Densus 88: Paham Neo Nazi-White Supremacy Meningkat Pasca Covid-19
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyebut penyebaran paham ideologi kekerasan ekstrem seperti Neo Nazi dan White Supremacy meningkat pascapandemi Covid-19.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana mengatakan penyebaran paham itu terjadi secara luas melalui media sosial di pelbagai negara.
"Memang terjadi lonjakan. Pasca Covid-19 terjadi lonjakan angka yang luar biasa tajam. Ini terjadi di beberapa negara tidak hanya di Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia lantas memaparkan sejumlah aksi kekerasan ekstrem yang dilakukan anak-anak akibat paham Neo Nazi dan White Supremacy yang terjadi di sepanjang tahun 2025.
Salah satunya dilakukan Anderson Solomon (17) di Antioch High School pada 22 Januari 2025, yang disebut terpapar paham supremasi kulit putih dan membenci identitas rasnya sendiri.
Kemudian Trinity Shopley (18) yang berencana melakukan penembakan di sebuah sekolah di Indiana pada Februari 2025. Kasus lain terjadi pada Agustus 2025, ketika Robin M. Westman (23) melakukan penembakan di gereja Katolik saat ibadah berlangsung karena obsesinya membunuh anak-anak.
"Di Colorado, pelaku Desmond Holley (16) melakukan penembakan di Evergreen High School pada September 2025 karena terpapar paham antisemitisme," jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti aksi teror yang dilakukan remaja asal Moscow, Rusia bernama Timofey F (15) yang diduga terinspirasi ledakan bom di SMAN 72 Jakarta.
Ia menjelaskan penusukan yang terjadi di Odintsovo, Moscow, Rusia itu menyebabkan satu anak tewas dan seorang petugas keamanan mengalami luka.
Mayndra mengatakan dugaan terinspirasi itu didukung temuan tulisan 'Jakarta Bombing 2025' yang ditulis oleh pelaku pada gagang senjata miliknya.
"Di gagang senjata pelaku penusukan di Moscow, tertulis 'Jakarta Bombing 2025'. Tulisan itu kemudian diambil gambarnya dan diunggah ke komunitas tertentu," jelasnya.
Menurutnya temuan ini juga menjadi bukti penyebaran paham atau ideologi kekerasan ekstrem terjadi secara lintas negara melalui ruang digital.
"Ini memperlihatkan bahwa aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi. Ada proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi melalui komunitas dan media sosial," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]