Cerita Aipda Purnomo Rawat ODGJ dan Rangkul Mereka yang Telantar
CNN Indonesia
Jumat, 07 Jul 2023 16:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Aipda Purnomo, polisi baik hati yang menampung dan merawat ODGJ dan orang terlantar. (Arsip Aipda Purnomo)
Lamongan, CNN Indonesia --
Di tengah rentetan kasus anggota Polri yang mencoreng nama Bhayangkara, masih ada sosok yang memegang prinsip mengayomi dan melindungi masyarakat.
Ia adalah Aipda Purnomo, seorang polisi berusia 43 tahun yang tulus merangkul orang terlantar dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Polisi ini rela menyulap rumah pribadinya yang berada di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan, menjadi tempat perlindungan mereka yang diabaikan dan terbuang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak enam tahun lalu, Purnomo dengan tangan terbuka telah menampung dan merawat ratusan orang terlantar dan ODGJ.
Purnomo menyadari, ada banyak orang yang terpaksa hidup di jalanan, kehilangan kasih sayang dan keluarga. Melihat kondisi mereka, Purnomo tak mampu berpaling. Sejak itu, pintu rumahnya terbuka lebar untuk mereka yang kehilangan tempat tinggal.
"Enam tahun lalu, saya tidak sengaja dipertemukan dengan dua ODGJ, saya merawat mereka di rumah saya, tiga bulan, mereka sembuh dan kembali ke keluarganya. Sejak saat itu saya terpanggil. Ini masuk tahun keenam saya merawat ODGJ dan orang-orang terlantar," kata Purnomo kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Kepala Unit Pembinaan Perpolisian Masyarakat (Kanitbinpolmas) Polres Lamongan ini mengaku, misi sosialnya ini dilakukan di sela dinasnya sebagai polisi.
Setiap harinya, ia bekerja di balik seragam cokelat. Tapi pada saat bersamaan, di sudut-sudut jalanan yang berdebu, di bawah terik atau gelap, mata Purnomo tak luput mencari keberadaan orang-orang terlantar dan ODGJ yang butuh pertolongan.
Dalam pelukannya, Purnomo membawa mereka pulang ke dunia baru yang penuh harapan dan pengertian.
Saat libur dari dinas, ia juga menggunakan waktu itu sepenuhnya untuk merawat para ODGJ. Tak jarang ia juga berkunjung ke beberapa daerah untuk menjemput mereka yang membutuhkan pertolongan.
"Setiap saya libur, setiap saya di rumah, aktivitas saya bisa dikatakan full untuk merawat mereka karena kami tinggal satu rumah," tutur Purnomo.
Kapolres Lamongan, Kapolda Jawa Timur, bahkan sampai Kapolri mengapresiasi apa yang dilakukan Purnomo ini. Dia pun diberi kesempatan menempuh pendidikan dan diklat lanjutan untuk naik pangkat jadi perwira Polri.
"Saya dapat bantuan dari Bapak Kapolres Lamongan, Bapak Kapolda sampai Bapak Kapolri. Kami benar-benar didukung," ucap Purnomo, yang sudah berkarier di Kepolisian sejak 2000 ini.
Tapi, karena masa liburnya digunakan penuh untuk merawat ODGJ, hal ini ternyata sempat menimbulkan percikan masalah keluarga. Di awal-awal sang istri merasa waktu Purnomo tersita hanya untuk merawat ODGJ. Waktu untuk keluarga jadi tak ada.
"Pertama kali saya merawat ini, istri saya sempat tidak mendukung. Masalahnya saya dinas, kalau waktunya libur harusnya untuk keluarga, namun saya pakai untuk mencari ODGJ," ucapnya.
Foto: Arsip Aipda Purnomo Aipda Purnomo, Polisi Penyelamat ODGJ dan Mereka yang Terlantar
Tapi, lama kelamaan istri Purnomo lah justru yang paling banyak mencurahkan waktunya untuk merawat para ODGJ ini, dibanding dirinya. Ia pun bersyukur keluarganya bisa mengerti.
"Tapi lama-lama karena kebiasaan saya begitu, sekarang malah istri saya yang terjun langsung dan lebih lama merawat mereka dari pada saya. Karena saya harus dinas," katanya.
Tak berhenti di situ, tantangan merawat ODGJ di rumahnya sendiri ini, juga sedikit menyita kenyamanan keluarganya. Itu terjadi bila ODGJ mengamuk dan hilang kendali. Anak dan istrinya kerap jadi sasaran.
"Pada saat ODGJ ini berontak dan tidak sadar, mengamuk, anak saya, istri saya, ditempeleng, diludahi, dilempar batu juga sering," ungkap Purnomo.
Tapi itu tak masalah bagi Purnomo dan keluarganya. Dia menganggap kejadian-kejadian itu adalah pengorbanan serta tantangan dari tuhan, yang akan membuat mereka makin kuat.
"Namun Alhamdulillah itu tantangan saja yang memang dihadirkan Allah untuk membuat kami kuat," tuturnya.
Foto: Arsip Aipda Purnomo Aipda Purnomo, Polisi Penyelamat ODGJ dan Mereka yang Terlantar
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Sejak enam tahun lalu, sudah ada sekitar 500-an ODGJ dan orang terlantar yang dirawat Purnomo di rumahnya. Sebagian mereka sudah pulih dan kembali ke keluarganya. Sementara per Jumat (30/6), ada 150-an ODGJ yang masih tinggal di sana.
Di rumah Purnomo, para ODGJ tidak hanya mendapatkan tempat berlindung, tetapi juga perawatan medis dan rehabilitasi. Purnomo dan timnya dengan sabar membina, membantu mereka menemukan kembali harapan.
"Di tempat saya mereka rutin ikut salat berjemaah, pemeriksaan medis rutin dari dokter dan perawat, olah raga, mengaji dan rukiah," ucapnya.
Namun, Purnomo tidak berhenti hanya pada upaya memberikan perlindungan dan pemulihan. Ia mengenali kekuatan media sosial sebagai sarana untuk menginspirasi dan mengumpulkan dana bagi mereka yang membutuhkan. Tak luput ia sisihkan sebagian gajinya untuk para ODGJ dan warga terlantar.
Purnomo mengelola laman YouTube yang diberi nama 'Purnomo Belajar Baik'. Dalam saluran tersebut, ia berbagi pengetahuan dan pengalaman positif.
"Hasil [pendapatan adsense] akun dari YouTube, InsyaAllah, 75 persennya kami pakai untuk kegiatan sosial operasional penanganan ODGJ," ujarnya.
Sebab, kata Purnomo, dana operasional merawat ratusan ODGJ ini cukup besar. Dia harus merogoh kantong cukup dalam untuk biaya menyediakan obat-obatan, vitamin hingga makanan yang bergizi.
Foto: Arsip Aipda Purnomo Aipda Purnomo, Polisi Penyelamat ODGJ dan Mereka yang Terlantar
Sebagian ODGJ memang ditampungnya secara gratis oleh Purnomo, tanpa ada biaya apapun. Tapi sebagian yang lain adalah ODGJ yang dititipkan keluarganya, mereka dikenakan biaya patungan. Beruntung banyak orang baik juga yang mau menjadi donatur membantunya.
"Uang yang kami dapat itu kami putar untuk operasional. Karena obat yang kami beli itu cukup besar, kami juga harus menyiapkan vitamin dan makan yang bergizi. Alhamdulillah dari konten YouTube dan tambahan donatur, Alhamdulillah semua bisa tercukupi," ujarnya.
Purnomo tak setengah-setengah untuk merawat para ODGJ ini. Dia mempunyai tim yang terdiri dari perawat hingga dokter spesialis. Karena itu, ia memastikan Yayasan Berkas Bersinar Abadi yang dikelolanya ini legal dan berizin.
Dedikasi Purnomo telah menyentuh hati banyak orang, termasuk penonton kanal YouTube 'Purnomo Belajar Baik' yang terinspirasi oleh karyanya.
Uang yang terkumpul dari hasil YouTube-nya itu, tak digunakan untuk operasional perwatan ODGJ saja. Tapi juga buat beasiswa para mahasiswa kurang mampu yang berprestasi.
"Dengan penghasilan YouTube, kami memberikan beberapa beasiswa, per hari ini ada 20 mahasiswa," ucapnya.
Purnomo menyebut para pengikutnya di media sosial adalah orang-orang baik. Sebab dengan menonton konten-konten yang ia buat, secara tak langsung mereka juga ikut menyumbang dana untuk semua kegiatan sosial ini.
"Karena penghasilan saya itu dari netizen semakin banyak follower [subscriber dan viewer] yang melihat konten saya, secara tidak langsung mereka juga menyumbang kegiatan ini. Ini uang orang-orang baik," ucapnya.
Dari donasi dan penghasilan akun YouTube-nya itu pula, Purnomo bisa menyalurkan bantuan modal kepada anak terlantar dan ODGJ yang sudah pulih, usai menjalani rehabilitasi di rumahnya.
Purnomo tak berharap apapun dari semua hal yang ia lakukan sekarang. Ia hanya ingin terus belajar menjadi baik. Memahami nilai ikhlas dan tulus. Dan terus berusaha menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
"Hanya orang-orang yang ikhlas dan tulus menurut saya yang mau merawat dan membantu ODGJ. Karena mereka kalau kita rawat, dia tidak bisa mengucap terima kasih, dan kita hanya bisa berharap dari Allah untuk balasannya," pungkas Purnomo.
Lamongan, CNN Indonesia --
Di tengah rentetan kasus anggota Polri yang mencoreng nama Bhayangkara, masih ada sosok yang memegang prinsip mengayomi dan melindungi masyarakat.
Ia adalah Aipda Purnomo, seorang polisi berusia 43 tahun yang tulus merangkul orang terlantar dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Polisi ini rela menyulap rumah pribadinya yang berada di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan, menjadi tempat perlindungan mereka yang diabaikan dan terbuang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak enam tahun lalu, Purnomo dengan tangan terbuka telah menampung dan merawat ratusan orang terlantar dan ODGJ.
Purnomo menyadari, ada banyak orang yang terpaksa hidup di jalanan, kehilangan kasih sayang dan keluarga. Melihat kondisi mereka, Purnomo tak mampu berpaling. Sejak itu, pintu rumahnya terbuka lebar untuk mereka yang kehilangan tempat tinggal.
"Enam tahun lalu, saya tidak sengaja dipertemukan dengan dua ODGJ, saya merawat mereka di rumah saya, tiga bulan, mereka sembuh dan kembali ke keluarganya. Sejak saat itu saya terpanggil. Ini masuk tahun keenam saya merawat ODGJ dan orang-orang terlantar," kata Purnomo kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Kepala Unit Pembinaan Perpolisian Masyarakat (Kanitbinpolmas) Polres Lamongan ini mengaku, misi sosialnya ini dilakukan di sela dinasnya sebagai polisi.
Setiap harinya, ia bekerja di balik seragam cokelat. Tapi pada saat bersamaan, di sudut-sudut jalanan yang berdebu, di bawah terik atau gelap, mata Purnomo tak luput mencari keberadaan orang-orang terlantar dan ODGJ yang butuh pertolongan.
Dalam pelukannya, Purnomo membawa mereka pulang ke dunia baru yang penuh harapan dan pengertian.
Saat libur dari dinas, ia juga menggunakan waktu itu sepenuhnya untuk merawat para ODGJ. Tak jarang ia juga berkunjung ke beberapa daerah untuk menjemput mereka yang membutuhkan pertolongan.
"Setiap saya libur, setiap saya di rumah, aktivitas saya bisa dikatakan full untuk merawat mereka karena kami tinggal satu rumah," tutur Purnomo.
Kapolres Lamongan, Kapolda Jawa Timur, bahkan sampai Kapolri mengapresiasi apa yang dilakukan Purnomo ini. Dia pun diberi kesempatan menempuh pendidikan dan diklat lanjutan untuk naik pangkat jadi perwira Polri.
"Saya dapat bantuan dari Bapak Kapolres Lamongan, Bapak Kapolda sampai Bapak Kapolri. Kami benar-benar didukung," ucap Purnomo, yang sudah berkarier di Kepolisian sejak 2000 ini.
Tapi, karena masa liburnya digunakan penuh untuk merawat ODGJ, hal ini ternyata sempat menimbulkan percikan masalah keluarga. Di awal-awal sang istri merasa waktu Purnomo tersita hanya untuk merawat ODGJ. Waktu untuk keluarga jadi tak ada.
"Pertama kali saya merawat ini, istri saya sempat tidak mendukung. Masalahnya saya dinas, kalau waktunya libur harusnya untuk keluarga, namun saya pakai untuk mencari ODGJ," ucapnya.
Foto: Arsip Aipda Purnomo Aipda Purnomo, Polisi Penyelamat ODGJ dan Mereka yang Terlantar
Tapi, lama kelamaan istri Purnomo lah justru yang paling banyak mencurahkan waktunya untuk merawat para ODGJ ini, dibanding dirinya. Ia pun bersyukur keluarganya bisa mengerti.
"Tapi lama-lama karena kebiasaan saya begitu, sekarang malah istri saya yang terjun langsung dan lebih lama merawat mereka dari pada saya. Karena saya harus dinas," katanya.
Tak berhenti di situ, tantangan merawat ODGJ di rumahnya sendiri ini, juga sedikit menyita kenyamanan keluarganya. Itu terjadi bila ODGJ mengamuk dan hilang kendali. Anak dan istrinya kerap jadi sasaran.
"Pada saat ODGJ ini berontak dan tidak sadar, mengamuk, anak saya, istri saya, ditempeleng, diludahi, dilempar batu juga sering," ungkap Purnomo.
Tapi itu tak masalah bagi Purnomo dan keluarganya. Dia menganggap kejadian-kejadian itu adalah pengorbanan serta tantangan dari tuhan, yang akan membuat mereka makin kuat.
"Namun Alhamdulillah itu tantangan saja yang memang dihadirkan Allah untuk membuat kami kuat," tuturnya.
Foto: Arsip Aipda Purnomo Aipda Purnomo, Polisi Penyelamat ODGJ dan Mereka yang Terlantar
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Dana Pribadi, Youtube dan Donatur
Aipda Purnomo, polisi yang merawat ratusan ODGJ dan orang terlantar. (Arsip Aipda Purnomo)
Sejak enam tahun lalu, sudah ada sekitar 500-an ODGJ dan orang terlantar yang dirawat Purnomo di rumahnya. Sebagian mereka sudah pulih dan kembali ke keluarganya. Sementara per Jumat (30/6), ada 150-an ODGJ yang masih tinggal di sana.
Di rumah Purnomo, para ODGJ tidak hanya mendapatkan tempat berlindung, tetapi juga perawatan medis dan rehabilitasi. Purnomo dan timnya dengan sabar membina, membantu mereka menemukan kembali harapan.
"Di tempat saya mereka rutin ikut salat berjemaah, pemeriksaan medis rutin dari dokter dan perawat, olah raga, mengaji dan rukiah," ucapnya.
Namun, Purnomo tidak berhenti hanya pada upaya memberikan perlindungan dan pemulihan. Ia mengenali kekuatan media sosial sebagai sarana untuk menginspirasi dan mengumpulkan dana bagi mereka yang membutuhkan. Tak luput ia sisihkan sebagian gajinya untuk para ODGJ dan warga terlantar.
Purnomo mengelola laman YouTube yang diberi nama 'Purnomo Belajar Baik'. Dalam saluran tersebut, ia berbagi pengetahuan dan pengalaman positif.
"Hasil [pendapatan adsense] akun dari YouTube, InsyaAllah, 75 persennya kami pakai untuk kegiatan sosial operasional penanganan ODGJ," ujarnya.
Sebab, kata Purnomo, dana operasional merawat ratusan ODGJ ini cukup besar. Dia harus merogoh kantong cukup dalam untuk biaya menyediakan obat-obatan, vitamin hingga makanan yang bergizi.
Foto: Arsip Aipda Purnomo Aipda Purnomo, Polisi Penyelamat ODGJ dan Mereka yang Terlantar
Sebagian ODGJ memang ditampungnya secara gratis oleh Purnomo, tanpa ada biaya apapun. Tapi sebagian yang lain adalah ODGJ yang dititipkan keluarganya, mereka dikenakan biaya patungan. Beruntung banyak orang baik juga yang mau menjadi donatur membantunya.
"Uang yang kami dapat itu kami putar untuk operasional. Karena obat yang kami beli itu cukup besar, kami juga harus menyiapkan vitamin dan makan yang bergizi. Alhamdulillah dari konten YouTube dan tambahan donatur, Alhamdulillah semua bisa tercukupi," ujarnya.
Purnomo tak setengah-setengah untuk merawat para ODGJ ini. Dia mempunyai tim yang terdiri dari perawat hingga dokter spesialis. Karena itu, ia memastikan Yayasan Berkas Bersinar Abadi yang dikelolanya ini legal dan berizin.
Dedikasi Purnomo telah menyentuh hati banyak orang, termasuk penonton kanal YouTube 'Purnomo Belajar Baik' yang terinspirasi oleh karyanya.
Uang yang terkumpul dari hasil YouTube-nya itu, tak digunakan untuk operasional perwatan ODGJ saja. Tapi juga buat beasiswa para mahasiswa kurang mampu yang berprestasi.
"Dengan penghasilan YouTube, kami memberikan beberapa beasiswa, per hari ini ada 20 mahasiswa," ucapnya.
Purnomo menyebut para pengikutnya di media sosial adalah orang-orang baik. Sebab dengan menonton konten-konten yang ia buat, secara tak langsung mereka juga ikut menyumbang dana untuk semua kegiatan sosial ini.
"Karena penghasilan saya itu dari netizen semakin banyak follower [subscriber dan viewer] yang melihat konten saya, secara tidak langsung mereka juga menyumbang kegiatan ini. Ini uang orang-orang baik," ucapnya.
Dari donasi dan penghasilan akun YouTube-nya itu pula, Purnomo bisa menyalurkan bantuan modal kepada anak terlantar dan ODGJ yang sudah pulih, usai menjalani rehabilitasi di rumahnya.
Purnomo tak berharap apapun dari semua hal yang ia lakukan sekarang. Ia hanya ingin terus belajar menjadi baik. Memahami nilai ikhlas dan tulus. Dan terus berusaha menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
"Hanya orang-orang yang ikhlas dan tulus menurut saya yang mau merawat dan membantu ODGJ. Karena mereka kalau kita rawat, dia tidak bisa mengucap terima kasih, dan kita hanya bisa berharap dari Allah untuk balasannya," pungkas Purnomo.