Rangkaian Aksi Hari ke-3 'Indonesia Gelap': Aceh, Solo, Palangka Raya
CNN Indonesia
Kamis, 20 Feb 2025 06:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jakarta, CNN Indonesia --
Aksimahasiswa 'Indonesia Gelap' kembali bergulir pada Rabu (19/2) kemarin di sejumlah daerah setelah rangkaian demo hari pertama dan kedua pada Senin (17/2) dan Selasa (18/2) digelar di Jakarta hingga Makassar.
Aksi Indonesia Gelap kemarin digelar di antaranya di Banda Aceh (Aceh), Tasik Malaya (Jawa Barat), Solo (Jawa Tengah), hingga Palangka Raya (Kalimantan Tengah).
Dan, pada hari ini Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bakal menggelar puncak aksi "Indonesia Gelap" di Jakarta pada Kamis (20/2) ini. Selasa dan Rabu lalu tak ada aksi 'Indonesia Gelap' di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Selasa lalu, Koordinator BEM SI mengatakan tak ada aksi di Jakarta pada hari itu karena mereka menyerahkan konsolidasi di internasl masing-masing kampus untuk bersama-sama mempersiapkan aksi pada hari ini.
"Hari ini dimaksimalkan sama teman-teman buat konsolidasi masing-masing internal kampus," kata Herianto kepada CNNIndonesia.com, Selasa lalu.
"Karena Rabu teklap (teknis lapangan) baru Kamis-nya aksi di Istana," imbuhnya.
Puncak aksi itu pun berbarengan dengan rencana pelantikan hampir seribu orang kepala daerah hasil pilkada serentak 2024 oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta pada hari ini.
Berikut rangkuman aksi mahasiswa 'Indonesia Gelap' di sejumlah daerah di Indonesia pada Rabu kemarin.
Solo
Ratusan mahasiswa menggelar aksi 'Indonesia Gelap' di depan Kantor DPRD Kota Solo, Rabu lalu hingga memblokade jalan Adi Sucipto yang merupakan salah satu jalur utama di Kota Solo. Jalan tersebut merupakan akses utama dari Bandara Adi Soemarmo menuju Kota Solo.
Pantauan CNNIndonesia.com, aksi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Soloraya tetap berunjuk rasa di tengah guyuran hujan.
Mereka membentangkan spanduk berisi kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Di antaranya bertuliskan 'Indonesia Gelap' 'Tolak RUU TNI - Polri' hingga 'Adili Jokowi'.
Sepanjang aksi, mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi mahasiswa bergantian orasi di depan massa. Mereka menyoroti berbagai permasalahan yang sedang dialami masyarakat.
"Salah satunya efisiensi anggaran yang benar-benar merugikan rakyat," kata salah satu demonstran, Okta.
Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menilai efisiensi yang dilakukan pemerintah tidak direncanakan dengan matang, sehingga dampaknya justru merugikan masyarakat.
Demonstran juga menyoroti kerusakan hutan adat di berbagai daerah. Tak hanya merusak lingkungan, kerusakan hutan juga dianggap melanggar hak-hak masyarakat adat.
"Banyak teman dari Papua dan Kalimantan, Sumatera, banyak yang mengeluhkan mana hutan kita yang digunduli? Mereka mempertanyakan keadilan untuk masyarakat adat mereka," kata Okta.
Makassar menjadi salah satu kota yang konsisten berlangsung aksi 'Indonesia Gelap' dalam tiga hari terakhir. Pada Rabu lalu, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) menggelar aksi Indonesia Gelap di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) di Jalan AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan.
Mereka menuntut mencabut Inpres Nomor 1 tahun 2025 soal efisiensi anggaran dan mengevaluasi program makanan bergizi gratis.
Aksi mahasiswa berlangsung dengan memblokade jalan sambil membakar ban bekas, sehingga menimbulkan kemacetan panjang di depan kampus UNM.
Banda Aceh
Aksi 'Indonesia Gelap' digelar massa dari kelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh' di halaman DPR Aceh, Banda Aceh. Massa mendesak pemerintah pusat mengevaluasi Instruksi Presiden (Inpres) soal efisiensi anggaran serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIB, Rabu (19/2/2025) berakhir setelah sejumlah anggota DPR Aceh menerima tuntutan mereka. Peserta aksi dan pihak legislatif kompak duduk lesehan di bawah terik matahari.
Ada sejumlah poin tuntutan yang diteken Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USK 2025 Muhammad Ikram serta ketua umum BEM masing-masing fakultas. Anggota DPR Aceh ikut membubuhkan tandatangan pada lembar berisi tuntutan.
Dalam aksi itu, mahasiswa menuntut pengembalian dana Otonomi Khusus (Otsus) seperti semua serta menuntut DPR Aceh dalam mengawasi realisasi anggaran Otsus dan transparansi anggaran ke seluruh sektor. Mahasiswa juga meminta pemerintah pusat mengevaluasi beberapa kebijakan.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut DPR RI untuk mengevaluasi dan mengawasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran dan tidak membebani keuangan negara.
Sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam aliansi Serikat Masyarakat Bergerak (Semarak) menggelar aksi demo #IndonesiaGelap di depan kantor Bupati Banyumas, Purwokerto, Rabu Kemarin. Mereka menyuarakan 10 tuntutan yang ditujukan ke pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Mereka membawa sejumlah spanduk, di antaranya bertulisan 'Sebuah Kekecewaan Republik Indonesia 1 Presiden Berbagai Insiden' dan 'Bikin Kebijakan Buat Oligarki Terus Ndasmu'.
Mengutp dari detikJateng, dalam aksinya, mahasiswa juga melantangkan yel-yel 'ganyang fufufafa'. "Ayo ayo ganyang fufufafa, ganyang fufufafa sekarang juga," seru mahasiswa berulang kali di halaman kompleks kantor Bupati Banyumas.
Aksi mahasiswa itu ditemui oleh 3 anggota DPRD Banyumas dari Fraksi PDIP dan Golkar. Mereka adalah Supangkat, Didi Rudianto, dan Ofan Sofyan. Selain turut membacakan tuntutan mahasiswa, ketiganya juga menandatangani dan menyatakan menerima tuntutan tersebut.
Adapun beberapa di antara 10 tuntutan mahasiswa itu adalah tolak pemerintahan gemuk yang dijalankan berdasarkan praktik KKN, menuntut pemerintahan dijalankan dengan sistem meritokrasi ang memerhatikan asas umum yang baik, hingga mencabut Inpres 1/2025 soal efisiensi anggaran yang mengancam sektor pendidikan.
Aksi mahasiswa 'Indonesia Gelap' juga terjadi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada Rabu kemarin.
Dalam aksi di depan Kantor DPDR Kota Tasikmalaya itu sempat terjadi bentrok antara mahasiswa dan polisi. Mengutip dari detikJabar, sejumlah polisi dan massa aksi mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini menggelar parade orasi. Secara bergantian mereka menyuarakan aspirasi dan pendapatnya. Benih keributan mulai muncul ketika massa aksi ingin masuk seluruhnya ke gedung DPRD. Namun pihak kepolisian dan DPRD meminta perwakilan.
Di titik ini suasana mulai memanas. Massa aksi mulai membakar ban dan merangsek ingin memaksa masuk. Aksi saling dorong tak terelakkan di gerbang utama kantor wakil rakyat ini.
Hujan deras yang mengguyur seakan tak mampu meredam emosi kedua pihak. Lemparan batu membuat setidaknya 3 polisi dan 1 mahasiswa terluka hingga harus dibawa ke rumah sakit. Beberapa titik kaca bangunan gedung DPRD pecah.
Di pihak lain, beberapa demonstran pun mengaku terkena pukulan pentungan polisi dan terhempas semprotan meriam air. Namun demikian pada akhirnya, pengerahan water cannon berhasil memecah konsentrasi massa.
Situasi kembali reda, polisi dan demonstran bisa kembali saling berkomunikasi meski di bawah guyuran hujan deras. Massa aksi akhirnya diperkenankan masuk meski hanya di halaman gedung DPRD. Mereka diterima oleh beberapa anggota DPRD untuk menyampaikan aspirasinya. Sekitar pukul 16.00 WIB, massa akhirnya membubarkan diri dan situasi kembali kondusif.
Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Jenuh Kalimantan Tengah (Gemuruh Kalteng) menggelar aksi 'Indonesia Gelap' di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya kemarin.
Mereka menyoroti berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat, khususnya di sektor pendidikan. Aksi itu diikuti berbagai elemen mahasiswa dan pelajar. Mulai dari BEM-SI Kalimantan Tengah, BEM UPR, BEM IAHN-TP Palangka Raya, DEMA IAIN Palangka Raya, serta sejumlah organisasi mahasiswa lainnya.
Koordinator Lapangan aksi, Fernando Fairsky menyampaikan, bahwa mahasiswa merasa jenuh dengan kebijakan pemerintah yang dinilai boros anggaran.
"Kami sudah jenuh dengan rezim hari ini yang membuat program boros anggaran, serta kabinet yang gemuk dan tidak efisien dalam tugas tugasnya," tegasnya mengutip dari detikSulsel.
Dalam aksi tersebut, Gemuruh Kalteng menyampaikan sejumlah tuntutan seperti menuntut penghapusan multifungsi TNI/Polri, mengesahkan Perppu Perampasan Aset atau RUU Perampasan Aset, dan menolak rencana revisi KUHAP dan UU Kejaksaan.
"Dan selanjutnya evaluasi Inpres nomor I Tahun 2025, peninjauan kembali program MBG, segera mengesahkan RUU Masyarakat Hukum Adat, dan mendesak efisiensi jumlah kabinet Merah Putih," sebutnya.
Aksi ini berlangsung tertib. Tuntutan mahasiswa pun diterima serta ditandatangani Ketua DPRD Kalteng, Arton S. Dohong dan Wakil Ketua DPRD Kalteng, Muhammad Ansyari. Mereka berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut ke DPR RI pada Senin, 24 Februari 2025.
Aksimahasiswa 'Indonesia Gelap' kembali bergulir pada Rabu (19/2) kemarin di sejumlah daerah setelah rangkaian demo hari pertama dan kedua pada Senin (17/2) dan Selasa (18/2) digelar di Jakarta hingga Makassar.
Aksi Indonesia Gelap kemarin digelar di antaranya di Banda Aceh (Aceh), Tasik Malaya (Jawa Barat), Solo (Jawa Tengah), hingga Palangka Raya (Kalimantan Tengah).
Dan, pada hari ini Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bakal menggelar puncak aksi "Indonesia Gelap" di Jakarta pada Kamis (20/2) ini. Selasa dan Rabu lalu tak ada aksi 'Indonesia Gelap' di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Selasa lalu, Koordinator BEM SI mengatakan tak ada aksi di Jakarta pada hari itu karena mereka menyerahkan konsolidasi di internasl masing-masing kampus untuk bersama-sama mempersiapkan aksi pada hari ini.
"Hari ini dimaksimalkan sama teman-teman buat konsolidasi masing-masing internal kampus," kata Herianto kepada CNNIndonesia.com, Selasa lalu.
"Karena Rabu teklap (teknis lapangan) baru Kamis-nya aksi di Istana," imbuhnya.
Puncak aksi itu pun berbarengan dengan rencana pelantikan hampir seribu orang kepala daerah hasil pilkada serentak 2024 oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta pada hari ini.
Berikut rangkuman aksi mahasiswa 'Indonesia Gelap' di sejumlah daerah di Indonesia pada Rabu kemarin.
Solo
Ratusan mahasiswa menggelar aksi 'Indonesia Gelap' di depan Kantor DPRD Kota Solo, Rabu lalu hingga memblokade jalan Adi Sucipto yang merupakan salah satu jalur utama di Kota Solo. Jalan tersebut merupakan akses utama dari Bandara Adi Soemarmo menuju Kota Solo.
Pantauan CNNIndonesia.com, aksi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Soloraya tetap berunjuk rasa di tengah guyuran hujan.
Mereka membentangkan spanduk berisi kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Di antaranya bertuliskan 'Indonesia Gelap' 'Tolak RUU TNI - Polri' hingga 'Adili Jokowi'.
Sepanjang aksi, mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi mahasiswa bergantian orasi di depan massa. Mereka menyoroti berbagai permasalahan yang sedang dialami masyarakat.
"Salah satunya efisiensi anggaran yang benar-benar merugikan rakyat," kata salah satu demonstran, Okta.
Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menilai efisiensi yang dilakukan pemerintah tidak direncanakan dengan matang, sehingga dampaknya justru merugikan masyarakat.
Demonstran juga menyoroti kerusakan hutan adat di berbagai daerah. Tak hanya merusak lingkungan, kerusakan hutan juga dianggap melanggar hak-hak masyarakat adat.
"Banyak teman dari Papua dan Kalimantan, Sumatera, banyak yang mengeluhkan mana hutan kita yang digunduli? Mereka mempertanyakan keadilan untuk masyarakat adat mereka," kata Okta.
Makassar menjadi salah satu kota yang konsisten berlangsung aksi 'Indonesia Gelap' dalam tiga hari terakhir. Pada Rabu lalu, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) menggelar aksi Indonesia Gelap di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) di Jalan AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan.
Mereka menuntut mencabut Inpres Nomor 1 tahun 2025 soal efisiensi anggaran dan mengevaluasi program makanan bergizi gratis.
Aksi mahasiswa berlangsung dengan memblokade jalan sambil membakar ban bekas, sehingga menimbulkan kemacetan panjang di depan kampus UNM.
Banda Aceh
Aksi 'Indonesia Gelap' digelar massa dari kelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh' di halaman DPR Aceh, Banda Aceh. Massa mendesak pemerintah pusat mengevaluasi Instruksi Presiden (Inpres) soal efisiensi anggaran serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIB, Rabu (19/2/2025) berakhir setelah sejumlah anggota DPR Aceh menerima tuntutan mereka. Peserta aksi dan pihak legislatif kompak duduk lesehan di bawah terik matahari.
Ada sejumlah poin tuntutan yang diteken Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USK 2025 Muhammad Ikram serta ketua umum BEM masing-masing fakultas. Anggota DPR Aceh ikut membubuhkan tandatangan pada lembar berisi tuntutan.
Dalam aksi itu, mahasiswa menuntut pengembalian dana Otonomi Khusus (Otsus) seperti semua serta menuntut DPR Aceh dalam mengawasi realisasi anggaran Otsus dan transparansi anggaran ke seluruh sektor. Mahasiswa juga meminta pemerintah pusat mengevaluasi beberapa kebijakan.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut DPR RI untuk mengevaluasi dan mengawasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran dan tidak membebani keuangan negara.
Aksi Indonesia Gelap dari Purwokerto hingga Palangka Raya
Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) akan menggelar aksi puncak unjuk rasa 'Indonesia Gelap' di sekitar Patung Arjuna Wijaya, Jakarta, Kamis (20/2). (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Purwokerto
Sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam aliansi Serikat Masyarakat Bergerak (Semarak) menggelar aksi demo #IndonesiaGelap di depan kantor Bupati Banyumas, Purwokerto, Rabu Kemarin. Mereka menyuarakan 10 tuntutan yang ditujukan ke pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Mereka membawa sejumlah spanduk, di antaranya bertulisan 'Sebuah Kekecewaan Republik Indonesia 1 Presiden Berbagai Insiden' dan 'Bikin Kebijakan Buat Oligarki Terus Ndasmu'.
Mengutp dari detikJateng, dalam aksinya, mahasiswa juga melantangkan yel-yel 'ganyang fufufafa'. "Ayo ayo ganyang fufufafa, ganyang fufufafa sekarang juga," seru mahasiswa berulang kali di halaman kompleks kantor Bupati Banyumas.
Aksi mahasiswa itu ditemui oleh 3 anggota DPRD Banyumas dari Fraksi PDIP dan Golkar. Mereka adalah Supangkat, Didi Rudianto, dan Ofan Sofyan. Selain turut membacakan tuntutan mahasiswa, ketiganya juga menandatangani dan menyatakan menerima tuntutan tersebut.
Adapun beberapa di antara 10 tuntutan mahasiswa itu adalah tolak pemerintahan gemuk yang dijalankan berdasarkan praktik KKN, menuntut pemerintahan dijalankan dengan sistem meritokrasi ang memerhatikan asas umum yang baik, hingga mencabut Inpres 1/2025 soal efisiensi anggaran yang mengancam sektor pendidikan.
Aksi mahasiswa 'Indonesia Gelap' juga terjadi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada Rabu kemarin.
Dalam aksi di depan Kantor DPDR Kota Tasikmalaya itu sempat terjadi bentrok antara mahasiswa dan polisi. Mengutip dari detikJabar, sejumlah polisi dan massa aksi mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini menggelar parade orasi. Secara bergantian mereka menyuarakan aspirasi dan pendapatnya. Benih keributan mulai muncul ketika massa aksi ingin masuk seluruhnya ke gedung DPRD. Namun pihak kepolisian dan DPRD meminta perwakilan.
Di titik ini suasana mulai memanas. Massa aksi mulai membakar ban dan merangsek ingin memaksa masuk. Aksi saling dorong tak terelakkan di gerbang utama kantor wakil rakyat ini.
Hujan deras yang mengguyur seakan tak mampu meredam emosi kedua pihak. Lemparan batu membuat setidaknya 3 polisi dan 1 mahasiswa terluka hingga harus dibawa ke rumah sakit. Beberapa titik kaca bangunan gedung DPRD pecah.
Di pihak lain, beberapa demonstran pun mengaku terkena pukulan pentungan polisi dan terhempas semprotan meriam air. Namun demikian pada akhirnya, pengerahan water cannon berhasil memecah konsentrasi massa.
Situasi kembali reda, polisi dan demonstran bisa kembali saling berkomunikasi meski di bawah guyuran hujan deras. Massa aksi akhirnya diperkenankan masuk meski hanya di halaman gedung DPRD. Mereka diterima oleh beberapa anggota DPRD untuk menyampaikan aspirasinya. Sekitar pukul 16.00 WIB, massa akhirnya membubarkan diri dan situasi kembali kondusif.
Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Jenuh Kalimantan Tengah (Gemuruh Kalteng) menggelar aksi 'Indonesia Gelap' di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya kemarin.
Mereka menyoroti berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat, khususnya di sektor pendidikan. Aksi itu diikuti berbagai elemen mahasiswa dan pelajar. Mulai dari BEM-SI Kalimantan Tengah, BEM UPR, BEM IAHN-TP Palangka Raya, DEMA IAIN Palangka Raya, serta sejumlah organisasi mahasiswa lainnya.
Koordinator Lapangan aksi, Fernando Fairsky menyampaikan, bahwa mahasiswa merasa jenuh dengan kebijakan pemerintah yang dinilai boros anggaran.
"Kami sudah jenuh dengan rezim hari ini yang membuat program boros anggaran, serta kabinet yang gemuk dan tidak efisien dalam tugas tugasnya," tegasnya mengutip dari detikSulsel.
Dalam aksi tersebut, Gemuruh Kalteng menyampaikan sejumlah tuntutan seperti menuntut penghapusan multifungsi TNI/Polri, mengesahkan Perppu Perampasan Aset atau RUU Perampasan Aset, dan menolak rencana revisi KUHAP dan UU Kejaksaan.
"Dan selanjutnya evaluasi Inpres nomor I Tahun 2025, peninjauan kembali program MBG, segera mengesahkan RUU Masyarakat Hukum Adat, dan mendesak efisiensi jumlah kabinet Merah Putih," sebutnya.
Aksi ini berlangsung tertib. Tuntutan mahasiswa pun diterima serta ditandatangani Ketua DPRD Kalteng, Arton S. Dohong dan Wakil Ketua DPRD Kalteng, Muhammad Ansyari. Mereka berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut ke DPR RI pada Senin, 24 Februari 2025.