Bangun Sinergi Wujudkan Kabupaten Lestari dan Sejahtera
Sebanyak sembilan kabupaten yang tergabung dalam forum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) menyatakan siap berkolaborasi dalam upaya mewujudkan kabupaten lestari, yang menjaga lingkungan dan menyejahterakan masyarakat melalui pendekatan kolaborasi multipihak..
Kolaborasi tersebut antara lain guna mewujudkan transformasi ekonomi di tingkat tapak yakni ekonomi yang bertumbuh dan memulihkan, dengan keyakinan bahwa sumber daya alam sebagai fondasi kesejahteraan dalam jangka panjang.
Ketua Umum LTKL, Moh. Rizal Intjenae yang merupakan Bupati Sigi, Sulawesi Tengah menyatakan, ekonomi ekstraktif, eksploitatif, dan berorientasi jangka pendek tak lagi relevan dalam konteks pembangunan saat ini.
Menurutnya, model lama itu justru meningkatkan kerentanan, memperparah krisis, dan menempatkan generasi kini dalam bahaya.
"Kabupaten-kabupaten yang tergabung dalam Lingkar Temu Kabupaten Lestari menyadari hal itu dan memutuskan untuk bergerak dan bertransformasi. Kita beralih dari pendekatan yang terfragmentasi menuju visi bersama yang menempatkan keberlanjutan sebagai arus utama pembangunan. Transformasi ini bukan sekadar perubahan kebijakan, tetapi perubahan cara berpikir dan cara bekerja," tutur Rizal.
Dalam implementasinya, LTKL menerapkan model ekonomi barumelalui lima prinsip utama, yakni adanya ambang batas ekologis, melindungi dan memulihkan, penambahan nilai dari model ekonomi, inklusivitas dan adopsi budaya lokal, serta pendekatan berbasis data dan sains.
Di bawah payung organisasi yang berbasis forum seperti LTKL, kabupaten-kabupaten seperti Sigi di Sulawesi Tengah, Siak di Riau, serta Sintang di Kalimantan Barat membangun sistem ekonomi lokal berbasis alam, juga memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga media.
Di Siak, ada inovasi produk ramah gambut dan inkubator bisnis kreatif SKELAS yang digerakkan warga muda setempat. Sejak 2023, SKELAS berhasil melakukan inkubasi terhadap 27 bisnis lokal dan lestari. Salah satunya adalah Pinaloka, yakni sentra produksi nanas yang bekerja sama dengan petani lokal untuk budidaya nanas di lahan gambut yang menggunakan metode pertanian.
Saat ini, Pinaloka sudah menghasilkan ragam produk turunan dan telah mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia. Selain itu, juga terdapat inovasi berbasis gambut yang melibatkan 160 warga di tiga desa, 34 riset, dan berdampak pada 76.744 hektare gambut. Produk albumin dari ikan toman hasil budidaya ramah gambut kini dijual di 141 apotek yang diinisiasi oleh Alam Siak Lestari
Di Sintang, dari daerah yang pernah mengalami banjir buruk beberapa tahun lalu, muncul usaha-usaha yang memulihkan hutan. Komunitas masyarakat setempat kini mengolah tengkawang, madu, dan komoditas hutan lainnya, dengan menggunakan pendekatan agroforestri dan pengetahuan lokal tentang zonasi lahan. Inisiatif kelompok muda di Sintang, Semesta Sintang Lestari, membangun inovasi produk dari olahan tepung ikan gabus dan toman menjadi biskuit untuk balita sebagai bentuk strategi preventif untuk stunting.
Sementara di Sigi, warga menanam kopi, kakao, vanila, dan komoditas hutan non-kayu dalam sistem agroforestri dengan tetap menjaga tutupan hutan. Rantai pasoknya digambarkan lengkap, mulai dari kebun, area pemrosesan dan pengolahan, hingga akses pasar lokal bahkan nasional dengan skema pembiayaan yang inovatif dengan membangun model 'trading hub' dan Inkubator lokal bernama Gampiri Interaksi Lestari
Selain itu, LTKL juga bergerak di kabupaten anggota lain, seperti Aceh Tamiang, Musi Banyuasin, Sanggau, Kapuas Hulu, Gorontalo, dan Bone Bolango. LTKL terus mendorong sinyal perubahan ekonomi basis alam melalui pintu masuk yang disesuaikan dengan potensi di tiap kabupaten.
Blueprint dari Kabupaten untuk Indonesia
Tahun 2030 dicanangkan sebagai transformasi para anggota LTKL untuk menjadi kabupaten lestari yang mampu mengelola sumber daya alam dan tata kelola lahan secara berkelanjutan, dan kabupaten mandiri yang memiliki kemandirian fiskal dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
Dalam hal ini, LTKL berperan membantu anggota menemukan model kabupaten lestari dan mandiri berdasarkan karakteristik, potensi dan sumber daya yang dimiliki masing-masing kabupaten.
LTKL sendiri menargetkan dapat menghasilkan blueprint Kabupaten Lestari Indonesia pada 2030, sebagai panduan pembangunan lestari yang bisa diadaptasi oleh kabupaten lainnya. Kepala Sekretariat LTKL, Ristika Putri Istanti mengatakan, blueprint akan dirancang melalui proses pembelajaran yang panjang dan dapat digunakan untuk disesuaikan, dan ditumbuhkan sesuai karakter setiap daerahnya.
"Dari hutan yang hilang hingga bencana yang datang, kita belajar: solusi harus lahir dari tapak. Saat alam dijaga, tanah dipulihkan, dan manusia diperkuat melalui kolaborasi dan inovasi, masa depan yang lestari dan sejahtera bukan sekadar mimpi, tetapi arah yang kita bangun bersama ," kata Ristika.
LTKL membuktikan, perubahan besar tak selalu datang dari ibu kota atau institusi besar. Dengan visi menuju 2030, gerakan ini tidak hanya menjadi forum kabupaten, tapi juga sebuah imajinasi yang menjadi nyata, yakni bahwa pembangunan bisa manusiawi dengan alam sebagai sumber kesejahteraan, dan masa depan Indonesia yang dibangun dari tapak dengan cara lestari.
Upaya mendorong perubahan di tingkat tapak kini mulai mendapat pengakuan global. Melalui Ristika Putri Istanti sebagai Kepala Sekretariat, LTKL terpilih dalam Big Bets Fellowship oleh The Rockefeller Foundation. Inisiatif yang dikembangkan dinilai sebagai solusi terbukti yang berpotensi menciptakan dampak besar ketika diperluas-sebuah langkah penting menuju transformasi pembangunan daerah yang lestari dan menyejahterakan.
"Ini adalah ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi memulihkan ekosistem, menghidupkan kembali budaya lokal, menjaga batas alam, dan memastikan kesejahteraan yang adil," tutup Ristika.
(rea/rir)