Megawati saat memberikan arahan tertutup pada pembukaan Rakernas III PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (6/6). (Dok. Arsip DPP PDIP)
Penggalan lirik itu dinyanyikan musisi Sri Krishna Encik di depan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sri Krishna Encik, atau biasa dipanggil Encik adalah musisi kondang asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Momen tersebut berlangsung di sela-sela hari kedua Rakernas III PDIP di sekolah partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan (7/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Megawati tampak riang mendengar bait demi bait lagu yang dinyanyikan Encik berjudul 'Njar ji, Njar Beh' itu.
"Wanji, Wanbeh, Puan Siji, Puan Kabeh," demikian Encik melanjutkan bait lirik lagunya.
Begitu pula saat Encik menyebut kakak Puan, Prananda Prabowo yang juga berada di arena Rakernas PDIP itu. Sejumlah elite PDIP lain turut disebutnya dalam lagu itu.
Mendengar Encik bernyanyi, Megawati duduk di kursi berwarna cokelat. Di samping kanannya ada Prananda yang merupakan putra Megawati. Sedangkan Puan berada di samping kiri Megawati.
Di sebelah Puan ada Bendahara Umum PDIP, Olly Dondokambey. Lalu di belakang mereka berderet Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, dan para Ketua DPP PDIP seperti Eriko Sotarduga, Said Abdullah, Nusyirwan Soejono, serta Rano Karno.
Konser mini privat Encik si penggubah lagu 'Celeng Dhegleng' itu sekaligus menjadi momentum perilisan lagu kampanye Ganjar Pranowo di Pilpres 2024, yang langsung disaksikan Puan Maharani.
Di internal PDIP, nama Encik pernah jadi sorotan saat lagunya yang berjudul 'Celeng Dhegleng' sempat disebut jadi mars pendukung Ganjar Pranowo.
Istilah celeng atau babi hutan yang dialamatkan kepada pendukung Ganjar bermula dari pernyataan Ketua Bappilu PDIP, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul.
Dia menyindir manuver Gubernur Jawa Tengah itu dan para pendukungnya yang dianggap kemajon yang dimaknai maju melebihi batas.
"Adagium di PDIP itu yang di luar barisan bukan banteng, itu namanya celeng," kata Pacul pada Oktober 2021 lalu.
Istilah banteng versus celeng pun jadi istilah baru di antara 'anak-anak' Megawati. Tapi itu dulu, sebelum kemudian Megawati benar-benar mengukuhkan Ganjar sebagai bakal capres PDIP pada 21 April lalu di Istana Batu Tulis, Kota Bogor.
Baca halaman selanjutnya.
Beberapa saat sebelum itu, budayawan Butet Kartaredjasa lebih dulu berbicara di depan Megawati di lokasi yang sama. Dalam sambutannya, Butet menyebut Megawati sebagai negarawan. Kata Butet, status politik Megawati telah mencapai makrifat politik.
Mega menurut dia adalah negarawan, dan karenanya Butet yakin praktik politik yang dilakukan Mega bukan politik transaksional.
"Makrifat politik itu levelnya negarawan kira-kira begitu. Kalau negarawan kelasnya ini pasti bukan transaksional," klaim Butet.
Pernyataan Butet itu diklaimnya merujuk pada beberapa alasan. Pertama, kata dia, jika saja Megawati mengedepankan egonya sebagai politikus, pada 2014 mestinya dia bisa maju sebagai capres. Namun, Megawati justru mencalonkan Joko Widodo (Jokowi)--putra Solo yang kala itu sedang menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Butet menilai sikap kenegarawanan Megawati lalu terulang menjelang Pilpres 2024. Menurut Butet, Megawati lagi-lagi mengubur egonya setelah mencalonkan Ganjar alih-alih putrinya sendiri yang kini menjabat Ketua DPR, Puan.
"Tahun ini kalau saja masih juga egosentris dan belum level makrifat tentu mungkin Mbak Puan yang dipaksakan. Tapi, akhirnya kemarin kita lihat tanggal 21 April itu, Ganjar yang ditugasi oleh Ibu Megawati untuk menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya," kata Butet.
"Mosok kayak begitu transaksional, wong Ganjar neng kere," lanjut Butet.
Dan, Megawati yang tampak riang diapit dua anaknya--Prananda serta Puan--mendengarkan Encik berdendang di hari kedua Rakernas III PDIP.
Konser mini privat oleh Encik si penggubah lagu 'Celeng Dhegleng' itu sekaligus menjadi momentum perilisan lagu kampanye Ganjar Pranowo di Pilpres 2024, yang langsung disaksikan oleh Puan Maharani.
Penggalan lirik itu dinyanyikan musisi Sri Krishna Encik di depan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sri Krishna Encik, atau biasa dipanggil Encik adalah musisi kondang asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Momen tersebut berlangsung di sela-sela hari kedua Rakernas III PDIP di sekolah partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan (7/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Megawati tampak riang mendengar bait demi bait lagu yang dinyanyikan Encik berjudul 'Njar ji, Njar Beh' itu.
"Wanji, Wanbeh, Puan Siji, Puan Kabeh," demikian Encik melanjutkan bait lirik lagunya.
Begitu pula saat Encik menyebut kakak Puan, Prananda Prabowo yang juga berada di arena Rakernas PDIP itu. Sejumlah elite PDIP lain turut disebutnya dalam lagu itu.
Mendengar Encik bernyanyi, Megawati duduk di kursi berwarna cokelat. Di samping kanannya ada Prananda yang merupakan putra Megawati. Sedangkan Puan berada di samping kiri Megawati.
Di sebelah Puan ada Bendahara Umum PDIP, Olly Dondokambey. Lalu di belakang mereka berderet Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, dan para Ketua DPP PDIP seperti Eriko Sotarduga, Said Abdullah, Nusyirwan Soejono, serta Rano Karno.
Konser mini privat Encik si penggubah lagu 'Celeng Dhegleng' itu sekaligus menjadi momentum perilisan lagu kampanye Ganjar Pranowo di Pilpres 2024, yang langsung disaksikan Puan Maharani.
Di internal PDIP, nama Encik pernah jadi sorotan saat lagunya yang berjudul 'Celeng Dhegleng' sempat disebut jadi mars pendukung Ganjar Pranowo.
Istilah celeng atau babi hutan yang dialamatkan kepada pendukung Ganjar bermula dari pernyataan Ketua Bappilu PDIP, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul.
Dia menyindir manuver Gubernur Jawa Tengah itu dan para pendukungnya yang dianggap kemajon yang dimaknai maju melebihi batas.
"Adagium di PDIP itu yang di luar barisan bukan banteng, itu namanya celeng," kata Pacul pada Oktober 2021 lalu.
Istilah banteng versus celeng pun jadi istilah baru di antara 'anak-anak' Megawati. Tapi itu dulu, sebelum kemudian Megawati benar-benar mengukuhkan Ganjar sebagai bakal capres PDIP pada 21 April lalu di Istana Batu Tulis, Kota Bogor.
Baca halaman selanjutnya.
Sanjungan Megawati sebagai Negarawan
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri bersama sejumlah kader saat Rakernas III PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (6/6). (Arsip DPP PDIP)
Beberapa saat sebelum itu, budayawan Butet Kartaredjasa lebih dulu berbicara di depan Megawati di lokasi yang sama. Dalam sambutannya, Butet menyebut Megawati sebagai negarawan. Kata Butet, status politik Megawati telah mencapai makrifat politik.
Mega menurut dia adalah negarawan, dan karenanya Butet yakin praktik politik yang dilakukan Mega bukan politik transaksional.
"Makrifat politik itu levelnya negarawan kira-kira begitu. Kalau negarawan kelasnya ini pasti bukan transaksional," klaim Butet.
Pernyataan Butet itu diklaimnya merujuk pada beberapa alasan. Pertama, kata dia, jika saja Megawati mengedepankan egonya sebagai politikus, pada 2014 mestinya dia bisa maju sebagai capres. Namun, Megawati justru mencalonkan Joko Widodo (Jokowi)--putra Solo yang kala itu sedang menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Butet menilai sikap kenegarawanan Megawati lalu terulang menjelang Pilpres 2024. Menurut Butet, Megawati lagi-lagi mengubur egonya setelah mencalonkan Ganjar alih-alih putrinya sendiri yang kini menjabat Ketua DPR, Puan.
"Tahun ini kalau saja masih juga egosentris dan belum level makrifat tentu mungkin Mbak Puan yang dipaksakan. Tapi, akhirnya kemarin kita lihat tanggal 21 April itu, Ganjar yang ditugasi oleh Ibu Megawati untuk menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya," kata Butet.
"Mosok kayak begitu transaksional, wong Ganjar neng kere," lanjut Butet.
Dan, Megawati yang tampak riang diapit dua anaknya--Prananda serta Puan--mendengarkan Encik berdendang di hari kedua Rakernas III PDIP.
Konser mini privat oleh Encik si penggubah lagu 'Celeng Dhegleng' itu sekaligus menjadi momentum perilisan lagu kampanye Ganjar Pranowo di Pilpres 2024, yang langsung disaksikan oleh Puan Maharani.