Bahkan, menurutnya ada warga yang jauh-jauh rela datang dari Cikarang ke tenda saat berpiket.
"Ada yang dari Cikarang, Tangerang pada dateng. Jadi begini, mereka besok piket, sore dateng, besok pagi start piket kan," ujarnya.
Kedatangan itu biasanya dibarengi dengan membawa makanan dan dengan cara itulah mereka dapat terus bertahan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah tenda biru berukuran 3x4 meter nampak kusam. Berdiri dengan latar stadion megah kebanggaan ibu kota, Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara.
Tenda itu didirikan sejak 20 November 2022. Tenda tanpa bagian pintu, terbuat dari terpal yang disanggah alakadarnya menggunakan bambu.
Di dalamnya berjejal sebanyak empat kepala keluarga (KK), dengan total hingga 20 orang. Mereka berasal dari Kampung Bayam, sebuah perkampungan yang mesti digusur karena proyek JIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka ialah warga yang tak lagi memiliki uang untuk mengontrak rumah usai tergusur. Sementara bangunan Kampung Susun Bayam (KSB) yang disiapkan untuk mereka pun belum kunjung bisa ditempati. Padahal, KSB telah diresmikan sejak Oktober 2022.
Alhasil, mereka terpaksa terkatung-katung, berlindung di bawah tenda di samping megahnya JIS. Mereka yang tinggal di sana merupakan empat dari 75 KK yang terdampak atas pembangunan JIS.
Mendekati tenda itu, terdengar sayup-sayup seorang ibu yang menyuruh anaknya bergegas bersiap menuju sekolah.
"Ayo cepetan, nanti telat," ujar sang Ibu.
Sang anak pun dengan sigap terus mengancingi baju pramukanya sambil sang ibu memakaikannya celana coklat. Di samping mereka, terbaring lelaki paruh baya terlelap di atas karpet tipisnya dan sedikit disinari teriknya sinar matahari di Utara Jakarta.
Ia terlelap di samping peralatan makan, ember-ember air, hingga baju cucian yang semuanya terletak berdempetan. Selain mereka, adapula yang tengah asyik bercengkrama dengan kerabatnya. Mereka tertawa lepas di tengah kondisi yang jauh dari kata layak.
Ratapan Agus dan Keluarganya
Salah seorang warga Kampung Bayam yang tinggal di sana, Agus (42) hanya bisa mengelus dada ketika keempat anaknya mengeluhkan kondisi tempat mereka tinggal.
Saban hari, selama empat bulan terakhir ia terus mendengar keluhan anaknya yang sukar untuk belajar di tenda yang sempit dan alakadarnya.
Ia hanya bisa menenangkan anaknya, di saat buah hatinya itu menghujaninya pertanyaan kapan mereka bisa menempati KSB.
"Ya keluh kesahnya gitu ya masalah tidur, enggak bisa belajar, kapan bisa punya tempat tinggal yang layak, kapan masuk, kapan masuk," kata Agus kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/2).
Agus terpaksa menempati tenda itu bersama istri dan keempat anaknya lantaran rumahnya tergusur dan berubah menjadi stadion megah, Jakarta International Stadium.
Setelah tergusur dari Kampung Bayam, Agus sebelumnya sempat mengontrak di Kampung Bahari, Jakarta Utara sembari menunggu kabar baik untuk mengisi Kampung Susun Bayam (KSB) yang dijanjikan rampung.
Namun, harapan itu tak kunjung datang, setelah peresmiannya pada Oktober 2022 lalu, warga gusuran Kampung Bayam masih belum kunjung diperbolehkan menempatinya.
Ia pun mengaku sempat berfoto di muka pintu KSB saat peresmiannya, dengan harapan bangunan itu dapat menjadi tempat tinggalnya. Nahas, mimpi dalam foto itu sekadar menjadi angan. Tanpa ada kepastian
Agus lantas berharap ia dan keluarganya bisa segera menempati KSB.
"Ya cepet selesai lah, bisa masuk Rusun, kita tempatin," ujarnya.
Solidaritas Warga yang Masih Terjalin
Warga dalam tenda perjuangan Kampung Bayam. (CNN Indonesia/Muhammad Naufal)
Agus berharap harga sewa yang dipatok pemerintah akan menyesuaikan dengan kemampuan warga.
Lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online itu meminta pemerintah untuk tersadarkan, bahwa warga yang menetap di tenda itu berpenghasilan rendah.
"Ya pengennya sesuai kemampuan warga, kan disini kan saya ojol sepi, terus ada pemulung, pengamen, serabutan ya sesuai kemampuan warga lah yang terendah," kata dia.
Agus juga menyayangkan pemerintah yang hingga saat ini terkesan sepihak dalam menentukan harga sewa tanpa diskusi terlebih dahulu dengan warga terdampak.
Kondisi yang kian sukar itu, warga di sana justru semakin tergugah untuk saling bahu-membahu. Eks warga Kampung Bayam yang tidak tinggal di tenda, secara rutin terus mendatangi tenda.
Bahkan, mereka membuatkan jadwal piket yang datang ke sana setiap harinya. Per harinya, dijadwalkan hadir 10 orang untuk berjaga di sana.
Kala piket, mereka bercengkrama satu sama lain, menjalin silaturahmi, dan berbagi keresahan antarmereka.
"Tujuannya kita menjaga persaudaraan komunikasinya bagus, tetep jalan," kata Ketua Koperasi Persaudaraan Warga Kampung Bayam Asep Suwenda.
Bahkan, menurutnya ada warga yang jauh-jauh rela datang dari Cikarang ke tenda saat berpiket.
"Ada yang dari Cikarang, Tangerang pada dateng. Jadi begini, mereka besok piket, sore dateng, besok pagi start piket kan," ujarnya.
Kedatangan itu biasanya dibarengi dengan membawa makanan dan dengan cara itulah mereka dapat terus bertahan.