Cerita soal Yoso Cs, Kucing-kucing 'Penguasa Balai Kota Jakarta'
CNN Indonesia
Rabu, 07 Mei 2025 06:31 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu kucing yang dipelihara swadaya di area kompleks Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (6/5).(CNN Indonesia/Kayla Nathaniel)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah hiruk pikuk kegiatan gubernur, wakil gubernur, aparatur sipil negara (ASN), dan warga di Balai KotaDKI Jakarta, sejumlah kucing berlalu-lalang, Selasa (6/5).
Kucing-kucing itu menjadi hiburan bagi para ASN dan masyarakat yang berkunjung ke pusat pemerintahan Pemprov DKI itu. Kawanan hewan itu terlihat kompak mengenakan kalung dengan nama mereka masing-masing--seolah mereka ada pemiliknya.
Nyatanya, kucing-kucing itu tak ada empunya, hanya memang dirawat sejumlah ASN di Balai Kota yang menyayangi hewan. Bahkan, kucing-kucing itu pun dibuatkan akun media sosial Instagram khusus dengan pengenalan profil atau bio yangmenggeletik: 'Penguasa sebenarnya Balaikota DKI Jakarta'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun sampai sempat pula mengunggah rasa penasarannya dengan kucing-kucing penguasa Balai Kota tersebut lewat fitur reel di akun Instagramnya @pramonoanungw pada Sabtu (29/3) lalu. Dalam percakapan dengan staf, Pramono menanyakan perawatan dan jumlah kucing di lingkungan Balai Kota.
"Nanti kalau ada biayanya enggak apa-apa, nanti saya yang tanggung. Tolong ya kesehatannya dijagain betul kucingnya. Pokoknya jangan sampai ada yang sakit lah," ujar Pramono dikutip dari rekaman video di unggahan reel Instagram tersebut.
Selasa siang kemarin, setidaknya ada empat ekor kucing terlihat sedang berleha-leha di area kompleks Balai Kota DKI.
Kucing yang dinamai Belang terlihat di sekitar Blok G Balai Kota, sementara yang dinamai Jojon tampak rebahan di dekat parkiran Blok B.
Seekor lainnya, Mody, berlalu lalang di sekitar Masjid Fatahillah. Sementara Diki tampak tertidur pulas di tangga Blok B.
Menurut salah satu petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Balai Kota Jakarta, Elvira, hewan-hewan kaki empat sudah lama hidup berdampingan dengan aktivitas pemerintahan di Balai Kota.
"Sudah ada sejak lama, tepatnya kapan juga kurang tahu karena saat itu jumlah masih sangat sedikit, hanya beberapa ekor saja. Mereka dibiarkan bebas menelusuri sudut area Balai Kota yang cukup luas, tapi ada beberapa yang punya spot nongkrong sendiri juga," kata Elvira saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, kemarin.
Hingga saat ini, tak ada tim resmi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang ditugaskan secara khusus untuk merawat kucing-kucing di balai kota tersebut.
"Untuk tim belum ada sih, dari awal sampai saat ini masih handle berdua saja sama teman yang emang sayang juga sama kucing," ucapnya.
Elvira mengaku untuk biaya perawatan sejauh berasal dari dana pribadi dan dibantu sumbangan sukarela pecinta kucing.
"Dulu di saat jumlah belum banyak, biaya semua murni dari pribadi. Tapi karena sekarang jumlah makin banyak, jadi mulai dibantu dari fans 'geng pus' via share link iuran sukarela di Instagram. Dan belum pernah ditanggung sama Pemprov," ungkapnya.
Walaupun tergolong kucing liar, kucing-kucing di Balaikota DKI tetap dijaga kesehatannya dan bahkan sampai diberi kalung nama oleh relawan. (CNN Indonesia/Kayla Nathaniel)
Yoso jadi ikon
Kehadiran para kucing-kucing itu disebut memberi warna tersendiri di lingkungan Balai Kota. Elvira mengatakan kucing-kucing 'penguasa sebenarnya balai kota' itu pun ada yang kemudian dikenal sebagai ikon tersendiri dari kantor gubernur tersebut, salah satunya Yoso.
"Kucing paling dicari di sini namanya Yoso, kucing jantan usianya udah 7 tahunan. Dulu ditemui saat dia sakit saluran kemih (FLUTD/FIP), tapi sekarang sudah sehat dan gemoy. Tingkahnya juga lucu, jadi banyak yang cari dia kalau ke sini," katanya.
"Buat saya sendiri dan mungkin para staf yang cat lovers mungkin jadi hiburan di hari kerja. Dan beberapa juga ada yang mungkin kurang suka, tapi mereka tetap baik sama kucing-kucing di sini," ujarnya.
Meski tidak ada kebijakan resmi dari Pemprov untuk menjaga kucing-kucing di Balai Kota, kehadiran hewan mamalia menggemaskan itu dianggapnya bisa membawa dampak positif.
"Semenjak mereka banyak fans, Balai Kota juga jadi punya citra baik di masyarakat karena berdampingan dengan kucing dan dirawat juga kucingnya," ujar Elvira.
Hingga kini, perkembangan para kucing Balai Kota dapat dipantau lewat akun Instagram @balaicatto, yang secara rutin membagikan aktivitas mereka.
Elvira mengatakan kucing-kucing di Balai Kota itu meskipun tergolong kucing liar tetap disteril dan divaksinasi. Semua kucing dalam kondisi sehat dan beberapa bahkan ada yang sudah pernah diadopsi untuk jadi peliharaan seseorang.
"Alhamdulillah semua sehat dan gemoy-gemoy juga. Ada [kucing] yang sudah diadopsi, namanya Nero, dengan kondisi sehat dan sudah steril juga," tambahnya.
Untuk urusan vaksinasi dan sterilisasi, para relawan bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta. Kepala Dinas KPKP, Suharini Eliawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI dalam pengendalian populasi dan peningkatan kesejahteraan hewan.
"Sebagai tindak lanjut dari komitmen Bapak Gubernur Provinsi DKI Jakarta terhadap pengendalian populasi hewan dan peningkatan kesejahteraan hewan, Dinas KPKP telah melaksanakan kegiatan sterilisasi kucing di lingkungan Balai Kota Jakarta berkolaborasi dengan komunitas penyayang hewan," ujarnya Suharini saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Saat ini, terdapat sekitar 22 ekor kucing yang telah disteril dan divaksin rabies. Namun, jumlah ini belum termasuk kucing pendatang yang kerap singgah untuk makan.
"Total sebanyak 22 ekor kucing di Balai Kota Jakarta telah disterilisasi. Selain sterilisasi, kucing-kucing tersebut juga rutin diberikan vaksinasi rabies," lanjutnya.
Sterilisasi dilakukan melalui pendekatan Tangkap, Steril, Lepas (TSL) dengan memerhatikan aspek kesehatan hewan. Saat ini, Dinas KPKP juga merencanakan sterilisasi tambahan untuk sekitar 10 ekor kucing baru.
"Melalui langkah ini, diharapkan populasi kucing dapat dikendalikan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan hewan itu sendiri, sekaligus menjadi contoh praktik pengelolaan populasi hewan yang bertanggung jawab di lingkungan perkantoran," jelas Suharini.
Tak berhenti di situ, Pemprov DKI Jakarta juga tengah membuka wacana pengembangan wisata bertema kucing di Kepulauan Seribu. Gubernur Pramono menyebut kemungkinan pembentukan Pulau Kucing, meniru konsep serupa di Jepang.
Wacana ini kemudian ditindaklanjuti Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, yang mengungkapkan bahwa Pulau Tidung Kecil dinilai sebagai lokasi paling cocok setelah survei ke empat pulau di kawasan tersebut.
"Pulau Kucing ini akan dikelola secara profesional dengan mengutamakan kesehatan, perawatan, dan kebutuhan lainnya, sehingga bisa dinikmati wisatawan," ujar Fadjar, Selasa (22/4).
Di tengah hiruk pikuk kegiatan gubernur, wakil gubernur, aparatur sipil negara (ASN), dan warga di Balai KotaDKI Jakarta, sejumlah kucing berlalu-lalang, Selasa (6/5).
Kucing-kucing itu menjadi hiburan bagi para ASN dan masyarakat yang berkunjung ke pusat pemerintahan Pemprov DKI itu. Kawanan hewan itu terlihat kompak mengenakan kalung dengan nama mereka masing-masing--seolah mereka ada pemiliknya.
Nyatanya, kucing-kucing itu tak ada empunya, hanya memang dirawat sejumlah ASN di Balai Kota yang menyayangi hewan. Bahkan, kucing-kucing itu pun dibuatkan akun media sosial Instagram khusus dengan pengenalan profil atau bio yangmenggeletik: 'Penguasa sebenarnya Balaikota DKI Jakarta'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun sampai sempat pula mengunggah rasa penasarannya dengan kucing-kucing penguasa Balai Kota tersebut lewat fitur reel di akun Instagramnya @pramonoanungw pada Sabtu (29/3) lalu. Dalam percakapan dengan staf, Pramono menanyakan perawatan dan jumlah kucing di lingkungan Balai Kota.
"Nanti kalau ada biayanya enggak apa-apa, nanti saya yang tanggung. Tolong ya kesehatannya dijagain betul kucingnya. Pokoknya jangan sampai ada yang sakit lah," ujar Pramono dikutip dari rekaman video di unggahan reel Instagram tersebut.
Selasa siang kemarin, setidaknya ada empat ekor kucing terlihat sedang berleha-leha di area kompleks Balai Kota DKI.
Kucing yang dinamai Belang terlihat di sekitar Blok G Balai Kota, sementara yang dinamai Jojon tampak rebahan di dekat parkiran Blok B.
Seekor lainnya, Mody, berlalu lalang di sekitar Masjid Fatahillah. Sementara Diki tampak tertidur pulas di tangga Blok B.
Menurut salah satu petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) Balai Kota Jakarta, Elvira, hewan-hewan kaki empat sudah lama hidup berdampingan dengan aktivitas pemerintahan di Balai Kota.
"Sudah ada sejak lama, tepatnya kapan juga kurang tahu karena saat itu jumlah masih sangat sedikit, hanya beberapa ekor saja. Mereka dibiarkan bebas menelusuri sudut area Balai Kota yang cukup luas, tapi ada beberapa yang punya spot nongkrong sendiri juga," kata Elvira saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, kemarin.
Hingga saat ini, tak ada tim resmi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang ditugaskan secara khusus untuk merawat kucing-kucing di balai kota tersebut.
"Untuk tim belum ada sih, dari awal sampai saat ini masih handle berdua saja sama teman yang emang sayang juga sama kucing," ucapnya.
Elvira mengaku untuk biaya perawatan sejauh berasal dari dana pribadi dan dibantu sumbangan sukarela pecinta kucing.
"Dulu di saat jumlah belum banyak, biaya semua murni dari pribadi. Tapi karena sekarang jumlah makin banyak, jadi mulai dibantu dari fans 'geng pus' via share link iuran sukarela di Instagram. Dan belum pernah ditanggung sama Pemprov," ungkapnya.
Walaupun tergolong kucing liar, kucing-kucing di Balaikota DKI tetap dijaga kesehatannya dan bahkan sampai diberi kalung nama oleh relawan. (CNN Indonesia/Kayla Nathaniel)
Yoso jadi ikon
Kehadiran para kucing-kucing itu disebut memberi warna tersendiri di lingkungan Balai Kota. Elvira mengatakan kucing-kucing 'penguasa sebenarnya balai kota' itu pun ada yang kemudian dikenal sebagai ikon tersendiri dari kantor gubernur tersebut, salah satunya Yoso.
"Kucing paling dicari di sini namanya Yoso, kucing jantan usianya udah 7 tahunan. Dulu ditemui saat dia sakit saluran kemih (FLUTD/FIP), tapi sekarang sudah sehat dan gemoy. Tingkahnya juga lucu, jadi banyak yang cari dia kalau ke sini," katanya.
"Buat saya sendiri dan mungkin para staf yang cat lovers mungkin jadi hiburan di hari kerja. Dan beberapa juga ada yang mungkin kurang suka, tapi mereka tetap baik sama kucing-kucing di sini," ujarnya.
Meski tidak ada kebijakan resmi dari Pemprov untuk menjaga kucing-kucing di Balai Kota, kehadiran hewan mamalia menggemaskan itu dianggapnya bisa membawa dampak positif.
"Semenjak mereka banyak fans, Balai Kota juga jadi punya citra baik di masyarakat karena berdampingan dengan kucing dan dirawat juga kucingnya," ujar Elvira.
Hingga kini, perkembangan para kucing Balai Kota dapat dipantau lewat akun Instagram @balaicatto, yang secara rutin membagikan aktivitas mereka.
Salah satu kucing yang dipelihara swadaya di area kompleks Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (6/5).(CNN Indonesia/Kayla Nathaniel)
Elvira mengatakan kucing-kucing di Balai Kota itu meskipun tergolong kucing liar tetap disteril dan divaksinasi. Semua kucing dalam kondisi sehat dan beberapa bahkan ada yang sudah pernah diadopsi untuk jadi peliharaan seseorang.
"Alhamdulillah semua sehat dan gemoy-gemoy juga. Ada [kucing] yang sudah diadopsi, namanya Nero, dengan kondisi sehat dan sudah steril juga," tambahnya.
Untuk urusan vaksinasi dan sterilisasi, para relawan bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta. Kepala Dinas KPKP, Suharini Eliawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI dalam pengendalian populasi dan peningkatan kesejahteraan hewan.
"Sebagai tindak lanjut dari komitmen Bapak Gubernur Provinsi DKI Jakarta terhadap pengendalian populasi hewan dan peningkatan kesejahteraan hewan, Dinas KPKP telah melaksanakan kegiatan sterilisasi kucing di lingkungan Balai Kota Jakarta berkolaborasi dengan komunitas penyayang hewan," ujarnya Suharini saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Saat ini, terdapat sekitar 22 ekor kucing yang telah disteril dan divaksin rabies. Namun, jumlah ini belum termasuk kucing pendatang yang kerap singgah untuk makan.
"Total sebanyak 22 ekor kucing di Balai Kota Jakarta telah disterilisasi. Selain sterilisasi, kucing-kucing tersebut juga rutin diberikan vaksinasi rabies," lanjutnya.
Sterilisasi dilakukan melalui pendekatan Tangkap, Steril, Lepas (TSL) dengan memerhatikan aspek kesehatan hewan. Saat ini, Dinas KPKP juga merencanakan sterilisasi tambahan untuk sekitar 10 ekor kucing baru.
"Melalui langkah ini, diharapkan populasi kucing dapat dikendalikan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan hewan itu sendiri, sekaligus menjadi contoh praktik pengelolaan populasi hewan yang bertanggung jawab di lingkungan perkantoran," jelas Suharini.
Tak berhenti di situ, Pemprov DKI Jakarta juga tengah membuka wacana pengembangan wisata bertema kucing di Kepulauan Seribu. Gubernur Pramono menyebut kemungkinan pembentukan Pulau Kucing, meniru konsep serupa di Jepang.
Wacana ini kemudian ditindaklanjuti Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, yang mengungkapkan bahwa Pulau Tidung Kecil dinilai sebagai lokasi paling cocok setelah survei ke empat pulau di kawasan tersebut.
"Pulau Kucing ini akan dikelola secara profesional dengan mengutamakan kesehatan, perawatan, dan kebutuhan lainnya, sehingga bisa dinikmati wisatawan," ujar Fadjar, Selasa (22/4).