Sultan HB X Kumpulkan Rektor Respons Gelombang Aksi di Yogya

CNN Indonesia
Senin, 01 Sep 2025 00:52 WIB
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengundang rektor perguruan tinggi untuk membahas situasi sosial. Dia mendorong demokratisasi tanpa kekerasan.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X mengundang para rektor atau perwakilan rektorat dari sepuluh perguruan tinggi di wilayahnya, Minggu (31/8) malam. (CNN Indonesia/Kum)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X mengundang para rektor atau perwakilan rektorat dari sepuluh perguruan tinggi di wilayahnya, Minggu (31/8) malam.

Mereka yang hadir adalah rektor atau wakil rektor dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Institut Seni Indonesia (ISI).

Lalu Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Sanata Dharma (USD), dan Universitas Amikom Yogyakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan antara Sultan dan para petinggi kampus digelar di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan atau Kantor Gubernur DIY sejak pukul 19.30 WIB hingga sekitar pukul 22.15 WIB.

Sultan mengatakan pertemuan dilaksanakan demi menyamakan persepsi di tengah situasi yang memanas di berbagai daerah, termasuk salah satunya Yogyakarta.

"Harapan saya untuk bisa memberikan pemahaman, menyampaikan aspirasi boleh, tidak ada yang melarang ya seperti yang saya sampaikan, untuk menumbuhkan demokratisasi di Jogja itu dengan baik dengan sopan bukan dengan kekerasan yang ada. Saya ingin bapak-bapak rektor ini juga bisa mengarahkan mahasiswa," kata Sultan, Minggu malam.

Bukan cuma perguruan tinggi, Sultan menyebut jajarannya juga sudah berkoordinasi dengan dinas pendidikan agar para pelajar SMA, bahkan SMP tidak membolos sekolah untuk mengikuti aksi turun ke jalan.

"Karena tugasnya itu anak-anak ini bersekolah. Kalau yang dewasa untuk menyampaikan aspirasi kan sudah waktunya juga tidak bisa kita melarang. Tapi bagaimana demokrasi dibangun dengan itikad baik tanpa harus ada korban maupun juga kerusakan kerusakan yang sifatnya anarkis, itu saja kesepakatannya," ujarnya.

Sultan tak menyampaikan imbauan khusus kepada para petinggi kampus perihal kemungkinan digelarnya kembali aksi unjuk rasa pada Senin 1 September. Dia hanya berharap agenda demi berjalan aman, lancar, dan aspirasi tersampaikan.

Raja Keraton Yogyakarta itu telah mendengar kabar mengenai Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta yang diduga meninggal saat mengikuti aksi di Mapolda DIY, Minggu (31/8).

Sultan mengklain dirinya telah meminta Kapolda DIY, Irjen Pol Anggoro Sukartono agar mendalami peristiwa itu.

"Saya sudah menyampaikan sama Pak Kapolda untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. Itu saja, karena mereka yang punya kewajiban," ujarnya.

Wakil Rektor UGM, Arie Sujito mengatakan kampusnya tak akan melarang mahasiswanya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi. Namun, kampusnya berpesan supaya menghindari tindak kekerasan.

"Ajakan Bapak Gubernur pada para rektor dan wakil rektor agar meyakinkan kalangan mahasiswa bahwa kita akan lindungi para mahasiswa itu. Pada saat yang sama kita harus memperkuat agar ini tidak bisa destruktif," ujarnya.

Arie mengatakan Sultan meminta para mahasiswanya untuk mundur apabila situasi sudah tidak kondusif.

Arie juga berujar kampusnya memberlakukan sistem pembelajaran daring bagi para mahasiswanya mulai tanggal 1 sampai 4 September 2025. Kebijakan ini diambil seiring dengan perkembangan situasi sosial dan politik, serta terjadinya rangkaian gelombang unjuk rasa di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta.

"Supaya sebetulnya meminimalisasi risiko, bukan sesuatu yang horror," katanya.

Sementara itu Rektor UII, Fathul Wahid mengatakan jika kampusnya menjamin kebebasan bagi para mahasiswanya untuk bersuara. Pada saat bersamaan, dia menggarisbawahi tradisi penyampaian aspirasi di Yogya yang selalu damai harus dirawat bersama.

Antarkampus di DIY telah bersepakat untuk menopang, saling bantu, dan melindungi agar tak ada provokasi.

"Sehingga kalau ada anarkisme, biasanya kita langsung bertanya-tanya. Siapa di belakang itu, karena biasanya penyampaian aspirasi di Jogja hampir selalu dengan damai," ujarnya.

(fra/kum/fra)


[Gambas:Video CNN]
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER