Suara batuk saling bersahutan di ruang tunggu pasien Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Salah satunya berasal dari balik masker anak perempuan berusia tiga tahun, Syachira.
Di pangkuan ibunya, Syachira tak kuasa menahan gatal di tenggorokan. Sudah tujuh hari batuknya tak reda. Sepuluh hari sebelumnya, adiknya yang baru berumur satu tahun, batuk-batuk.
"Ini yang ketiga kali dalam seminggu ke puskesmas," kata Nadya, ibu Syachira, saat ditemui di Puskesmas Duren Sawit, Selasa (22/8).
Dia mengatakan dokter mendiagnosis Syachira mengalami peradangan. Batuknya berdahak, napasnya terdengar grok-grok, bahkan sempat demam. Namun hasil cek darah menunjukkan kadar trombosit normal dan negatif tifus.
"Karena batuknya enggak sembuh-sembuh, jadinya demam," ujar warga Pondok Bambu, Jakarta Timur itu.
Nadya mengatakan selama ini anaknya lebih sering beraktivitas di dalam rumah. Dia sendiri adalah ibu rumah tangga.
Sementara suaminya sehari-hari berkendara motor ke tempat kerja di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Dia satu-satunya yang merokok di rumah.
"Saran dokter kurangi aktivitas di luar, karena cuacanya lagi kayak gini, kebanyakan yang sakit juga rata-rata batuk, ISPA (infeksi saluran pernapasan akut)," kata Nadya.
Di puskesmas yang sama, Aufa, anak perempuan berusia 1 tahun 10 bulan, muntah-muntah di depan bangku pasien. Sang ibu, Ayu Yuliani, khawatir kondisi anaknya makin memburuk. Terlebih siang itu sudah empat kali muntah.
Aufa sempat dibawa ke Unit Gawat Darurat lantaran mengeluh sakit perut pada Minggu (20/8). Dua hari berlalu, kondisi kesehatannya belum juga pulih.
"Sekarang kalau ngeluh sakit langsung muntah. Saya takut juga, takut dehidrasi atau apa," ucapnya.
Ayu adalah warga Jatibening, Bekasi. Peserta BPJS mandiri ini memilih faskes di Puskesmas Duren Sawit. Sebagai ibu rumah tangga, aktivitasnya lebih banyak di dalam. Dia keluar rumah hanya untuk antar-jemput ponakan ke sekolah.
Polusi mengintai usai pandemi
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Puskesmas Kecamatan Duren Sawit paling banyak menerima kunjungan pasien dibandingkan puskesmas lain di DKI Jakarta. Tercatat ada 19.876 kunjungan pada periode 1-22 Agustus 2023.
Kepala Satuan Pelaksana UKP Puskesmas Kecamatan Duren Sawit dr Farhannuddin mengatakan ada peningkatan kasus ISPA sebesar 10 persen pada Juli lalu yaitu 1.198 kasus. Juni tercatat 1.061 kasus. Sementara data Agustus akan direkapitulasi di akhir bulan.
"Saya lihat memang ada peranan dari polusi cukup tinggi. Juli-Agustus (kasus ISPA) saya rasa naik," kata Farhannuddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/8).
Dia mengatakan kasus ISPA paling banyak menyerang anak-anak balita, selain kelompok masyarakat usia produktif. Menurutnya, mayoritas anak terserang penyakit pernapasan karena tertular dari anggota keluarga, teman, atau terpapar asap rokok di rumah.
"Penderita ISPA untuk anak-anak cukup berisiko, karena anak-anak antibodinya belum terbentuk sempurna, dia rentan sakit," ujarnya.
Banyak pula pengemudi ojek online yang menjadi pasiennya. Farhannuddin menduga mereka batuk karena tidak mengenakan masker saat mengantar penumpang di jam sibuk. Penularan antar-anggota keluarga pun terjadi di rumah.
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA juga seiring berubahnya status pandemi Covid-19 menjadi endemi pada 21 Juni lalu. Bahkan, pemerintah telah mencabut aturan kewajiban memakai masker di tempat umum sejak 9 Juni.
"Bisa juga euforia masyarakat dari pandemi jadi endemi, lepas masker, dia lupa selain covid ada yang mengintai yaitu polusi, harusnya tetap pakai masker," kata Farhannuddin.
Hari itu, situs pemantau kualitas udara IQAir mencatat indeks kualitas udara di Jakarta berada pada level 170 Air Quality Index (AQI) US pada pukul 08.00 WIB. Tingkat polusi udara dinyatakan tidak sehat.
Insert - Partikel Berbahaya PM 2.5. (Basith Subastian/CNN Indonesia)
Dalam situs itu juga disebutkan bahwa polutan utama udara di Jakarta yaitu Particulate Matter (PM) 2.5. Ini adalah partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Nilai ambang batas polutan tersebut yang diperbolehkan di udara bebas yaitu 65 mikrogram per meter kubik.
Situs IQAir menyatakan konsentrasi PM 2.5 di Jakarta pagi itu mencapai 92.4 µg/m³. Jumlah itu 18.5 kali lipat di atas ambang panduan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).
Dengan kondisi itu, Jakarta menempati posisi keempat kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Posisi pertama diduduki Tangerang Selatan, disusul Kota Tangerang, kemudian Terentang-Kalimantan Barat.
Situs IQAir mencatat kualitas udara Jakarta tidak sehat pada Selasa (22/8/2023). (Foto: IQAir)
Lonjakan kasus ISPA
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pasien ISPA di DKI Jakarta meningkat signifikan saat ini. Dia menjelaskan sebelum pandemi Covid-19, pasien ISPA mencapai 50 ribu orang. Saat ini jumlahnya meningkat hingga empat kali lipat.
"Yang kena (ISPA) sekarang sudah naik 200 ribuan kasus. Nah, itu ada akibatnya dari polusi udara," kata Budi di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (24/8).
Dia menjelaskan polusi udara mengakibatkan berbagai penyakit pernapasan, seperti kanker paru, TBC, paru obstruksi kronis, asma, dan pneumonia.
Budi mengatakan total klaim BPJS pada tahun lalu untuk beberapa penyakit pernapasan itu mencapai Rp10 triliun. Dengan lonjakan kasus ISPA, diperkirakan jumlah klaim juga akan meningkat. "Pasti tahun ini kalau lebih banyak yang kena, itu akan naik," katanya.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mencatat kenaikan kasus ISPA sepanjang semester pertama 2023. Pada Januari tercatat 102.609 kasus ISPA di Jakarta. Bulan berikutnya mencapai 104.638 kasus.
Kasus ISPA tertinggi terjadi pada Maret sebanyak 119.734 kasus. Kemudian kasus sempat menurun pada April-Mei yaitu 109.705 dan 99.130. Penyakit ISPA kembali naik pada Juni yaitu 102.475 kasus.
Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan kasus ISPA polanya akan sama dari tahun ke tahun. Kasus ini akan meningkat pada September, lalu mencapai puncaknya pada Oktober hingga November.
"Hanya 0,9 persen warga DKI Jakarta terkena batuk pilek ISPA/pneumonia setiap bulannya, rata-rata 100 ribu kasus dari 11 juta penduduk," katanya.
Infografis Polusi, Pembunuh Senyap dari Udara. (Basith Subastian/CNN Indonesia)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara sebagai pembunuh senyap atau the silent killer. Polutan masuk ke tubuh tanpa terasa. Namun dampaknya cepat ataupun lambat berakibat fatal, bahkan mengakibatkan kematian.
Setiap tahun, sekitar 7 juta kematian disebabkan oleh paparan polusi udara di luar ruangan maupun rumah tangga. Lebih dari 2 juta kematian di antaranya berada di kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu 2,2 juta orang meninggal sebelum waktunya setiap tahun akibat polusi udara. Dari jumlah itu, 29 persen di antaranya karena penyakit jantung koroner, 27 persen karena strok, 22 persen penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit respiratori lainnya.
Kepala Divisi Respirologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Darmawan B. Setyanto mengatakan polusi udara juga bisa berdampak pada kasus stunting.
Sejumlah riset menunjukkan bahwa polutan mengakibatkan risiko stunting dua kali lebih tinggi. Sebagian besar karena polusi di dalam rumah dari asap rokok atau menyalakan lilin/perapian.
"Sudah ada penelitian, polusi udara turut menyumbang terjadinya stunting pada anak-anak," kata Darmawan dalam diskusi daring yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (18/8).
Selain itu polusi udara juga mengakibatkan gangguan fungsi paru, baik aspek aliran udaranya maupun volumenya, serta meningkatkan risiko terjadinya asma. Di negara-negara dengan polusi tinggi, angka kasus asma meningkat.
"Yang paling kita takut adalah yang terkena di bagian parunya, yaitu pneumonia," kata Darmawan.
Hampir satu juta anak meninggal karena pneumonia setiap tahun. Separuh dari jumlah tersebut terkait dengan polusi udara.
Terpapar sejak dalam kandungan
Darmawan menjelaskan anak-anak terpapar berbagai polutan melalui empat jalur utama. Bahkan anak bisa terpapar polusi udara sejak dalam kandungan melalui transplasental dari ibu yang terpapar.
Paparan polusi udara terhadap ibu hamil dapat menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan rendah.
"Kalau sudah lahir, ada tiga sistem organ kita yang paling terpajan dengan dunia sekitarnya, yaitu pajanan di kulit, pajanan udara yang kita hirup, makanan yang kita cerna," kata dokter spesialis anak di RSCM itu.
Menurutnya, anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara dibandingkan dengan kelompok usia lain. Secara fisiologis, mereka bernapas dengan laju napas yang lebih besar. Jika dihitung per kilogram berat badannya, kata Darmawan, udara yang dihirup pun lebih banyak.
"Sehingga polutan yang terhirup juga lebih banyak pada anak-anak dibanding orang dewasa," katanya.
Data WHO menunjukkan hampir seluruh penduduk dunia sekitar 99 persen menghirup udara melebihi batas aman yang ditetapkan WHO, yaitu mengandung banyak polutan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Badan Pemerhati Hak Anak PBB, UNICEF menyebut sekitar 300 juta anak hidup di wilayah terpapar polusi udara yang parah, melebihi 6 kali lipat batasan internasional.
Dampaknya terhadap anak-anak, polusi udara dapat menghambat perkembangan otak, mengurangi fungsi paru-paru, dan memicu asma. Selain itu, di kemudian hari dampak polusi juga dapat memicu masalah seperti kanker, stroke, penyakit pernapasan kronis, kardiovaskular atau serangan jantung.
Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake dalam pengantar laporan berjudul "Bersihkan Udara untuk Anak-anak" menyebut sekitar 600 ribu anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebabkan atau diperburuk oleh polusi udara, terutama di negara-negara miskin.
Berdasarkan International Journal of Environmental Research and Public Health, disebutkan bahwa sumber utama polusi udara bagi masyarakat umum disumbang oleh kendaraan bermotor. Disusul aktivitas industri, lalu lintas udara, dan pembakaran biomassa di lingkungan rumah tangga.
Darmawan mengatakan polusi udara akibat kendaraan bermotor kembali meningkat pasca-pandemi setelah aktivitas masyarakat kembali normal.
"Selama masa pandemi, kegiatan banyak dilakukan di rumah, tapi sekarang kembali, maka kembali mobil-mobil keluar dari sarangnya, dan menyumbangkan polutan yang banyak ini," kata Darmawan.
Polusi udara bukan masalah baru di Indonesia maupun dunia. Penerapan kebijakan work from home (WFH) untuk mengurangi polusi dinilai tidak menyelesaikan akar persoalan.
"Ini adalah alarm bahwa sistemnya kita harus perbaiki semuanya, tidak kemudian kita harus shortcutwork from home," kata Darmawan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Suara batuk saling bersahutan di ruang tunggu pasien Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Salah satunya berasal dari balik masker anak perempuan berusia tiga tahun, Syachira.
Di pangkuan ibunya, Syachira tak kuasa menahan gatal di tenggorokan. Sudah tujuh hari batuknya tak reda. Sepuluh hari sebelumnya, adiknya yang baru berumur satu tahun, batuk-batuk.
"Ini yang ketiga kali dalam seminggu ke puskesmas," kata Nadya, ibu Syachira, saat ditemui di Puskesmas Duren Sawit, Selasa (22/8).
Dia mengatakan dokter mendiagnosis Syachira mengalami peradangan. Batuknya berdahak, napasnya terdengar grok-grok, bahkan sempat demam. Namun hasil cek darah menunjukkan kadar trombosit normal dan negatif tifus.
"Karena batuknya enggak sembuh-sembuh, jadinya demam," ujar warga Pondok Bambu, Jakarta Timur itu.
Nadya mengatakan selama ini anaknya lebih sering beraktivitas di dalam rumah. Dia sendiri adalah ibu rumah tangga.
Sementara suaminya sehari-hari berkendara motor ke tempat kerja di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Dia satu-satunya yang merokok di rumah.
"Saran dokter kurangi aktivitas di luar, karena cuacanya lagi kayak gini, kebanyakan yang sakit juga rata-rata batuk, ISPA (infeksi saluran pernapasan akut)," kata Nadya.
Di puskesmas yang sama, Aufa, anak perempuan berusia 1 tahun 10 bulan, muntah-muntah di depan bangku pasien. Sang ibu, Ayu Yuliani, khawatir kondisi anaknya makin memburuk. Terlebih siang itu sudah empat kali muntah.
Aufa sempat dibawa ke Unit Gawat Darurat lantaran mengeluh sakit perut pada Minggu (20/8). Dua hari berlalu, kondisi kesehatannya belum juga pulih.
"Sekarang kalau ngeluh sakit langsung muntah. Saya takut juga, takut dehidrasi atau apa," ucapnya.
Ayu adalah warga Jatibening, Bekasi. Peserta BPJS mandiri ini memilih faskes di Puskesmas Duren Sawit. Sebagai ibu rumah tangga, aktivitasnya lebih banyak di dalam. Dia keluar rumah hanya untuk antar-jemput ponakan ke sekolah.
Polusi mengintai usai pandemi
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Puskesmas Kecamatan Duren Sawit paling banyak menerima kunjungan pasien dibandingkan puskesmas lain di DKI Jakarta. Tercatat ada 19.876 kunjungan pada periode 1-22 Agustus 2023.
Kepala Satuan Pelaksana UKP Puskesmas Kecamatan Duren Sawit dr Farhannuddin mengatakan ada peningkatan kasus ISPA sebesar 10 persen pada Juli lalu yaitu 1.198 kasus. Juni tercatat 1.061 kasus. Sementara data Agustus akan direkapitulasi di akhir bulan.
"Saya lihat memang ada peranan dari polusi cukup tinggi. Juli-Agustus (kasus ISPA) saya rasa naik," kata Farhannuddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/8).
Dia mengatakan kasus ISPA paling banyak menyerang anak-anak balita, selain kelompok masyarakat usia produktif. Menurutnya, mayoritas anak terserang penyakit pernapasan karena tertular dari anggota keluarga, teman, atau terpapar asap rokok di rumah.
"Penderita ISPA untuk anak-anak cukup berisiko, karena anak-anak antibodinya belum terbentuk sempurna, dia rentan sakit," ujarnya.
Banyak pula pengemudi ojek online yang menjadi pasiennya. Farhannuddin menduga mereka batuk karena tidak mengenakan masker saat mengantar penumpang di jam sibuk. Penularan antar-anggota keluarga pun terjadi di rumah.
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA juga seiring berubahnya status pandemi Covid-19 menjadi endemi pada 21 Juni lalu. Bahkan, pemerintah telah mencabut aturan kewajiban memakai masker di tempat umum sejak 9 Juni.
"Bisa juga euforia masyarakat dari pandemi jadi endemi, lepas masker, dia lupa selain covid ada yang mengintai yaitu polusi, harusnya tetap pakai masker," kata Farhannuddin.
Hari itu, situs pemantau kualitas udara IQAir mencatat indeks kualitas udara di Jakarta berada pada level 170 Air Quality Index (AQI) US pada pukul 08.00 WIB. Tingkat polusi udara dinyatakan tidak sehat.
Insert - Partikel Berbahaya PM 2.5. (Basith Subastian/CNN Indonesia)
Dalam situs itu juga disebutkan bahwa polutan utama udara di Jakarta yaitu Particulate Matter (PM) 2.5. Ini adalah partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Nilai ambang batas polutan tersebut yang diperbolehkan di udara bebas yaitu 65 mikrogram per meter kubik.
Situs IQAir menyatakan konsentrasi PM 2.5 di Jakarta pagi itu mencapai 92.4 µg/m³. Jumlah itu 18.5 kali lipat di atas ambang panduan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).
Dengan kondisi itu, Jakarta menempati posisi keempat kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Posisi pertama diduduki Tangerang Selatan, disusul Kota Tangerang, kemudian Terentang-Kalimantan Barat.
Situs IQAir mencatat kualitas udara Jakarta tidak sehat pada Selasa (22/8/2023). (Foto: IQAir)
Lonjakan kasus ISPA
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pasien ISPA di DKI Jakarta meningkat signifikan saat ini. Dia menjelaskan sebelum pandemi Covid-19, pasien ISPA mencapai 50 ribu orang. Saat ini jumlahnya meningkat hingga empat kali lipat.
"Yang kena (ISPA) sekarang sudah naik 200 ribuan kasus. Nah, itu ada akibatnya dari polusi udara," kata Budi di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (24/8).
Dia menjelaskan polusi udara mengakibatkan berbagai penyakit pernapasan, seperti kanker paru, TBC, paru obstruksi kronis, asma, dan pneumonia.
Budi mengatakan total klaim BPJS pada tahun lalu untuk beberapa penyakit pernapasan itu mencapai Rp10 triliun. Dengan lonjakan kasus ISPA, diperkirakan jumlah klaim juga akan meningkat. "Pasti tahun ini kalau lebih banyak yang kena, itu akan naik," katanya.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mencatat kenaikan kasus ISPA sepanjang semester pertama 2023. Pada Januari tercatat 102.609 kasus ISPA di Jakarta. Bulan berikutnya mencapai 104.638 kasus.
Kasus ISPA tertinggi terjadi pada Maret sebanyak 119.734 kasus. Kemudian kasus sempat menurun pada April-Mei yaitu 109.705 dan 99.130. Penyakit ISPA kembali naik pada Juni yaitu 102.475 kasus.
Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan kasus ISPA polanya akan sama dari tahun ke tahun. Kasus ini akan meningkat pada September, lalu mencapai puncaknya pada Oktober hingga November.
"Hanya 0,9 persen warga DKI Jakarta terkena batuk pilek ISPA/pneumonia setiap bulannya, rata-rata 100 ribu kasus dari 11 juta penduduk," katanya.
Infografis Polusi, Pembunuh Senyap dari Udara. (Basith Subastian/CNN Indonesia)
Pembunuh Senyap dari Udara
Polusi udara di Jakarta makin memprihatinkan pada 16 Agustus 2023. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara sebagai pembunuh senyap atau the silent killer. Polutan masuk ke tubuh tanpa terasa. Namun dampaknya cepat ataupun lambat berakibat fatal, bahkan mengakibatkan kematian.
Setiap tahun, sekitar 7 juta kematian disebabkan oleh paparan polusi udara di luar ruangan maupun rumah tangga. Lebih dari 2 juta kematian di antaranya berada di kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu 2,2 juta orang meninggal sebelum waktunya setiap tahun akibat polusi udara. Dari jumlah itu, 29 persen di antaranya karena penyakit jantung koroner, 27 persen karena strok, 22 persen penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit respiratori lainnya.
Kepala Divisi Respirologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Darmawan B. Setyanto mengatakan polusi udara juga bisa berdampak pada kasus stunting.
Sejumlah riset menunjukkan bahwa polutan mengakibatkan risiko stunting dua kali lebih tinggi. Sebagian besar karena polusi di dalam rumah dari asap rokok atau menyalakan lilin/perapian.
"Sudah ada penelitian, polusi udara turut menyumbang terjadinya stunting pada anak-anak," kata Darmawan dalam diskusi daring yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (18/8).
Selain itu polusi udara juga mengakibatkan gangguan fungsi paru, baik aspek aliran udaranya maupun volumenya, serta meningkatkan risiko terjadinya asma. Di negara-negara dengan polusi tinggi, angka kasus asma meningkat.
"Yang paling kita takut adalah yang terkena di bagian parunya, yaitu pneumonia," kata Darmawan.
Hampir satu juta anak meninggal karena pneumonia setiap tahun. Separuh dari jumlah tersebut terkait dengan polusi udara.
Terpapar sejak dalam kandungan
Darmawan menjelaskan anak-anak terpapar berbagai polutan melalui empat jalur utama. Bahkan anak bisa terpapar polusi udara sejak dalam kandungan melalui transplasental dari ibu yang terpapar.
Paparan polusi udara terhadap ibu hamil dapat menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan rendah.
"Kalau sudah lahir, ada tiga sistem organ kita yang paling terpajan dengan dunia sekitarnya, yaitu pajanan di kulit, pajanan udara yang kita hirup, makanan yang kita cerna," kata dokter spesialis anak di RSCM itu.
Menurutnya, anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara dibandingkan dengan kelompok usia lain. Secara fisiologis, mereka bernapas dengan laju napas yang lebih besar. Jika dihitung per kilogram berat badannya, kata Darmawan, udara yang dihirup pun lebih banyak.
"Sehingga polutan yang terhirup juga lebih banyak pada anak-anak dibanding orang dewasa," katanya.
Data WHO menunjukkan hampir seluruh penduduk dunia sekitar 99 persen menghirup udara melebihi batas aman yang ditetapkan WHO, yaitu mengandung banyak polutan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Badan Pemerhati Hak Anak PBB, UNICEF menyebut sekitar 300 juta anak hidup di wilayah terpapar polusi udara yang parah, melebihi 6 kali lipat batasan internasional.
Dampaknya terhadap anak-anak, polusi udara dapat menghambat perkembangan otak, mengurangi fungsi paru-paru, dan memicu asma. Selain itu, di kemudian hari dampak polusi juga dapat memicu masalah seperti kanker, stroke, penyakit pernapasan kronis, kardiovaskular atau serangan jantung.
Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake dalam pengantar laporan berjudul "Bersihkan Udara untuk Anak-anak" menyebut sekitar 600 ribu anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebabkan atau diperburuk oleh polusi udara, terutama di negara-negara miskin.
Berdasarkan International Journal of Environmental Research and Public Health, disebutkan bahwa sumber utama polusi udara bagi masyarakat umum disumbang oleh kendaraan bermotor. Disusul aktivitas industri, lalu lintas udara, dan pembakaran biomassa di lingkungan rumah tangga.
Darmawan mengatakan polusi udara akibat kendaraan bermotor kembali meningkat pasca-pandemi setelah aktivitas masyarakat kembali normal.
"Selama masa pandemi, kegiatan banyak dilakukan di rumah, tapi sekarang kembali, maka kembali mobil-mobil keluar dari sarangnya, dan menyumbangkan polutan yang banyak ini," kata Darmawan.
Polusi udara bukan masalah baru di Indonesia maupun dunia. Penerapan kebijakan work from home (WFH) untuk mengurangi polusi dinilai tidak menyelesaikan akar persoalan.
"Ini adalah alarm bahwa sistemnya kita harus perbaiki semuanya, tidak kemudian kita harus shortcutwork from home," kata Darmawan.